Kena Bajak

Kena Bajak

Kami sedang fokus menyimak pemaparan materi pelatihan online melalui WhatsApp grup (WAg) dari nara sumber saat muncul pengumuman dari seorang admin tentang telah dibajaknya nomor salah satu penyair, yang sekaligus menjadi nara sumber dan pengurus komunitas yang membawahi kelas online yang sedang kami ikuti. Sontak semua menjadi heboh. Dari komentar para admin dan peserta di grup, diketahuilah bahwa si pembajak mulai beraksi sejak tadi pagi.

“Pantesan, pagi-pagi kok sudah minta tolong,” chat dari seorang admin.

“Iya, saya juga dapat chat, tuh tadi pagi. Dia tanya saya sedang di mana,” timpal admin yang lain.

“Teman-teman, segera blokir nomor beliau ya!” imbauan admin yang tadi mengirim pengumuman.

“Siap!” jawaban bermunculan dari para peserta pelatihan.

“Oh ya, tolong bantu sebar ke yang lain,” imbau admin yang lain.

“Siap,” lagi-lagi jawaban serentak dari anggota grup.

Aku teringat jika beliau itu sering wara-wiri dari grup yang satu ke grup yang lain yang berada dalam naungan komunitas tersebut. Karena itu, tanpa membuang waktu, aku kirim pesan itu pada penanggung jawab pelatihan-pelatihan online yang aku ikuti..

Kehebohan di grup terus berlangsung. Ungkapan keprihatinan bermunculan dari para peserta pelatihan. Muncul pula kekhawatiran jika ada teman yang termakan jebakan. Betapa tidak, beberapa hari ini, sang pengurus tersebut memang dikabarkan sedang sakit. Bagi yang tidak waspada atau tidak suka berburuk sangka, tentu menganggap pesan yang dikirim melalui nomor WA tersebut adalah dari pemiliknya karena memang perlu biaya untuk berobat.

“Di grup lain bahkan sudah ada yang diberi nomor rekening. Minta ditransfer” chat dari seorang peserta.

“Waduh! Bahaya… ,” jawab yang lain.

Tiba-tiba muncul skrinsut yang dikirim seorang admin.  Skrinsut obrolan antara dia dengan si pembajak. “Sejak awal, saya curiga. Makanya saya ayoni. Dia tanya apakah di rekening ada uangnya, saya jawab ada. Dia minta segera  ditransfer ke nomor rekeningnya. Jelas ini modus penipuan. Nama pemilik rekening sama sekali tidak saya kenal. Nama perempuan. Saya iyakan saja. Tapi saat saya minta dia menjawab panggilan video, dia langsung kabur. Ha ha ha …” paparnya.

“Ha … ha … Harus dikerjain tuh orang,” komentar admin lain.

Sementara peserta banyak yang berkomentar dengan stiker lucu dan emotikon

Muncul lagi satu pesan dari admin. Dia menyalin status facebook pengurus yang nomor WA-nya dibajak. Intinya, beliau itu malam-malam mendapat japri dari seseorang. Si pengirim pesan mengaku sebagai seseorang yang dikenalnya. Karena kondisi beliau yang memang sedang sakit, maka berkuranglah waspadanya. Awalnya ada juga kecurigaan. Sehingga ditanyakannya pada seorang sahabat mengenai nomor yang mengirim pesan. Sahabatnya mengiyakan bahwa itu nomornya. Karena ada yang mengiyakan bahwa itu betul nomor orang yang disebutkan pengirim pesan, maka diturutilah permintaannya. Si pengirim pesan minta tolong untuk menitipkan kode WA-nya. Alasannya, ia akan membersihkan WA-nya. Maka diturutilah permintaannya. Pak Pengurus Komunitas  akirnya mengirimkan kode WA-nya.  Keesokan harinya, WA-nya ngebleng, tidak bisa dibuka.

 “Ternyata banyak akun yang dibajak gegara aplikasi zoom,” muncul chat berikutnya. Yang diiyakan oleh yang lain.

“Betulkah itu karena zoom?” Tanyaku dalam hati. Aku terhenyak menyimak obrolan teman-teman di wag. Betapa tidak, beberapa hari lalu di tempat kerjaku diagendakan untuk melakukan pertemuan online (meeting) melalui aplikasi zoom tersebut. Sebetulnya, saat pimpinan menginstruksikan agar kami mengunduh aplikasi tersebut, seorang rekan kerja pernah menyampaikan adanya keluhan tentang aplikasi zoom. Akan tetapi, pimpinan kami bersikukuh untuk tetap menggunakannya. Hingga tiba waktunya pertemuan, hujan lebat. Sinyal tidak mendukung sehingga pertemuan saat itu dialihkan pada waktu lain yang belum bisa ditentukan jadwalnya.

Peristiwa dibajaknya nomor WA pengurus komunitas tersebut, membuatku semakin khawatir untuk meggunakan aplikasi zoom. Meskipun ada teman yang mengungkapkan keuntungan menggunakan zoom, tapi sepertinya untuk saat ini aku lebih memilih menghapus aplikasi itu dari gawaiku. ***

#RMG_cerpen_sinur

rumahmediagrup/sinur