Nenek Hujan

“Kakak, sudah ya?”

“Ih, Bunda, aku belum cerita publik speaking kemarin.”

“Minggu depan ya?, Bunda belum persiapan buat monitoring besok.”

Selalu ada drama, setiap kita pamit mau pulang dari pondok pesantren. Padahal ini tahun kedua Yasmin ada di pesantren. Wajah Yasmin mendadak mendung, mirip suasana sore itu.

Langit terlihat mulai gelap, meski jam di tanganku baru menunjukkan angka 03.15 WIB.

“Mau hujan nih.”

“Biarin.”

“Jalanan menuju kota jauh Kak. Serem, lewat hutan.”

Aish, untuk urusan kayak gini Yasmin tidak akan mau tahu. Mau panas mau hujan, baginya yang penting bareng emak sudah tenang.

Aku memandang wajahnya, memohon pengertian, betapa emaknya punya seribu alasan agar cepat pulang. Lama, akhirnya kepala dibalut jilbab putih itu mengangguk.

Yes, aku menyalakan mesin mobil. Benar saja, baru keluar pintu gerbang pondok, hujan turun sangat deras.

[wpvideo FFsuHYNV]

Dokumen pribadi

Jalanan yang aku lewati 100 persen sawah, dengan pohon berbaris dipinggir jalan beraspal. Kanan kiri terlihat sawah dengan padi yang menguning, bahkan dibeberapa petak, terlihat bekas panen.

Kilat petir beberapa kali nampak.

Faza, si bungsu, duduk di sebelah ku dengan tenang.

Matanya menatap jalan, tidak seperti biasanya asik dengan gadget. Mungkin perasaan kami sama, takut.

Terus terang perasaan was-was menguasai, angin bertiup cukup kencang. Menggoyang pohon yang berjejer di pinggir jalan.

Jarak pandang ku hanya sekitar 2 meter, ditambah kacamata minus ku yang tebal.

“Itu orang Bun?”

Badan Faza condong ke depan, kecepatan mobil semakin aku rendahkan. Pelan kaki kiri ku menekan rem.

Nampak didepan kami nenek tua berjalan membungkuk. Tangannya memindahkan bakul selangkah demi selangkah.

“Bantuin Bun.”

Aku diam.

Entah mengapa tiba-tiba aku ingat mba Dessa Rahma, teman dunia maya ku yang sering menulis cerita horor.

Siapa juga ditengah hujan kayak gini mindahin barang.

Hoho, kalau dia makhluk alam gaib gimana?, Kaki kananku menekan rem, tapi tidak sepenuhnya. Seperti juga kaki kiri ku yang menekan gas dengan gamang. Mobil berjalan pelan, mataku menatap sosok dengan baju bermotif bunga yang sudah basah kuyup. Kepalanya tertutup kain panjang yang di lilitkan ke leher dengan asal.

Tangannya mengangkat bakul sejengkal, diletakkan sejauh sejengkal. Aku yakin isinya sangat berat.

“Berhenti Bund.”

Faza menegakkan tubuh, matanya menatapku tajam.

Derrr.

Kilat menampakkan garis terang dibarengi suara menggelegar. Aku memandang Faza yang juga memandangku. Mata kami menatap nenek tua dipinggir jalan yang masih membungkuk, tangannya sejalan dengan kaki, memindahkan bakul untuk kembali berhenti.

Faza memegang sabuk pengamannya. Pelan kaki kiri ku menekan gas, berlahan, cepat dan semakin cepat.

Aku tidak sadar apa yang aku lakukan dan pikirkan, setelah memasuki perkampungan aku memelankan tekanan pada kaki kiri ku.

“Nenek itu kedinginan ya Bund?”

Rumahmediagrup/srisuprapti