Musibah Menjadi Berkah

Musibah Menjadi Berkah

“Aku tidak bisa punya anak, ingin rasanya memberi suami seorang anak. Sayangnya penyakit Myoma di rahimku tidak memungkinkan untuk terjadinya kehamilan …. “

“Ingin sekali lolos di perusahaan bonafide itu, tapi ternyata aku gagal mengikuti tes masuk.”

“Aku gagal dalam rumah tangga! Pasanganku selingkuh dan menikah lagi diam-diam. Aku tak mau dimadu, lebih baik bercerai!”

Sobat sekalian, dalam hidup tentunya kita pernah mengalami berbagai peristiwa yang menyedihkan. Tragedi yang seringkali dianggap sebagai suatu musibah. Saat musibah itu datang, ada beberapa dari kita yang merasa terjatuh dan terpuruk. Merasa dunia seolah kiamat dan diri paling menderita.

Bersabarlah, wahai Sobat. Bertahanlah meski mungkin kaki kita tak kuat untuk terus tegak berdiri. Mungkin kita sempat terjatuh, itu tak mengapa. Jatuh sesaat, terluka sesaat. Hidup pun sebenarnya hanya sesaat bukan?

Jika Sobat saat ini sedang terpuruk karena musibah yang datang bertubi-tubi, maka simaklah ini.

Sesungguhnya musibah itu adalah ujian bagi orang-orang beriman. Ujian untuk naik kelas di hadapan-Nya. Meski mungkin kita harus berdarah-darah hingga babak belur agar bisa lulus ujian. Sekali lagi tak mengapa.

Dari luka barumu itu sebenarnya Allah SWT sedang mempersiapkan mentalmu agar menjadi lebih kuat dan lebih bijak saat kembali melangkah, meneruskan perjalanan hidup. Bukankah saat pertama kali tangan kita tergores pisau, rasanya sakit sekali? Tapi ketika sudah terbiasa tergores, maka kita akan terbiasa pula dengan rasa sakit itu. Kebal. Meski mungkin tetap terasa sakit, tetapi takkan sesakit pengalaman pertama. Betul?

Di balik musibah yang datang, terkadang kalau kita mau melihat dari kacamata atau sudut pandang lain, akan terlihat hal-hal baik yang datang bersamaan dengan musibah tersebut. Tinggal kitanya mau atau tidak, bisa atau tidak untuk merekontruksi pemikiran yang negatif menjadi positif.

Mungkin seseorang yang gagal mempertahankan rumah tangganya karena diselingkuhi akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Tapi di sisi lain bisa jadi Allah menjadikan anak-anaknya untuk tampil menjadi anak-anak penghafal Alquran atau berprestasi di bidang lainnya. Mungkin saja di hari-hari selanjutnya akan datang seseorang yang lebih tepat menjadi pasangan yang setia.

Seorang wanita yang memiliki tumor di rahimnya sehingga kemungkinan sulit untuk punya anak, tetapi di sisi lain dia memiliki suami yang setia, keluarga yang selalu men-support-nya. Bukankah banyak pasangan lain yang mampu memiliki keturunan tetapi pasangannya gemar berselingkuh atau berumur pendek?

Seorang pelamar pekerjaan, yang gagal tes masuk perusahaan bonafide merasa kecewa karena kehilangan kesempatan besarnya. Tetapi mungkin bila ia lulus tes, waktunya akan habis untuk bekerja dan bekerja. Bisa saja waktu untuk beribadah dan waktu untuk berkumpul dengan keluarga menjadi berkurang.

Maka, di balik suatu musibah, selalu ada berkah yang terkandung di dalamnya. Mungkin takkan langsung mengobati luka atau yang kita rasakan, tetapi suatu saat secara perlahan-lahan, semua keberkahan itu yang akan kita syukuri dan menjadi pelipur lara. Saat itu terjadi, jiwa kita sudah semakin matang, semakin bersyukur pada-Nya, maka itu adalah ciri-ciri bahwa kita berhasil naik kelas alias lulus ujian dari-Nya.

Akan terasa sulit pada awalnya memang. Tetapi jika kita percaya pada-Nya. Yakin bahwa di balik semua ujian akan selalu ada hikmah dan berkah, seperti halnya kemunculan pelangi setelah hujan deras, maka takkan terjatuh terlalu sakit saat musibah datang. Sebab keyakinan akan kasih sayang dan pertolongan-Nya, akan menguatkan jiwa kita secara otomatis.

Jadi, siapkan selalu mental kita untuk menerima kedatangan musibah di dalam hidup sebagai suatu ujian dari-Nya. Tanda bahwa Dia sangat mencintai kita dan ingin menjadikan diri kita pribadi-pribadi yang tangguh sekaligus tak pernah lepas bergantung pada-Nya.

***

rumamediagrup/

One comment

Comments are closed.