Mobilitas Tenaga Kerja

Sumber gambar :www.google.com

Mobilitas Tenaga Kerja

Kondisi equilibrium pasar tenaga kerja yang kompetitif menyebabkan adanya alokasi tenaga kerja ke dalam perusahaan. Alokasi ini bertujuan untuk  memaksimalkan nilai total dari produk yang dihasilkan tenaga kerja. Tenaga Kerja mencari pekerjaan yang lebih baik, misal : lebih produktif dan menerima upah lebih banyak. Sedangkan perusahaan selalu mencari tenaga kerja yang lebih baik, dan dengan upah yang murah.

Namun, dalam alokasi yang ada terdapat persoalan. Di antaranya: 1). Tenaga kerja seringkali tidak mengetahui keterampilan dan kemampuannya sendiri. 2). Kurangnya informasi tentang kesempatan kerja pada tempat atau pasar kerja yang berbeda. 3). Kemampuan dan keterampilan tenaga kerja baru terlihat setelah beberapa saat bekerja.

Lalu, mobilitas tenaga kerja menjelaskan mekanisme suatu pasar kerja dalam meningkatkan alokasi tenaga kerja ke dalam perusahaan. Mengapa mereka melakukan pindah? Alasan paling utama yakni memperoleh upah yang lebih tinggi. Kenaikan 10% dalam perbedaan upah daerah asal dan tujuan akan meningkatkan kemungkinan bermigrasi sebesar 7%. Kenaikan 10% dalam lapangan kerja menekan kemungkinan bermigrasi sebesar 2%. Kenaikan jarak antara daerah asal dan tujuan sebesar 2 kali lipat akan menekan tingkat migrasi sebesar 50%.

Karakteristik pekerja yang bermigrasi yaitu usia (semakin tua pekerja maka kemungkinan migrasi semakin kecil), dan pendidikan (pekerja dengan pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki kemungkinan bermigrasi lebih besar). Keluarga juga memiliki andil ketika pekerja melakukan mobilitas. Keputusan yang diambil bukan untuk orang per orang, namun untuk seluruh anggota keluarga.

Demikian maka dapat dimaknai bahwa keputusan tenaga kerja dalam melakukan pindah harus memperhatikan karakter, ketrampilan dan kemampuan masyarakat karena berbagai macamnya imigran yang datang. Terdapat skilled dan unskilled tenaga kerja. Sehingga bisa saja terdapat brain drain, yakni aksi sumber daya manusia yang berkualitas memilih untuk meniti karir di negara lain, di daerah lain dibandingkan di negaranya sendiri atau daerah asal. Masihkah kita mau berpikir, tetap tinggal di daerah asal?, bekerja di kota orang lain?, atau hanya sebagai pelaku mobilitas yang tanpa tinggal di kota itu? Jawabannya ada pada kita sendiri ya.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Borjas, George. 2000. Labor Economics. The McGraw-Hill. United States

rumahmediagrup/AnitaKristina