Mimpi aja kok repot

By. Gina Imawan

Wiiiiih….ngimpiiii….

Wahahaha….ari ngomong aja duwur-duwur nok? Bokatan tibae lara…
*wahahaha…kalo ngomong jangan tinggi-tinggi, nok (panggilan khas Cirebon untuk anak perempuan-red). Nanti jatuhnya sakit…

Napa ira? Mabok tah? Tah tes salah nginum obat…
*kenapa kamu? Mabuk ya? Atau abis salah minum obat…

Wis laaah…jadi uwong kuh aja keakean ngayal…mengko edan sedalan-dalan…
*udah laaah…jadi orang itu jangan kebanyakan mengkhayal…nanti jadi gila tingkat berat…

Urip kuh kang wajar-wajar bae…N.U laaah…N.U…nurut umum…
*hidup itu yang biasa-biasa saja…N.U laaah…N.U…ikut kebiasaan…

Akhirnya mengendur. Kabur. Enakan tidur.

Akhirnya mati. Tak lagi peduli. Tak berani lagi bermimpi.

Tapi kenapa ada yang kosong? Di sini, jauh di dasar hati…

Pernah ngalamin kaya gitu nggak, gaes?

Aku pernah. Sampe sekarang selalu begitu. Eh enggak ding, udah kadang-kadang aja. Oleh sebagian besar orang disekelilingku.

Mimpiku dipatahkan. Semangatku dihancurkan. Seperti serpih-serpih tak bisa diperbaiki. Sayapku dipotong. Bahkan sebelum aku mulai belajar terbang. Kejam. Jahat.

Setiap kali aku mengatakan impianku. Berusaha mengisi dadaku dengan letup-letup semangat. Hajaran pesimisme menghantamnya lalu menghancurkannya seperti buih-buih di lautan. Menusuknya seperti ledakan balon. DUARR

Bertahun-tahun. Tak berani bermimpi. Tak bisa tegak berdiri.

Maka aku menjalani hidupku karena begitulah orang menjalaninya. Sekolah. Kerjakan tugas-tugas. 6 tahun. 3 tahun selanjutnya. 3 tahun berikutnya. Tanpa prestasi berarti. Tertatih mencari eksistensi.

Ikut eskul pramuka ya? Boleh ikut OSIS ya?

NGAPAIN? CAPE DOANG. NAMBAH-NAMBAHIN KERJAAN AJA. MENDING ISTIRAHAT DI RUMAH!

Apa aku menyerah? Tidak! Aku tetap ikut eskulnya. Dengan resiko dimarahi setiap hari latihan tiba karena selalu pulang sore.
Tak peduli. Aku tetap jalani. Aku tak pernah minta uang tambahan. Untuk berbagai keperluan. Perlengkapan. Peralatan. Aku bisa cari sendiri. Jualan. Hal yang selalu kulakukan.

Apakah aku anak tak berbakti?

Tak tahu pasti…

Aku mau langganan majalah ya? Aku mau beli novel boleh ya?

NGGO APA? NUKUI KERTAS-KERTAS. HOBI TUKU SAMPAH!
*buat apa? Beli kertas-kertas. Hobi beli sampah!

Aku bergeming. Tak memberiku uang tak apa-apa. Melarangku berlangganan majalah tak membuatku hilang arah. Aku bisa cari uangku sendiri. Jualan. Ambil kerja paroh waktu. Hasilnya? Dimarahin lagi. Aku menulikan telinga.

Apakah aku keras kepala?

Entahlah…

Begitulah kujalani hari-hariku, kawan. Ini dilarang. Itu tak boleh. Bepergian jauh tak pernah. Mungkin kau akan berkata, WAH…WAH…WAH…

Aku yang suka melawan. Aku yang tak pernah dengar nasehat. Aku yang begajulan. Aku yang tomboi. Aku yang meraba dalam gulita. Siapa aku? Apa mimpiku? Mau aku apakan hidupku?

Maka aku berteman dengan novel. Buku. Majalah. Aku habiskan waktuku dengan bercengkrama dan bercinta dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan lembar halaman kertas. Menginspirasi. Mengisi relung-relung hati.

Berjam-jam hibernasi diselimuti hangatnya dunia. Dunia mimpi. Catatan perjalanan. Petualangan. Misteri. Kisah hidup. Motivasi. Pengembangan diri. Buku. Novel. Majalah.

