Metode Mathernal Reflektif Untuk Anak Mendengar.

Kreatif by canvas

Berawal dari sebuah chat seorang teman tentang anaknya yang kalau diajak belajar malah minta kegiatan lain.

Jadi kepikiran, selama ini kita yang mengatur materi pembelajaran untuk anak (baik anak di rumah maupun peserta didik di sekolah 🤭). Padahal semua anak dijamin tidak suka metode ini.

Mereka seperti robot, harus mengikuti kemauan kita (sebagai orang tua atau guru).

Kenapa tidak kita yang mengikuti mereka ?, Mencari tahu apa yang ingin diketahui anak. Tentu hasil belajar akan lebih baik, karena berawal dari keinginan mereka mengetahui sesuatu, daripada kita memaksa anak mempelajari sesuatu, apalagi memaksa mereka mempelajari sesuatu yang tidak mereka sukai.

Berdalih tuntutan kurikulum, kita sering mengabaikan hak anak. Kita seperti penjajah yang mengharuskan anak mengikuti kemauan kita. Wow, bisa dibayangkan betapa tertekannya anak.

Metode mathernal reflektif (MMR), merupakan metode pembelajaran untuk peserta didik berkebutuhan pendengaran (Tunarungu) yang digagas oleh Dr. A Van Uden. Metode ini mengedepankan model pembelajaran ibu kepada anaknya. Dimana ibu berperan aktif memberi rangsangan kepada anaknya dengan membangun komunikasi secara langsung berupa pertanyaan pada aktivitas sehari-hari yang dialami anak.

MMR memang di desain untuk peserta didik berkebutuhan pendengaran, tapi tidak ada salahnya kalau kita menerapkan metode ini pada anak mendengar.

Penerapan MMR seperti kegiatan percakapan yang dilakukan antara ibu dan anak yang belum bisa berbahasa. Materi dalam MMR berasal dari anak. Contohnya saat anak melihat dan tertarik kupu-kupu, materi pembelajaran hari itu bisa diisi kupu-kupu.

Langkah-langkah penerapan MMR adalah :

1. perdati (percakapan dari hati ke hati).

Saat anak minta membaca kisah nabi padahal besok mata pelajaran disekolahnya matematika, tidak masalah jika kita bacakan kisah nabi terlebih dahulu. Di dalam kisah, kita bisa sambungkan kisah tokohnya sedang belajar berhitung.

2. Percami (percakapan membaca ideovisual).

Hasil perdati divisualisasikan dalam bentuk tulisan, peraga, maupun gambar. Materi pembelajaran yang dipelajari divisualkan, sehingga anak semakin tertarik untuk belajar dan materi termemori.

3. Percakapan linguistik (percak) yaitu mengajak anak berbicara sesuai dengan kaidah bahasa yang benar.

Yuk, mencoba mencari kesukaan anak, membimbing, mengarahkan dan memberi yang terbaik untuk mereka.

Rumahmediagrup/srisuprapti