Monster PMS Berhasil Melarikanku ke Depan Meja Psikiater

Monster PMS Berhasil Melarikanku ke Depan Meja Psikiater

Oleh: Ribka ImaRi

“Aku ini kenapa, Dok?” Dalam intonasi setengah teriak yang tertahan, raut muka yang lusuh karena stres berat, mungkin sudah depresi, aku bertanya kepada dr. Wiharto. Seorang psikiater di RS Geriatri, Purwokerto (RSUD. Margono Soekanto).

Ya, Tuhan … akhirnya aku sampai juga di depan meja psikiater dengan membawa serta kedua anakku. Tyaga, balita yang baru berusia 4 tahun 10 bulan dan Jehan, batita yang baru berusia 2 tahun 5 bulan.

Anak-anak yang terlihat manis perilakunya tetapi jika aku tidak cerita, tidak ada seorang pun yang tahu, bahwa anak-anakku sering aku marahi habis-habisan di dalam rumah. Bahkan aku amuki setiap kali keduanya berulah apalagi tantrum, maka kami sering tantrum bersama. Aku merasa sangat lelah menjadi ibu dari dua anak di usiaku yang ke-36 tahun kala itu.

Ya, hampir tiga tahun lalu, di tanggal 26 Januari 2017 menjadi hari bersejarah buatku. Karena akhirnya aku memberanikan diri menembus stigma masyarakat bahwa, “hanya orang gila” yang mengunjungi psikiater.

Setelah aku lelah curhat kepada sesama ibu, aku bertanya ke sana dan ke mari, “Bu, kalau lagi mens seperti aku gak sih? Kepala berasa ngebul banget nih. Pengen aku copot aja rasanya deh … terus pengen kurendam di ember. Habis berasa panas banget nih kepala. Bawaannya pengen ngamuk aja.” Ya, ini nyata curhatanku dulu saat PMS dan selama menstruasi.

Beberapa ibu yang aku tanya-tanya, sukses menggelengkan kepala semua. Mereka belum pernah merasakan seperti yang aku rasakan. Jadi cuma aku saja yang perasaannya begini rumit saat menjelang menstruasi atau PMS (Pre Menstrual Syndrome).

Aaarrggghh semua bikin kesal! Enggak suami, enggak anak, sama saja! Ngeselin semua. Sebeeel!”

Sekitar beberapa bulan lalu terakhir kalinya terucap kalimat seperti di atas, saat aku jelang PMS. Dulu, di tahun 2016 aku seakan liar mengumpat dan berteriak di depan kedua anakku. Sekarang sudah bisa tidak mengumpat kata-kata kasar berisi kebun binatang lagi. Melainkan bisa mengendalikan mulutku untuk stop mengeluarkan sumpah serapah. Bahkan sekarang diakhir tahun 2019, aku sudah bisa tidak ada gejala PMS dan sudah bisa bernada lembut ke semua penghuni rumah.

Padahal, puluhan tahun sejak tahun pertama aku mendapat menstruasi di tahun 1994, seingetku, tubuhku sering merasa tak kuat menahan rasa sakit saat PMS. Sehingga akhirnya aku terbiasa mengumpat meski dalam hati.

Sebenarnya, aku sudah rajin mengamati diriku sendiri secara saksama semasa gadis sebelum menikah. Aku mengamati seminggu sebelum siklus menstruasiku karena mengalami banyak gejala PMS baik secara fisik dan psikis.

Aku pun rajin melingkari tanggal dikalender saat menstruasi hari pertamaku sebagai penanda atau alarm di bulan berikutnya, aku bisa memantau gejala PMS seminggu sebelumnya.

Gejala PMS tersebut antara lain seperti di bawah ini:

1. Kepala sakit jika disentuh satu jari seperti sedang ditusuk-tusuk banyak jarum

2. Payudara membengkak, terasa sangat nyeri, bila tak sengaja tersenggol pun langsung emosi naik pitam, seperti “senggol bacok”, saking nyerinya.

