Mimpi Terindah

Mimpi Terindah

Hujan baru saja reda dan di kejauhan semburat pelangi tampak indah memikat.

Aku masih duduk di dangau bersama Basri. Menikmati hujan di tengah pematang sawah milik bapak. 

“Kau sudah ketemu dengan Marni belum,” kata Basri sambil melirik.

“Hmmm,  ada apa dengan dia?” sahutku acuh.

“Selepas SMA kan kau belum bertemu dia.” Basri mengingatkanku.

“Yah, esoklah baru kutemui dia. Masih tinggal di rumah yang dulu kan?” tanyaku.

“Ah kau ini, mau kemana lagi dia. Sudah setahun ini dia mengabdi di Puskesmas dekat Kantor Desa setelah menyelesaikan sekolah keperawatannya. Kamu sendiri kapan selesai kuliah ekonomi?” Basri menoleh padaku.

“Ya sebentar lagi, makanya aku pulang Bas, untuk menyusun Tugas Akhir,” ujarku.

Kutarik nafas dalam-dalam.

“Sudahlah Bas, aku ketemu kau di sini bukan untuk membahas Marni. Lihat pelangi itu, indah nian. Dulu waktu  kanak-kanak selalu berangan-angan untuk mencapai ujung pelangi itu. Warna warni yang indah itu, seperti kiasan hidup kita bukan.”

Pelangi di depan kami berwarna terang, seakan dekat terjangkau tangan. Kami masih terus berbincang.

“Ya seperti hidupku Ndra, aku dulu bintang kelas, tapi tak seberuntung kau bisa sekolah tinggi. Aku hanya ikut kursus singkat tentang mesin pertanian, tapi cukuplah untuk menopang kehidupan keluargaku sekarang.” Basri menatapku lagi.

“Saat ini kau masih saja belajar tanpa pernah pulang kampung, padahal tambatan hatimu sejak dulu ada di desa ini. Kenapa. Apa kau sudah memiliki yang lain di sana?”

Basri berusaha mengupas kehidupan kami yang penuh warna bagai pelangi, namun masih penuh tanya baginya tentang kehidupan asmaraku.

Akhirnya, gundah di hati ini tidak tertahankan lagi.

“Inilah yang membelitku Bas. Kau tahu Marni sekolah keperawatan di kota yang sama dengan aku kuliah. Kami sama-sama saling memberi perhatian dan tak dapat kupungkiri kalau aku jatuh cinta dengannya. 

Dia gadis yang baik, penuh semangat dan pintar. Banyak hal yang kukagumi di dirinya. Terkadang kutemui dia dan kuajak sekedar jalan sore, dan dia tak pernah mau berjalan hanya berdua denganku, pasti mengajak salah satu teman kost atau teman kuliahnya.”

Kuhela nafas panjang kembali.

“Hingga suatu saat ketika ia hampir menyelesaikan studinya, kuberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya, Bas. Inilah awal kerapuhan hatiku”.

Aku menyampaikan cerita itu sembari tertunduk karena mataku berkaca-kaca. 

Basri menatap dengan mulut terbuka saat aku bercerita tadi dan segera menepuk pundakku saat diri ini makin dalam tertunduk.

“Kenapa kau sedih Ndra, Marni menolakmu? Anak juragan beras dan bakal punya masa depan cerah dengan gelar sarjananya. Apalagi syaratnya padamu hah….”

“Bukan Bas, Marni tidak seburuk yang kau sangka. Dia baik sekali bahkan dia menangis saat menjawab pernyataan cintaku.”

Aku ingat ucapan Marni saat itu.

“Indra, andai keadaan ini bisa ku ubah dengan menempuh dan melewati jarak ribuan kilo bahkan mendaki puncak tersulit sekalipun, pasti akan ku jalani. Tapi tak satupun yang mampu mengubahnya. Aku pernah menyampaikan kepada Bapak dan Ibu kalau kau sepertinya ada hati denganku, tapi mereka langsung mengatakan bahwa tak boleh ada pernikahan diantara kita. Kau dan aku, saudara sesusuan Indra.”

Terisak Marni menyampaikan itu.

Basri ikut menunduk mendengar cerita tadi. 

“Aku pulang sekarang, karena Marni akan dilamar oleh Rachmat, kepala desa kita yang baru itu. Ayah dan ibu yang menyuruhku menemaninya sebagai saudara. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku kan Bas….”

Laksana pelangi, Marni hanya dapat dipandang penuh warna warni yang indah, tapi semu tak berwujud. 

Hujan mulai reda, namun kami masih tetap di dangau itu tanpa kata.

rumahmediagrup/hadiyatitriono