Apa aku aneh? Tak peduli. Tak mau peduli.

Baca dan membaca membuatku mencari polaku sendiri. Pola diri. Pola berteman. Pola komunikasi. Pola-pola hidupku. Menuliskan rasa. Melukiskan cita. Mengisahkan impian. Tak lagi kuceritakan. Tak kubiarkan diriku kembali ditertawakan. My secret me.

Diary dan jurnal. Di buku. Di komputer. Ditulis tangan. Diketik rapi. Tersimpan apik. Untukku sendiri. My secret me.

Membaca kembali tulisan-tulisan zaman old membuatku senyum sendiri. Aku sudah gila dari dulu ternyata.

Ooh aku pernah membuat novellet pertamaku di kelas 3 smp. Tulisan tangan. Di kertas folio. 8 lembar bolak-balik. Judulnya Persahabatan. Mengharu biru. Berputar dibaca teman-teman. Sekelas. Lintas kelas. Adik kelas. Dirampas guru. Tak kembali padaku.

Oooh aku suka mengomentari berita yang kudengar. Dari radio. Dari televisi. Beberapa paragraf. Ditulis tangan.

Oooh ternyata aku suka iseng membuat cerita berdasarkan lirik lagu. Suci dalam debu. Westlife. Mahadewi. Kurangkai dengan sok tau maksud lagu-lagu. Kadang wagu. Kadang dengan cerita tak menentu.

Oooh aku suka mengarang-ngarang apa yang terjadi selanjutnya saat aku suka seseorang. Saat ada yang curhat padaku. Ada yang membully aku. Kuteriakan padanya segala sumpah serapah. Sesuatu yang tak berani kulakukan di alam nyata. Alam maya kadang-kadang lebih menggiurkan.

Hm…melelehnya liurku dalam angan membaca royalti buku Gone With The Wind nya Margareth Mitchell. Harry Potternya J.K Rowling. Berasa aku yang ngipas-ngipas uangnya. Menjelajah seluruh negeri impian.

Terbelalak menahan nafas membaca suspense The Da Vinci Code, Digital fortress. Novel-novel Robert Ludlum, Sherlock Holmes, Agatha Christie. Membayangkan adegan dan setting di novel karya Pearl S. Buck.

Terhanyut pada cerita-cerita manis Hans Christian Andersen. Tragisnya tokoh utama wanita pada setiap cerita milik T. S Elliot.

Lalu membuat ceritaku sendiri. Menggelikan. Kadang menjijikkan. Tak pernah selesai. Perlu banyak sekali teknik berkisah mumpuni. Pikirku saat itu.

Hingga kini tulisanku masih menggelikan. Sering tak jelas. Namun aku tak lagi peduli. Aku kini berada di dunia dimana mimpimu adalah milikmu. Tak usah dengarkan seluruh kalimat tak mutu yang bisa melemahkan semangat dan asamu. Masuki bahagiamu. Sebarkan tawa dan tangismu. Jujurlah pada diri dan hatimu. Kau akan jadi dirimu. The real you. My secret me no more.

WRITING IS HEALING. THE WAY YOU CURE YOURSELF. THE BEST MEDICINE LIKE LAUGH AND POSITIVE THINKING.

Menulislah tanpa ragu. Tanpa malu. Jadilah bahagia. Bahagiakan dirimu. Maka aura bahagiamu akan menular. Seperti virus. Virus kecil tak terlihat namun berefek nyata. Membuat sekelilingmu bahagia.

Menulislah seperti udara. Lepas. Bebas. Memenuhi ruang walau tak kasat mata. Bebaskan hatimu. Tawamu. Tangismu. Senyummu. Sedihmu. Biarkan dirimu melayang di cakrawala rangkaian kata-kata. Toh kalaupun kau jatuh, kau tetap akan jatuh di antara bintang-bintang aksara.

Tetap empuk. Tetap tinggi. Tetap tangguh berdiri.

Jadi ini mimpiku untuk diriku. Dirimu.

Apa mimpimu untuk dirimu?

Oh ya satu tulisan kecil aja siih…
Kalo ada yang ngiri sama kamu,
Kamu NGANAN aja…
Kalo ngiri semua, ntar kamu dibilang konvoi…

TETAPLAH NGANAN. JADILAH BAHAGIA.