Misteri Koper Tua

Misteri Koper Tua

“Bagaimana sayang, PR-mu sudah selesai dikerjakan, belum? Maafin Papih, ya, pulang kemalaman,” kataku serayu memeluk Fadya, anakku semata wayang.

Bu Ani, ART yang merawat Fadya sejak masih bayi, tadi meneleponku, katanya PR matematika Fadya susah, tentang pengurangan bilangan.

Aku tersenyum membayangkan bu Ani yang tidak lulus SD itu kebingungan saat gadis kecilku menangis karena tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan gurunya. Mau membantu mengerjakan, tak mampu.

Gadis kecilku segera melepaskan pelukanku seraya berkata,” Udah selesai kok, Pih!”
Matanya nampak berbinar-binar ceria.

“Lho, kata bu Ani tadi Fadya menangis karena tidak bisa, kok sekarang sudah selesai dikerjakan?”

Aku mengernyitkan alisku. Heran. Siapa yang ngajarin? Fadya kemudian mengambil PR-nya yang telah dimasukan ke dalam tas.

“Ini Pah yang ngajarin …” ujar Fadya sambil menunjuk gambar seorang wanita yang dibuat menggunakan bolpoin warna merah. Fadya memang lebih suka menggambar daripada menghitung.

Jantungku rasanya hampir meloncat keluar saat melihat gambar itu. Gambar itu membentuk sosok wajah seorang perempuan, lebih tepatnya wajah istriku, ibu Fadya yang meninggal saat melahirkan Fadya!

Foto-fotonya kusimpan rapi di dalam koper tua karena aku selalu sedih ketika melihatnya. Dan, Fadya tak mengenali ibunya karena aku tak memajang fotonya. Hanya sekali aku memperlihatkan foto ibunya saat anakku berumur 4 tahun.

Aku segera menuju ke lantai atas, lalu membuka pintu sebuah kamar yang selama ini selalu tertutup rapat. Aku menyibak jaring laba-laba saat memasukinya. Lalu, kulihat koper hitam tua itu masih berada di tempatnya.

Saat hendak mengambilnya, bulu kudukku meremang. Aku merasa ada yang mengawasiku. Kubalikkan badan. Dan, sosok itu berada di tengah-tengah pintu ruangan. Ia tersenyum. “Mas Fadil ….”

Perempuan itu berkata lirih. Namun, kurasakan tubuhku bergetar hebat. Astagfirullah, Lina …., desisku. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.

rumahmediagrup/windadamayantirengganis