3. Badan pegal-pegal seperti baru dipukuli membuatku malas bergerak.

4. Perut bagian dalam, area bawah, tepat di atas vagina, terasa celekit nyeri dan kram.

5. Vagina kram rasa mau ambrol.

6. Hilang selera makan tetapi pikiran melayang memikirkan mengidam dan terobsesi makanan yang paling aku sukai, biasanya makanan pedas seperti mie instan indomi* so*o kesukaanku yang diberi sayur caesim, telur, saus sambal instan (harus merk A*C) dan irisan cabai rawit mentah. Tak lupa somay, mie ayam atau bakso yang super pedas.

7. Rasa lelah luar biasa membuatku ingin merebahkan diri saja di kasur, malas gerak, malas keluar rumah, malas melakukan apa pun selain berbaring sambil main HP.

8. Lekas marah, ini adalah tanda yang paling terlihat. Senggol sedikit langsung refleks balas bahkan mengamuk ke suami dan anak. Suami tidak peka, aku marah-marah dan melampiaskannya ke anak-anakku.

9. Depresi. Aku baru tahu, kalau aku kemungkinan mengidap depresi saat PMS. Sampai akhirnya aku mengamati. Seminggu sebelum siklus menstruasi aku sudah mengalami depresi. Sedih dan marah yang berkepanjangan selama total 2 minggu.

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung sesekali, hal tersebut normal. Namun seseorang dinyatakan mengalami depresi, jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga. (Willy, Tjin. 2019. Pengertian Depresi.
https://www.alodokter.com/depresi. Diakses 27 Desember 2019).

Bahkan selama belum menikah dan punya anak, aku bukan saja mengalami fase PMS di atas yang membuat depresi, tapi harus terbaring di kasur saat hari pertama menstruasi. Karena sejak tahun 1994 dapat dipastikan aku mendapat serangan muntah beratus kali selama seharian. Baru sembuh setelah aku bisa hamil di Agustus 2011. Selama 17 tahun lengkap sudah penderitaan sakit fisik dan psikis setiap kali menghadapi fase menstruasi.

Membuatku benar-benar fokus mengenali gejala PMS-ku. Lalu berjuang mengobati psikis juga. Setelah merasakan pengobatan selama satu bulan penuh meminum obat kaplet depakote yang diresepkan oleh dr. Wiharto, berangsur-angsur kepalaku sedikit membaik. Menjadi tidak terasa mengebul seperti biasanya.

Obat depakote ini, seperti yang terlihat di foto, digunakan untuk mengobati gangguan kejang, kondisi kejiwaan tertentu (fase manic pada gangguan bipolar), dan untuk mencegah sakit kepala. Obat ini bekerja dengan mengembalikan keseimbangan zat alami tertentu (neurotransmiter) di otak (Honestdocs. 2019. Depakote: Manfaat, Dosis dan Efek Samping. https://www.google.co.id/amp/s/www.honestdocs.id/depakote.amp. Diakses 27 Desember 2019).

Aku terus berjuang membaik dan tetap berlatih mindfulness hingga tiga tahun berproses, pelan-pelan membuahkan hasil. Dengan mengenali pemicunya, hubunganku dengan suami sudah bisa membaik, tidak saling memicu saat aku jelang PMS. Hubungan dengan Tyaga Jehan pun makin terasa indah. Banyak peluk dan cium serta tetap bicara tatap mata dan lembut kepada keduanya. Sudah tak ada lagi kekerasan fisik dan psikis.

Terlebih fase PMS di bulan Desember 2019, atas anugerah Allah, aku benar-benar bisa merasakan kestabilan emosi saat PMS di penghujung tahun. Indah sekali rasamya. Terimakasih ya Allah.

Melalui pengalaman hidupnya ini, penulis sekaligus mentor Kelas Mengasuh Inner Child, akan mengadakan Kulwap Gratis “Mengasuh Diri Sendiri Saat Mengalami PMS dan Nyeri Haid”, pada:

Hari: Minggu, 29 Desember 2019

Pukul: 19-21

Untuk bergabung, silakan klik tautan ini https://chat.whatsapp.com/CNLGoIGwRnSKyseZOeZqhM

Sumber foto: dokumentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari