Obrolan di Bale Banjar Topik : Bank Sampah

Obrolan di Bale Banjar
Topik : Bank Sampah

Sore itu, rapat Ibu-Ibu PKK Banjar Buana Asri dibuka dengan kata pembuka dari Ibu Ketua dan dilanjutkan dengan doa bersama agar acara berlangsung lancar.

“Ibu-ibu, agenda tetap kita, yang sudah kita jalankan selama ini adalah arisan, kunjungan sosial yang diutamakan kepada anggota atau warga Banjar Buana Asri ini, dan kerja bakti di lingkungan Banjar kita.” Ibu Oka sang Ketua memaparkan kegiatan kelompok mereka.

“Sekarang akan saya sampaikan rencana selanjutnya. Mohon diperhatikan dengan baik ya.” Bu Oka meminta agar yang hadir tidak sibuk sendiri.

“Kami, para pengurus telah mendapat arahan dari Bapak Kepala Desa Padangsambian Klod untuk mensosialisasikan tentang Bank Sampah. Apakah ibu-ibu pernah mendengar atau sudah mengetahui tentang Bank Sampah?” Ibu Oka melontarkan pertanyaan ke forum.

Jawaban ibu-ibu bersahut-sahutan.

“Belum tahu bu.”
“Pernah dengar tapi tidak tahu apa itu.”
“Apa itu bu, buat apa. Apakah ada bank dari sampah.”

Wah ramai sekali suasananya, dan Bu Oka senyum simpul mendengarnya.

“Baiklah ibu-ibu, stop dulu pendapatnya. Saya lanjutkan informasi berikutnya.” Bu Oka segera menengahi suasana yang ribut.

Ketua PKK itu melanjutkan pembicaraan, “Bank Sampah itu adalah konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan, tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang ikut program ini akan memiliki buku tabungan yang besarnya sebanyak sampah yang ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang. Tujuannya untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat ‘berkawan’ dengan sampah, dan mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mendapat pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya.”

Seseorang mengangkat tangannya.
“Saya mau bertanya bu. Bagaimana dengan proses dan cara kerjanya?” Bu Jero langsung bicara setelah dipersilakan.

“Bagus sekali pertanyaannya bu. Sama seperti di bank-bank penyimpanan uang, para nasabah dalam hal ini masyarakat, bisa langsung datang ke bank untuk menyetor. Bukan uang yang di setor, namun sampah yang mereka setorkan. Sampah tersebut di timbang dan di catat di buku rekening oleh petugas bank sampah. Syarat sampah yang dapat di tabung adalah yang rapi dalam hal pemotongan. Maksudnya adalah ketika ingin membuka kemasannya, menggunakan alat dan rapi dalam pemotongannya. Kemudian sudah di bersihkan atau di cuci. Jadi ibu-ibu membawa sampah yang memenuhi syarat, kemudian di tukar dengan sejumlah uang dalam bentuk tabungan.” Bu Oka menjawab pertanyaan Bu Jero.

“Saya juga ingin bertanya Bu. Sampah-sampah yang kami setor itu buat apa Bu.” Kali ini Bu Ratih yang mengacungkan tangan.

“Baik Bu Ratih. Kepala Desa menjelaskan bahwa Desa akan bekerja sama dengan pabrik atau pihak luar yang akan mendaur ulang, terutama sampah plastik agar bisa dimanfaatkan kembali. Sampah itu dapat diolah dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. Ibu-ibu harus menyetorkan minimal 1 kg kemasan plastik yang dapat ditabung yaitu menurut kualitas plastiknya. Kualitas ke 1 yaitu plastik yang sedikit lebar dan tebal (karung beras, detergen, pewangi pakaian, dan pembersih lantai). Kualitas ke 2 yaitu plastik dari minuman instan dan ukurannya agak kecil (kopi instan, suplemen, minuman anak-anak, dan lain-lain). Kualitas ke 3 yaitu plastik mie instan. Kemudian kualitas ke 4 yaitu botol plastik air mineral. Yang paling rendah yaitu kualitas 0 adalah bungkus plastik yang sudah sobek atau tidak rapi dalam membuka kemasannya. Karena akan susah untuk di gunakan kembali dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. Untuk kualitas yang terakhir, harus di setor dalam bentuk guntingan kecil-kecil (di cacah).” Ibu Oka mengakhiri penjelasannya.

Ibu-ibu mengangguk semua dan berbisik menanggapi penjelasan Bu Oka tadi.

“O begitu. Bagus juga diterapkan di Banjar kita.” Kata mereka.

“Ya benar bu, inilah salah satu alternatif untuk memecahkan masalah sampah dan ikut berpartisipasi melestarikan lingkungan yang akhirnya berdampak baik untuk bumi ini. Jadi ibu-ibu setuju kan kalau ada program ini di kegiatan PKK kita?” Bu Oka menanyakan pendapat anggotanya.

“Setuju ….” Ibu-ibu serempak menjawab.

#Nubar #BerkreasiLewat Aksara #Menulismengabadikantulisan #level4day3

rumahmediagrup/hadiyatitriono