MULUT MENENDANG MANGGA

By. Gina Imawan

Àgar bisa terbaca sempurna, rentetan kalimat membutuhkan spasi.
Begitupun pertemuan, hanya bisa terasa istimewa, jika di antaranya ada jeda.

Yang kerap disebut rindu.

(Nimas Aksan)

Entah kenapa aku tergelitik dengan kalimat-kalimat ini. Betapa cerdas seorang Nimas Aksan menganalogikan perasaan.

Penganalogian keren dan cetar kaya gitu ternyata bukan cuman punya Nimas Aksan. Aku sering mendapatinya dari penulis yang lain. Alberthine Endah. Tere Liye. Patrick Kellan. Daan…coach terlope-ki, Lutfi CoachWriter Artis.

Diksi-diksi mengalir lembut namun legit. Untaian kalimat renyah menggoda imajinasi. Lezat dan kadang bikin hati jadi sekarat. Baper doang mah so…yesterday.

Betapa indahnya makhluk bernama penulis. Menyemangati memotivasi tanpa mereka sendiri sadari. Menguatkan. Memberi penghiburan tanpa kalimat-kalimat penuh ancaman. Membuka cakrawala berfikir dan sudut pandang tanpa kesan garang. Memberi ilmu dan energi untuk selalu berbagi.

Penulis dan buku-buku yang mereka tulis. Membimbingku berjalan dilorong gelap yang aku tau pasti ada cahaya diujungnya. Lo kok hiperbola, tanyamu. Idiiiiih…itu mah lebay, kata anak alay.

Hei…hei…aku korban bully bertahun-tahun lamanya. Salah satu yang bikin aku kuat dan selalu bisa bangkit lagi adalah…kutipan-kutipan. Kutipan-kutipan yang aku ambil dari buku, novel, kalimat orang terkenal. Dan tentu saja…AL-QUR’AN.

Ko aku jadi mellow gini ya? Nggak tau deh. Yang jelas aku mau jadi penulis. Writing is healing. Nulis itu nyembuhin. Nyembuhin luka hati. Memberikan insprirasi dan solusi. Numis eeh nulis bikin aku tetep waras.

Fixlah. Aku mau jadi penulis. Penulis yang dirindukan pembaca. Tulisan-tulisannyaa…

Eeh apa hubungannya judul diatas itu sama isi tulisannya?

Hubung-hubungin aja sendiri. Hehehehe

Nulis yuks, temans….