Obat Anti Stres dan Kepikunan Adalah Menulis 2

Fatima Mernisi, seorang intelektual Maroko, mengungkapkan bahwa menulis merupakan forum terbaik untuk menumpahkan apa saja yamg mengganggu pikiran dan perasaan. Fatima Mernisi mewartakan pada kita bahwa menulis dapat meningkatkan kualitas kesehatan manusia. Aktivitas menulis yang giat dengan kajian bahasa dan menganyam kata secara detail dapat menjadikan tubuh ini terbebas dari penyakit kronis.

Menumpahkan gagasan dalam bentuk teks juga akan menjadi terapi yang akan menyembuhkan berbagai penyakit. Ada beberapa hasil penelitian yang menunjukkan hal di atas, yaitu bahwa menulis ternyata bisa menyembuhkan berbagai macam penyakitt, baik secara fisik maupun psikis.

Pertama, menulis dapat mengurangi berat badan. Para peneliti dari Women’s Health Initiative menarik kesimpulan bahwa catatan harian tentang makanan yang dikonsumsi membantu menimbulkan kesadaran tentang konsumsi kalori dan asupan lemak. Dan jika Anda mengetahui seberapa banyak yang telah dilahap, akan lebih mudah menguranginya.

Kedua, menulis juga bisa meningkatakan kualitas tidur. Ilmuwan di Temple University menemukan bahwa wanita yang menuliskan pengalaman traumatisnya; seperti pemerkosaan atau kecelakaan lalu lintas yang parah, ternyata jarang mengalami sakit kepala, susah tidur, dan gejala depresi dibandingkan mereka yang tidak mau menulis.

Ketiga, dengan menulis dapat melawan penyakit. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2002 di Ben-Gurion University, Israel disimpulkan bahwa mereka yang menuliskan sebuah kejadian yang menjadi bahan pikiran, akan mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke klinik pengobatan selama 15 bulan ke depan.

Terapi menulis ternyata sangat membantu sejumlah pasien penyakit kanker dalam mengurangi rasa sakit dan memperbaiki kondisi tubuhnya secara umum. Hal itu diungkapkan dari hasil studi di Boston, AS yang dipublikasikan pada Journal of Pain & Symton Management yang dikutif Router Health. Menulis dengan perasaan merupakan bagian dari konsep yang disebut pengobatan naratif. Kini, pengobatan naratif tersebut telah dijadikan cara untuk membantu komunikasi para pasien kanker yang menderita sakit parah dengan para dokter.

Ternyata ungkapan perasaan dengan menulis juga dapat membantu para pasien memahami diri mereka sendiri dan kebutuhan mereka secara lebih baik. Hal tersebut disampaikan oleh dr. M. Soledad Cepeda dari Tufts-News England Medical Center di Boston, AS. Dalam studi itu, sebanyak 234 pasien kanker dibagi ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama pasien diminta menulis secara naratif. Kelompok kedua, pasien diminta menulis jawaban standar mengenai gejala rasa sakit mereka. Kelompok ketiga, pasien yang hanya diberi perawatan standar.

Kelompok pasien pertama diberi waktu 20 menit dalam seminggu untuk menulis secara naratif. Tugas menulis para pasien tersebut berlangsung selama tiga minggu. Secara umum, dari hasil studi tim Cepeda menyimpulkan bahwa pasien dalam kelompok menulis naratif menunjukkan rasa sakit mereka berkurang. Bahkan, kondisi kesehatan berkembang baik dan lebih bagus jika dibandingkan dengan sekadar beristirahat.

Jadi, kata Cepeda pelepasan emosi dengan cara menulis terbukti sangat menolong pasien kanker. Namun, ada beberapa pasien kanker yang penyakitnya sangat parah memang kerap sulit sekali untuk mengungkapkan perasaan mereka dalam menulis.

Sahabat, menurut Anda apa manfaat yang bisa didapatkan dengan kebiasaan menulis? Mungkin Anda juga bisa berbagi cerita tentang manfaat menulis yang bisa di dapatkan.

rumahmedia/deejay