Miss Gina kayak Herder


By. Gina Imawan

Huff. Elap keringet.

Satu langkah selesai. Sekarang, ke kantin aaaaah….

Aku melangkah meninggalkan netbookku. Setelah menekan tombol send pada email untuk mengirimkan nilainya ke email TU dan menekan tombol sleep di sudut kiri.

Ya, aku baru selesai memasuk-masukkan nilai 4 KD ulangan harian, UTS dan PAS ke dalam format Excel plus mengoreksi soal PAS semester 1 ini.

9 kelas, sodara-sodara.
Dan rata-rata perkelasnya 30an anak. Itung sendiri aja lah yaaa…

Kerja stripping berasa kayak di sinetron Indonesia. Aku hanya punya 2 hari setelah ujian mata pelajaranku berlangsung untuk mengoreksi plus mengirimkan nilainya.

Pas ngoreksi, biasanya aku minta tolong siswa satu kelas buat ngitung benar 50 soal pilihan ganda.

“Yang dihitung hanya benarnya ya, naaak… Trus ditulis disebelah kanan atau kiri lembar jawaban…”, Aku.memberi instruksi.

Maka sekian ratus lembar jawaban untuk bagian pilihan ganda selesai dikerjakan hanya dalam waktu kurang dari satu jam.

Dan, aku akan melanjutkan mengoreksi essay. Naaah… yang bikin aku bete itu kalo para siswa nulis jawaban essay dengan tulisan tangan yang mirip ceker ayam.

Mau disalahkan, takut itu jawaban bener. Kan jatuhnya aku jadi dzalim.

Mau dibaca teruuuus…. Sakit mataku, Louis Fernando.

Makanya dari awal aku wanti-wanti. Dengan kalimat hati-hati dan senyum yang merekah.

“Nak, minta tolong yaaa. Nanti soal essay dijawab semua. Nulisnya yang rapi. Perhatikan spasinya. Kalo tulisan kamu nggak ada spasinya, pusing dan capek Miss Gina bacanya”,

Biasanya ada aja anak-anak yang ketawa-ketawa kecil. Ngerasa tulisannya kayak Titanic terbelah 15. Hehehehe

“Bantuin Miss Gina, oke? Miss Gina kan harus ngoreksi 9 kelas niiih… Kalo tulisannya bisa dibaca kan enak tuh ngoreksinya. Semangat. Laaah… Kalo tulisannya kagak bisa dibaca? Bisa juling mata Miss Gina”, aku berseloroh.

Dan tawa pun meledak.

Ledakannya sama seperti saat aku menegur anak-anak yang sedang ulangan. Baik ulangan harian maupun ulangan semester.

“Ayo, gak usah lirik-lirik. Nanti bola matanya kagak bisa balik lagi. Repot looo…’,

Atau

“Udah, naaak… Gak usah nengok-nengok kanan kiri. Nanti kepalanya nggak bisa muter lagi….”,

Wahahahaha…. Stress ujian pun berkurang. Sedikit.

“Aku mah nggak berani nyontek kalo pelajaran Miss Gina…”, Salah seorang siswa berkata pelan.

Suasana kantin ramai. Anak-anak hilir mudik memesan jajanan yang mereka mau. Baso. Seblak. Cilok. Piscok. Sereal. Jus. Shake. Es krim. Makanan ringan. Coklat. Susu kotak. Roti. Aneka gorengan. Hamburger. Pizza mini. Sandwich. Banyak lagi.

4 pelayannya lumayan sibuk. Menghitung belanjaan. Menerima uang. Memberikan kembalian. Melayani pesanan.

Obrolannya udah mirip dengung lebah. Gak jelas siapa ngomong apa. Kamu harus fokus banget kalo mau bicara sama seseorang.

Maka kalo mau ngobrol rahasia, tempat-tempat berisik adalah kuncinya. Nggak akan ada yang perhatian. Sesuai banget sama salah satu teori perangnya Sun Tzu,

‘Tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman’.

