Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

Sumber foto : dokumentasi pribadi

Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

Kemarin sewaktu menjemput Jehan pulang sekolah, aku berkesempatan berbincang sedikit dengan Ibu Guru Hikmah, walikelas Jehan. Ada satu hal yang bagiku penting untuk ditanyakan. Aku ingin bertanya tentang perkembangan Jehan selama di kelas sejak masuk TK A di bulan Juli 2019.

Beliau menjawab, “Jehan aktif dan empatinya besar ke teman-temannya.”

MasyaAllah … alhamdulillah, jawaban ibu guru diluar dugaanku. Karena yang kubayangkan adalah kemandirian Jehan selama ini. Sebab dari hari pertama masuk sekolah, ia sama sekali tidak aku temani.

Bahkan hari pertama cukup diantar ayah lalu ditinggal pulang. Untuk kemudian aku yang menjemputnya diwaktu pulang sekolah. Padahal ia anak bungsu dan baru saja memasuki usia 5 tahun. Tetapi sudah bisa belajar berani berpisah dari ayah dan bunda.

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak perempuan, tentulah aku bahagia dan bersyukur mengetahui Jehan memiliki empati yang besar.

Bullmer berpendapat bahwa empati adalah suatu proses yang terjadi ketika seseorang dapat merasakan perasaaan orang lain dan menangkap arti perasaan tersebut, lalu dikomunikasikan dengan kepekaan yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa orang tersebut sungguh – sungguh mengerti perasaan orang lain.
(https://dosenpsikologi.com/pengertian-empati-menurut-para-ahli. Diakses 18 September 2019).

Empati pada anak, terlebih pada balita (bayi lima tahun) tidak bisa serta merta tumbuh begitu saja. Melainkan melalui proses panjang merasakan dan menirulakukan keseharian kedua orangtuanya.

Hasil anak menirulakukan, itu berarti aku dan suami berjuang memberi contoh berempati terlebih dulu kepada anak. Perjuangan panjang itu dimulai saat menghadapi anak menangis.

Mengapa aku katakan perjuangan panjang?

Sebab aku memiliki trauma masa kecil yang pernah menangis selama 2 jam. Tanpa ada seorangpun menolong apalagi mememelukku. Hal ini membuatku pernah sangat membenci keadaan anakku yang menangis. Ada keinginan kuat untukmengabaikannya (membiarkan) begitu saja saat anakku sedang menangis. Toh, nanti akan diam sendiri. Begitu kata banyak ibu yang juga merasakan hal yang sama denganku.

Ya, trauma masa kecil itu pernah membuatku enggan memeluk dan menenangkan anakku yang sedang menangis.

Jadi, benar-benar butuh perjuangan keras untuk mengendalikan penolakan dalam diriku sendiri. Lalu mencoba memeluk anakku sampai tangisnya reda dan lega. Perjuangan luar biasa bagiku untuk menerima trauma itu. Hanya demi memberi contoh nyata kepada Tyaga dan Jehan.

Tentang contoh yang sebaiknya dilakukan kepada anggota keluarga dan juga sesama saat mereka sedang bersedih. Dan ternyata berjuang memeluk anakku yang sedang menangis justru menjadi semacam penyembuhan trauma masa kecilku sendiri.

Dengan memangku dan memeluk anakku yang sedang menangis, aku sekaligus memenuhi kebutuhan jiwa masa kecilku yang haus pelukan. Aku membayangkan mendatangi jiwa masa kecilku dan memeluknya yang sedang menangis sendirian selama 2 jam. Memeluk erat dan hangat. Mengusap rambutnya. Mengelus punggungnya sampai ke tulang ekor. Ada rasa damai menelusup di kalbuku.

Pesan yang terus menerus kubisikkan di telinga Tyaga atau Jehan untuk menancapkan arti empati dalam arti sederhana menurut pemikiran balita kala itu, “nanti kalau ada yang menangis, Mas atau Dede perbuat seperti yang Bunda perbuat ini juga ya. Dipeluk. Disayang. Sampai tangisnya reda. Sampai dadanya lega.”

Dan juga contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menawarkan bantuan pada Tyaga atau Jehan batita yang kesulitan mengerjakan sesuatu sendiri. Saat sedang belajar mandiri. Akhirnya pelan-pelan proses panjang itu membuahkan hasil.

Alhamdulillah seperti yang terlihat pada foto yang diambil di bulan April 2018. Saat Jehan masih berusia 3 tahun 8 bulan. Dengan sigap terlihat ia membawakan tisu dan menghapus air mata masnya yang sedang menangis.

Mungkin seperti itu juga yang Jehan lakukan di kelasnya. Menghibur teman saat teman sedang bersedih. Memberi bantuan saat teman kesusahan. MasyaAllah. Teruslah bertumbuh jadi anak perempuan dengan empati tinggi, Nak. Agar kelak kau menjadi ibu yang bisa berempati kepada kaummu sesama ibu. Tidak saling nyinyir dan menghakimi seperti yang sering terjadi di media sosial selama ini.

Sebab anak tak butuh nasihat panjang lebar. Anak hanya butuh perbuatan nyata kedua orang tuanya. Untuk itu berilah contoh nyata berempati pada anak. Dengan cara sederhana, yaitu mengenalkan berbagai macam emosi, seperti marah, sedih, kecewa, bingung dan lain-lain.

Lalu memahami dan menerima emosi dan perasaan anak tersebut. Kemudian memberi contoh berkasih sayang pada anggota keluarga di rumah. Kemudian peduli dan segera menawarkan atau memberi pertolongan saat ada yang kesusahan.

Bisa juga dengan mengajak anak memberi sedekah langsung kepada yang membutuhkan. Menunjukkan rasa sayang pada hewan dan tumbuhan juga bisa menjadi media pembelajaran menumbuhkan empati pada anak.

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 18 September 2019
Menulis adalah rekam jejak digital pembelajaran diriku sendiri dan juga anak-anakku.

Sumber foto : koleksi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari

2 comments

Comments are closed.