Move On

“Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau.”

Dokumen CT.Com

Aku masih terguguk, tangis ku belum juga mau berhenti. Nasehat panjang dari bibir Aisyah, sahabat satu kantorku seperti uap, tidak meninggalkan bekas. Hatiku remuk, kabar yang baru aku dengar membuat harga diriku terinjak-injak. Aku seperti baru saja dilempar ke truk sampah dengan ditimbun sampah organik yang tinggi.

Mataku menatap undangan abu-abu yang tergeletak di meja kerja. Tiga bulan berlalu, semenjak pernyataan putus di sepakati. Entah mengapa hatiku masih teriris mendapat undangan pernikahan Rendi.

Kenapa sedemikian cepat dia menemukan pasangan, sementara aku belum juga move on.

Ting.

“Tuh, HP-nya bunyi.” Tangan Aisyah menyenggol bahuku. Aku melirik gawai didepanku dengan enggan.

Keningku berkerut, “Apa ini” tanganku menekan benda pipih putih ditangan dengan cepat.

Assalamualaikum

“Siapa ?”

Aku mengangkat bahu, Aisyah mengambil gawai tanpa permisi. Bibirnya mengerucut, “Jawab saja.”

Waalaikumsalam

Iseng tanganku mulai mengetik.

Apa kabar ?

Ting.

Kembali gawai ku bergetar, memberi kode ada yang masuk.

Baik.

Sudah makan ?

Duk !!

“Aughhh”

Aku meringis sakit, memegang kepalaku yang kena jitak Aisyah.

“Ngapain senyum-senyum.”

Kembali bibir Aisyah mengerucut, menunjukkan ekspresi tidak suka jika dicuekin.

“Siapa juga yang senyum-senyum?” Mataku mendelik, menatap Aisyah yang masih mengerucutkan bibirnya lima sentimeter.

Belum.

Kembali tanganku dengan lincah menulis suara hati yang berpacu.

Makan yuk ?

“Tuhhh, kalau tidak senyum-senyum sendiri apa namanya ?”

Tangan Aisyah dengan keras mencubit bibirku.

“Diam dulu, ada yang ngajak makan siang nih.” Cepat-cepat ku tepis tangan jahil Aisyah. Tubuh mungilnya mendekat, ikut membaca chat ku.

“Siapa sih?”

Kembali aku mengangkat bahu sebagai jawaban.

Ayo.

Aku tersenyum menatap jawaban yang baru saja aku kirim.

“Hai, kamu belum tahu siapa yang ngajak kamu makan non.” Tangan Aisyah mencubit pipiku keras. Matanya melotot, menatapku tidak suka.

“Ini hanya chat di whatshapp Aisyah solekhah, aku juga ogah makan dengan orang asing.”

“Ya sudah jangan diladeni lagi, matiin tuh HP!”

Ting.

Aku tunggu di Strawberry cafe sepulang kerja.

Ok.

“Tuh, janjian.” Aisyah melempar ballpoint, mengenai dahiku keras.

“Iseng saja.”

Aku meringis, antara sakit di dahi dengan mengalihkan senyum dibibirku yang tidak bisa disembunyikan.

“Nanti aku antar, awas jangan pergi sendirian.” Suara Aisyah otoriter, aku kembali tersenyum untuk memberi jawaban.

Gawai aku dorong kearahnya.

“Apa ?”

“Baca.” Aku menjawab singkat, bibirku tidak bisa lepas dari senyum, sungguh, aku benar-benar ingin tersenyum lebar, atau bahkan tertawa lepas.

“Hahhh.” Aisyah menatapku takjud, “Raynaldi, ketua OSIS ?”

Aku mengangguk cepat. Raynaldi, aku biasa memanggilnya Aldi. Ketua OSIS dimasa SMA, idola siswi SMA Nusantara.

“Hahaha, tidak rugi dong kamu melepas Rendi, jika gantinya Aldi.” Tangan Aisyah menepuk punggung ku keras.

Dan aku masih tersenyum. Allah memberi apa yang aku butuhkan.

Rumahmediagrup/srisuprapti