Nge-Riba-nget

“Darimana mbak kok sandalnya ditenteng begitu?”

“Aku tadi dari warung yu Romlah mau beli nasi jagung buat sarapan pagi, tapi terus gak jadi. Lebih baik pulang saja dari pada bikin masalah”

“Kok gitu, memangnya ada siapa?”

“Wah sampeyan ketinggalan berita. Pagi-pagi sudah ada beita huru hara. Itu si Jamilah lagi jambak-jambakan sama yu Romlah.”

“Astaghfirulah haladzim! Masalahmya apa?”

“Dengarnya sih masalah hutang antara suami Jamilah ke suami yu Romlah yang belum juga di bayar-bayar. Tapi sebenarnya kalau menurut nara sumber yang dipercaya, katanya Jamilah sudah membayar lunas sejumlah uang yang dipinjamnya. Tapi menurut versi yu Romlah jumlahnya belum pas karena bunga pinjamannya belum lunas juga. Jamilah yang merasa sudah gak punya hutang terus ditagih di depan umum ya jelas marah to, Jum.”

“Ya Alloh, jadi uangnya beranak begitu ya? Hari gini kok masih ada orang yag mau makan uang gak halal ya?”

“Uang haram maksudnya? Siapa yang kamu maksud Jum?”

“Ya siapa lagi kalau bukan yu Romlah, itu kan terasuk memeras keingat dan mengambil hak orang lain kan mbak?”

“Ya gak juga sih Jum, hak dia itu kan uangnya dia juga. Lagian Jamilah itu juga katanya sepakat eh ujung-ujungnya … harusnya dia itu sudah berterimakasih karena sudah terbantu karena suaminya mendapat pinjaman modal.”

Juminten menghela napas dalam-dalam, akvitas riba memang sudah mendarah daging di seluruh lapisan masyarakat. Sehingga seringkali orang-orang menganggap itu hal yang lazim dilakukan.

“Begini ya mbak, saya jelaskan. Penambahan uang dalam hutang itu termasuk riba. Dan riba termasuk dosa besar dan yang menjadi pelaku riba adalah yang membuat kesepakatan yaitu yang meminjam dan yang memberikan pinjaman maupun yang menjadi saksi hutang piutang riba tersebut semua akan terseret dalam dosa dan tidak akan mencium bau surga, ngeri pokoknya Mbak. Alhamdulillah setelah saya ngaji jadi banyak tahu tentang hukum islam yang sebenarnya
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 275-279)

mbak Rambak bengong mendengarkan penjelasan Juminten, dalam hatinya ia memuji Juminten ‘kok semakin lama ia semakin cerdas dan bawaanya itu sudah mirip ustadzah setelah ngaji dengan ustdzah Yeti, gak seperti dulu o’onnya gak ketulungan.”

“Mbak, Mbak! Kok diam saja sih?”

“Iii … iiyaa Jum, aku dengar. Sudah ya, aku mau pulang dulu. Mau bikin sarapan buat yang mau sekolah dan yang kerja. Assalamualakum!”

Mbak Rambak, sambil setengah berlari keburu pergi menghilang. Juminten ganti kebingungan apa ada yang salah dari ucapannya? Oalah rupanya mbak rambak ternyata pelaku riba onlen to? Pantesan saja dia tersentil dengan ayat yang disebutkan Juminten.

rumahmedia/lellyhapsari