Mindfulness Membebaskan Trauma Hujan dan Banjir pada Inner Child-ku yang Terjadi 30 Tahun Silam

Mindfulness Membebaskan Trauma Hujan dan Banjir pada Inner Child-ku yang Terjadi 30 Tahun Silam

Oleh: Ribka ImaRi

Empat hari lalu, tepat di hari tahun baru, tanggal 1 Januari 2020, aku terjebak hujan lebat. Sesaat setelah belanja di toko yang hanya berjarak 1 Km dari rumah. Aku menganggap sepele, karena keluar rumah hanya sebentar saja dan dekat, jadi tak perlu membawa jas hujan. Lagi pula, memang aku lupa memasukkannya kembali ke dalam box motor setelah dipakai kemarin harinya sehabis terkena hujan dan dijemur di pagi harinya.

Sebenarnya, aku sering mengalami terjebak hujan. Akan tetapi kalau sedang membawa serta kedua anakku, aku akan memilih menunggu sampai hujannya mereda. Daripada harus menembus derasnya air hujan, pasti akan basah kuyup juga, walaupun kami sudah memakai jas hujan.

Biasanya, jika aku pergi bersama kedua anakku, kami memilih menunggu hujan reda sambil melihat-lihat barang-barang atau mainan di dalam toko. Sebab tujuan belanja kami sudah selesai. Namun, dikarenakan kali itu aku sendirian, jadi aku memilih menunggu di emperan toko.

Ternyata, di emperan toko sudah banyak orang lain berjejer, sama sepertiku, yang juga menunggu hujan reda. Karena memang hujannya sedang sangat lebat. Ditambah ada petir. Membuat para penunggu yang terdiri dari beberapa orang laki-laki, pun tak berani menembus derasnya hujan. Meskipun kulihat ada yang sudah bersiap dengan memakai jas hujan.

Dalam kesendirianku saat itu, aku jadi mempunyai kesempatan mengamati keadaan sekitar dan memandangi hujan sepuasnya. Hujan yang sangat deras mengingatkanku pada banyak hal. Satu per satu berkelebat di pikiranku.

Terutama, memikirkan bagaimana kabar keadaan kedua orangtuaku nun jauh di Jakarta sana. Karena Jakarta dan sekitarnya sedang mengalami bencana banjir yang besar. Seperti yang aku lihat beritanya di televisi.

Di tahun baru pagi, pukul 9.30, aku masih bisa menghubungi mama via chating aplikasi whatsapp. Beliau mengabarkan rumah masih aman. Air banjir baru sampai di rumah tetangga dengan jarak 3 rumah dari rumah kedua orangtuaku. Aku lega membaca kabar ini. Meskipun setelahnya, aku was-was karena whatsapp mamaku sudah tidak dapat dihubungi lagi.

Namun pikiran was-was ini segera aku stop demi perasaan galau-ku bisa terkendali. Aku memilih teknik afirmasi dari mindfulness parenting agar pikiranku bisa kembali positif. Aku hiburkan hati dan perasaannku, “Yakinlah kedua orangtuaku baik-baik saja di Jakarta. Mungkin HP Mama sedang habis baterainya jadi belum bisa ku hubungi lagi. Akan aku coba hubungi lagi setelah jeda sampai sore nanti.”

Seketika, pikiranku memang aku stop melayang memikirkan keadaan orangtuaku. Namun melihat hujan deras seperti yang terekam dalam foto, sedang terjadi di depan mata saat ditambah kelebat kata “banjir”, mau tidak mau, ingatanku melayang pada kejadian sekitar 30 tahun silam.

Kala itu, aku masih gadis kecil berusia sekitar 9 tahun. Aku mengalami kejadian tragis terjebak hujan lebat dan banjir setinggi dadaku yang baru berusia 9 tahun.

Dalam sendiriku, sepulang dari tempat ibadah dengan masih menggenggam sebuah gorengan. Aku takut. Kalut. Jiwa masa kecilku trauma kala itu.

Beruntung ada sepasang suami istri yang baik hati mau menolongku. Lalu membawaku ke rumah mereka. Kemudian si istri memandikanku, menggantikan baju basahku dengan baju milik anaknya.

Lantas mereka mengantar aku pulang ke rumah orangtuaku. Berbekal alamat dari penuturanku. Gadis kecil yang keras kepala. Sudah dilarang pergi oleh mama, karena saat itu langit sudah mendung. Aku tetap pergi ke gereja yang jaraknya 2 Km jalan kaki.

Puluhan tahun berlalu….

Aku tumbuh dan berkembang menjadi seorang ibu. Hujan yang tadinya tidak pernah menjadi masalah dalam hidupku. Tiba-tiba menghadirkan ketakutan, kecemasan, kekalutan dan serangan panik yang membuatku menangis tiba-tiba.

Melihat air hujan turun sangat derasnya, tanpa sadar air mataku turut jatuh berderai-derai tanpa bisa berhenti. Melihat air berkumpul penuh dan bergolak menuju saluran air, bulu kuduk berdiri semua. Menggigil. Persis anak kecil yang sedang ketakutan. Karena pikiran bawah sadarku melayang, aku memang takut terjadi banjir besar seperti kenangan masa kecilku.

Aku bingung, aku ini kenapa?

Sampai akhirnya, setelah aku belajar mindfulness parenting, sebuah ilmu mengasuh dengan kesadaran, di Agustus 2016, aku mengetahui bahwa ada trauma di dalam jiwa masa kecilku (inner child) membuat aku menangis berderai saat melihat hujan, meski sudah menjadi seorang ibu sejak 8 tahun lalu.

Pelan-pelan, aku berlatih untuk sadar mengasuh traumaku. Bahwa hujan yang sekarang aku hadapi, bukanlah hujan yang terjadi di masa kecilku 30 tahun silam. Mindfulness membuatku sadar untuk ada “disini dan sekarang.”

Saat ini, aku berdiri di depan toko, memandangi hujan lebat adalah aku dalam wujud jiwa dan raga yang dewasa. Yang mampu menangani keadaan terjebak hujan. Tak perlu takut lagi. Karena aku bukan lagi anak kecil yang terjebak hujan sendirian.

Semua afirmasi teguh itu aku tancapkan dalam pikiranku selama 3 tahun terakhir, terus menerus berlatih mindfulness. Hal ini pada akhirnya mampu mengendalikan tombol play menangis dalam jiwaku. Berganti otomatis menekan tombol pause bahkan stop menangis. Tak ada yang perlu lagi ditangisi.

Kini, aku sudah bisa menjadi ibu yang bebas emosinya di tahun 2020 ini. Setelah trauma-trauma tersebut bisa mereda bahkan terlepa dari jiwaku. Tidak lagi menyalahkan keadaan atau siapa pun atas kejadian masa lalu yang pernah membuatku tauma.

Namun, aku bersedia mengambil tanggung jawab untuk mengasuh inner child (IC) agar terus sadar menjadi dewasa. Sehingga seiring pertambahan usia, tak ada komentar pada umumnya, “Makin tua, makin seperti anak kecil.” Karena trauma IC itu sudah teratasi.

Sokaraja, 5 Januari 2020

rumahmediagroup/ribkaimari