Karena nggak akan ada yang nyangka, kan? Teori perang Sun Tzu itu dibuat berdasarkan pengalaman perang kakek Sun Tzu yang buaaaaanyyaaak buanggets…

Nah, balik ke kalimat-kalimat yang nggak sengaja kudengar di kantin itu, frens…

“Iya. Miss Gina tuh kalo ngajar asik. Kalo ngawas serem”, suara lain menimpali.

“Kayak herder”, What?? Tawaku hampir tersembur.

Posisiku yang membelakangi mereka sangat menguntungkan. Aku terus menikmati es krim oborku.

Conenya enak. Isi vanilla plus topping coklatnya so delicate. Crispynya kriuk. Nyam deh…

“Padahal kan kalo ngawas Miss Gina nggak pernah ngapa-ngapain ya. Nggak melotot. Nggak keliling terus-terusan. Tapi ko serem ya?”, Suara yang lain lagi.

“Nggak tau. Kayaknya kalo lagi ngawas berubah serem aja Miss Gina tuh…”,

“Ooh… Mungkin karena Miss Gina bilang gini di awal ngawas. I am on request proctor. Gitu kan ya, kalimatnya?”,

Kemudian suara-suara lain bersahut-sahutan. Membenarkan. Menambahkan.
Aku tertawa dalam hati. Trending topik nih guwe, hahahaha…

Aku bangkit. Membuang bungkus es krimnya ke tempat sampah. Menyapa mereka sekilas. Tersenyum lebar.

Mereka kontak terbelalak. Aku bersikap seolah-olah aku tak mendengar apa pun.

“Dih kenapa? Ketemu Miss Gina ko kaget?”, Tanyaku ringan.

“Ooh.. itu Miss, tumben aja liat Miss Gina ke kantin…”, Salah satu siswa memberanikan diri menjawab. Menelan ludah.

Aku tersenyum. Mengelus kepalanya sekilas.

“Iya, nih… Laper Miss Gina. Makanya ke kantin. Yuks duluan yaaa….”, Aku melambai.

Dalam perjalanan ke kantor. Aku harus menuruni 30 anak tangga. Maklum lah, kantinnya ada di lantai 1. Kantin yang lumayan besar. Ber AC pula. Dengan ruang makan lesehan yang bersih dan nyaman. Kalo lagi nggak rame, malah nyediain delivery order juga…

Aku merenung. Apa ya yang sudah kulakukan? Apa kata anak-anak itu tadi?

‘Miss Gina tuh kalo ngajar enak. Kalo ngawas serem’

Well, aku selalu memberi aturan di awal mengawas. Sama seperti aku selalu memberi aturan di setiap awal semester.
Aturannya jelas. Tegas. Tawar menawar dilakukan di awal pertemuan.

Aturan itu akan dipatuhi bersama. Dengan reward dan punishment yang jelas.

I am teacher by request. Aku bilang pada semua siswa di kelasku. Kamu mau Miss Gina baik dan lembut. Miss Gina akan baik dan lembut. Kamu mau Miss Gina galak, Miss Gina akan galak. Miss Gina akan galak kalau…. aku berikan poin-poinnya. Jelas.

Aku suka bercerita. Biasanya aku bercerita sebagai apersepsi di kelas. 5-10 menit pertama. Aku bercerita apa saja. Kelakuan lucu anak-anakku. Berita yang sedang viral. Pengetahuan ringan. Kutipan orang terkenal.

Aku suka becanda dan main game. Dan aku becanda serta main game bila anak-anak udah mulai kelihatan bosan atau mengantuk. Maklum lah kadang-kadang aku mengajar di 2 jam sebelum atau sesudah duhur. Waktu-waktu ngantuks bangets.

Oh ya, saat aku mengawas. Aku tak segan mengusir siswa keluar kelas bila beberapa kali peringatan sudah tak mempan. Mengambil lembar jawaban dan menuliskan kronologis pengusirannya dalam berita acara.

Tanpa ampun.

Aku kayak Herder kalo ngawas? Hihihi

Boleh ganti kucing atau kelinci, nggak?
Aku nggak suka anjing soalnyaaaaa…