MOMONG ANAK


By. Gina Imawan

Reunian kali ini berbeda. Istimewa. Bukan cuman penuh tawa namun juga banyak drama.

Kami janjian ketemu di tempat pertama kami dipertemukan. Kampus. Lalu setelah cipika cipiki. Kami lanjut ke tempat yang kids friendly.

L** P* Mall. Salah satu mall besar plus punya playground gratisan di kota kami. Supermarket. Belasan pilihan tempat makan. Supermarket khusus isi dan perlengkapan rumah pun ada.

Kami berkumpul dan mulai ngobrol di area playground. Sekalian ngawasin 3 bocah yang langsung gedubrakan ngerasa absolutely free di playground gratisannya.

Nah, balik lagi ke soal drama yang hebohnya lebih dari serial Descendant of The Sun.

Ya, gimana nggak?

Kami berlima. 3 yang lain anak bungsunya minimal kelas 3 sd. Udah mulai males diajakin jalan sama emaknya. Pengen main sendiri aja.

Sementara aku dan 1 kawanku yang lain membawa buah hati. Aku bawa 2 monster kangguru yang baterenya nggak abis-abis. Temenku bawa 1 anak.

Awalnya lancar. Heboh. Hahahihi. Lanjut bahasannya ke males dateng ke acara reuni yang campur laki dan perempuan. Bisa banyak ranjau. Ranjau CLBK. Ranjau pamer. Ranjau nyinyir dan membandingkan.

Dan segala jenis keseruan yang nggak akan habis tujuh turunan delapan tanjakan sembilan perosotan sepuluh ayunan.

Dan, dramanya mulai.

“Haus, bunda…”, rengek anakku yang pertama. Bocah lelaki 6 tahun.

“Bundaa… Susu…”, kata si bungsu. 2,10 tahun, sambil menarik ujung bajuku.

Maka, aku nyengir dan pamit. Mengajak mereka ke swalayannya. Beli air mineral. Susu kotak kemasan isi 3. Satu coklat. Satu stoberi. Beberapa pak buah potong.

Oke. Amunisi siap.

Kembalilah aku ke tempat terakhir kami berkumpul. Yang ada cuman Ita. Dia duduk manis mengawasi anaknya yang heboh naik turun tangga dan perosotan.

“Mana yang lain?”, tanyaku.

“Tuh di R** C**”, jawab Ita sambil menyebutkan resto khas Jepang yang ada didepan playground.

Aku mengangguk.

Anakku masih asik main. Begitu juga anaknya.

Maka beberapa menit kemudian, baru kami bisa nyusul. Aku yang paling ribet. Bawa tas. Gandeng 2 bocah yang saat jalan pun nggak bisa tenang. Bawa plastik belanjaan. Plus 2 jaket anakku yang nggak mau dipake lagi, dan jilbab kecil punya putriku.

“Geyah, bunda…”, gelengnya saat kuminta dia memakainya kembali.

Baiklah, Marimar.

Antri ambil pilihan menunya pun gak kalah seru. Ozee, yang 6 tahun, akan membaca semua nama menunya lalu memintaku menerangkan.

Salmon fillet.

Crab meat.

Zukini.

Shrimp meat with tofu.

Broccoli bud.

Original Green tea.

Green tea with milk and brown sugar.

Ice cube.

Masih banyak lagi.

Kebayang nggak capeknya aku kudu nerangin semua itu pake bahasa yang dimengerti anak-anak?

“Katanya gurita, ko nggak ada guritanya, bunda?”,

“kan ini guritanya udah dijadiin siomay, nak?”,

“Nangis nggak waktu guritanya dijadiin siomay, bunda?”,

Serah lu dah, Ferguso.

Makan jadi momen manis sekaligus menguji sabar. Sendok harus sendiri-sendiri. Pembagian makanan harus adil. Sesuap atau dua suap diseling minum.

Belum addgan duduk berdiri. Duduk berdiri. Diatas sofa restonya. Hadeeeeeh…

Acara makan selesai. Kami memutuskan untuk sholat duhur. Anaknya Ita mau main ditemani yang lain . Sementara 2 anakku memilih ikut sholat denganku.

Oke, sholeh dan sholehah. Ayo sholat sama bunda.

“Nggaaaaak…. Mau beli mainan…. Nggaaaaak…”, teriakan si ganteng chubby saat kami ingin pulang.

Rupanya, auntie mengajaknya berkeliling di T** K, salah satu toko mainan yang terkenal sangat mahal di mall itu.

Dan yang dipeluknya adalah mainan mobil beko seharga 500 rbu rupiah!!

Bujukan dibalas tangisan heboh. Dengan agak memaksa kami semua berhasil kembali ke mobil. Hingga akhirmya mobil berjalan dan si ganteng chubby yang sedih hati tertidur karena lelah menangis.

Aku mengelus pelan pipi anakku. Oh ternyata mereka berdua pun tertidur. Aku dan sohib-sohibku saling pandang dan tersenyum. Suasananya kok jadi tenang bangets ya? Hehehe

Hari itu diakhiri dengan es krim choco vanilla dan beberapa foto lagi. Serta tangisan panjang si ganteng yang bangun dan ingat pada mainan mobil impiannya.

Hh….pertemuan yang seru dan menyenangkan. Kapan-kapan kita out bond aja yuks, gaess?

One comment

Comments are closed.