Obrolan di Bale Banjar Topik : Heritage City

Obrolan di Bale Banjar

Topik : Heritage City

Hari Minggu, hari santai untuk ibu-ibu. Ibu yang memiliki anak kecil bisa menyuapi anaknya di luar rumah. Tidak perlu jauh-jauh ke alun-alun kota, cukup di halaman Bale Banjar dekat rumah saja. 

Pada Minggu pagi itu, tiga orang ibu muda duduk di Bale Banjar dengan memegang tempat makan, sedangkan di halaman tampak putra-putri mereka berlarian ke sana kemari.

“Dek Tari, sini habiskan dulu makananmu.” teriak Bu Ketut Sri memanggil anaknya yang tidak mau diam.

“Biarkan saja Bu, nanti kalau lapar, pasti kemari. Lagipula kita kan tidak diburu-buru seperti hari kerja dan hari sekolah.” Bu Ratih menanggapinya.

“Ibu sudah belanja ke pasar? Kok menunya Arga lengkap sekali.” Bu Ketut Sri melirik isi tempat makan Arga.

“Ah belum bu, ini belanja kemarin dan baru saya masak hari ini. Kalau hari Minggu begini biasanya kami ke Pasar Badung, sambil jalan-jalan,” jawab ibu Arga.

“Malas saya jalan ke sana, sering macet. Menurut berita, jalan yang menuju ke Pasar Badung itu sekarang disebut ‘herited sity’ ya.” Bu Ketut Sri berkata sambil menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri.

“Ya benar, ‘Heritage City’ Bu Tut. Jalan Gajahmada dengan pertokoannya di sepanjang jalan itu sudah ada sebelum kemerdekaan, oleh karena itu sekarang termasuk sebagai kawasan kota tua. Ibu lihatkan kalau sekarang lebih tertata rapi walaupun bangunannya gaya kuno. Namanya juga pusat perdagangan, pastilah kemacetan itu selalu terjadi Bu.” Bu Arga berusaha mengurai berita yang pernah dibacanya.

“Pasar Badung sekarang juga lebih modern lho Bu, seperti belanja di Mall. Saya sudah pernah ke sana sejak dibuka kembali oleh Bapak Presiden Joko Widodo. Belum lagi tukadnya yang ada di antara Pasar Badung dan Pasar Kumbasari , wah bersih sekali. Banyak orang bersantai di pinggir Tukad Badung itu.” Bu Ratih menambahkan penjelasan Bu Arga. 

“Aduh jadi ingin ke sana nih, bagaimana kalau selesai menyuapi anak-anak bu.” Bu Ketut Sri tampak bersemangat untuk segera pergi. 

“Ayo ibu-ibu, kita berangkat sama-sama saja. Kebetulan hari ini memang kami berencana ke sana. Nanti naik mobil saja, ayahnya Arga yang akan menyetir. Sekarang kita selesaikan dulu menyuapi mereka, tinggal beberapa sendok lagi.” Bu Arga menawarkan untuk pergi bersama hari itu.

Para ibu itu segera berdiri dan mendekati anak masing-masing untuk segera menghabiskan makanannya dan dijanjikan jalan-jalan ke Pasar Badung, nostalgia di kawasan kota tua atau bahasa kerennya ‘Heritage City’.

Kami, masyarakat kota Denpasar ikut bangga dengan perolehan Penghargaan untuk kota Denpasar sebagai kota inovatif dan menyandang gelar sebagai kota terinovatif di Indonesia.

Penghargaan diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2019. 

——————

Tukad (Bahasa Bali) artinya sungai

Bu Tut : panggilan singkat untuk Ibu Ketut

#NulisBareng

#rumahmediagrup

#BerkreasiLewatAksara

#menulismengabadikankebaikan

Sumber foto : Pinterest.com dan Google

rumahmediagrup/hadiyatitriono