Obrolan di Bale Banjar Topik : Persepsi (Bank Sampah 2)

Obrolan di Bale Banjar

Topik : Persepsi (Bank Sampah 2)

Pelaksanaan Program Bank Sampah mulai dilakukan Kelompok Ibu-Ibu PKK Banjar Buana Asri. Satu per satu ibu-ibu datang dengan menenteng limbah sampah, yang memenuhi kriteria untuk disetor ke Bank Sampah.

Di sana sudah ada bu Oka si Ketua PKK, bu Ratmi di bagian buku tabungan sampah, bu Ratih dan bu Jero yang menerima, menyeleksi dan menimbang limbah yang disetor oleh ibu-ibu, serta dua orang pemuda dari Sekeha Teruna Teruni yang membantu menempatkan sampah yang sudah ditimbang ke dalam kantong besar.

Bu Oka menyampaikan alur penyerahan hingga mendapatkan nilai di buku tabungan.

“Ibu-ibu, pertama silakan ke petugas penerima untuk di timbang dulu sampah yang dibawa. Setelah itu ibu tunggu dulu untuk di hitung nilai uangnya oleh Bu Ratmi. Urutan petunjuknya lihat tanda yang ada di masing-masing meja ya.” Bu Oka berseru kepada ibu-ibu yang hadir hari Minggu pagi itu.

“Ibu Ketua, ini setoran saya. Ada kaleng susu dan gelas bekas minuman kemasan bu,” kata Bu Alit sambil menunjukan barang yang dibawanya. 

“Ya Bu, silakan ikuti tanda yang ada di meja,” jawab bu Oka.

Ibu-ibu bergantian menunggu giliran untuk menyerahkan dan menerima catatan nilai sampahnya di buku Bank Sampah.

Mereka yang menunggu untuk mengambil buku Bank Sampah, saling mengobrol satu sama lain, hingga pandangan mereka tertuju pada sosok asing yang masuk ke halaman Bale Banjar.

Dia seorang laki-laki dengan penampilan rapi, kemeja lengkap dengan dasinya. Tampak bukan warga Perumahan Buana Asri.

“Selamat siang ibu-ibu. Maaf mengganggu acaranya. Saya lihat dari jalan, ibu-ibu berkumpul di sini sambil ngobrol. Ini acara Bank Sampah ya bu.” Lelaki itu memulai pembicaraannya.

Bu Jero yang merasa curiga dengan lelaki necis itu, segera berdiri dan menjawab.

“Ya kami kumpul untuk setor sampah. Bapak ini siapa dan mau apa.”

“Perkenalkan nama saya Jaka, dan saya kemari mau menawarkan minyak wangi.” Laki-laki yang mengaku Jaka itu segera membuka tas besar yang dibawanya.

“O pedagang parfum.”

“Keren sekali seperti model.”

“Awas lho hati-hati, modus penipuan nih.”

Wah ramai ibu-ibu menanggapi kedatangan Jaka, si penjual parfum.

“Silakan bu, ini testernya. Ini bibit parfum bu, tapi kalau pakai campuran bisa lebih murah lagi harganya. Jangan khawatir, saya murni jualan parfum bukan yang lain.” Jaka berkata sambil mengoleskan sedikit cairan parfum ke punggung tangan ibu-ibu sesuai aroma yang diminta.

“Pak Jaka, jualan minyak wangi saja pakai baju formal begini.”

Akhirnya, ada juga yang menilai penampilan penjual. 

Gaya tenang dan selalu senyum, Jaka menjawab pertanyaan Bu Puspa.

“Minyak wangi itu identik dengan harum, segar dan bersih. Kalau penampilan saya berantakan, bagaimana persepsi orang yang saya tawarkan produknya.”

Jaka berhenti sejenak, lalu dilanjutkannya.

“Ibu-ibu pasti tidak suka kalau penampilan pedagangnya acak-acakan. Benar kan?”

“Wah, pak Jaka ini pintar menarik hati pembeli. Tapi di sini kan sedang penuh sampah, jadi sulit untuk mencium aroma yang benar dari parfum ini.”  Bu Ayu mengutarakan pendapatnya.

“Silakan ibu-ibu yang berminat saat ini, bisa membeli yang botol kecil ukuran 5ml. Ini sekaligus bisa mengurangi penciuman bau kurang sedap di sini.” kata Jaka berseloroh.

Jaka melanjutkan, “Bagi yang ingin lebih akurat aromanya di luar suasana di sini, bisa menghubungi saya di nomor yang tertera di kartu nama saya. Saya bersedia untuk datang.”

Jaka mengeluarkan kartu namanya dan diberikan kepada ibu-ibu yang masih menunggu giliran dipanggil petugas. 

Satu dua orang, ada juga yang berminat membeli parfum dagangan Jaka.

Bu Oka mengeraskan suaranya saat ibu-ibu masih fokus dengan Jaka.

“Ibu-ibu, tolong perhatikan nilai yang tertera di Buku Bank Sampahnya. Bila ragu dengan nilainya, segera tanyakan bu Ratmi sekarang.”

Jaka tahu diri, lalu berpamitan dengan ibu-ibu dan mendekati bu Oka.

“Terima kasih Bu, maaf kalau sedikit mengganggu. Saya permisi dulu Bu, selamat siang.

“Ya Pak, silakan.” Bu Oka menjawab singkat.

Ibu-ibu menyelesaikan acara hari itu, tampak senang dan berubah juga persepsi mereka selama ini bahwa sampah adalah barang yang sudah tidak bernilai. 

Ternyata sampah masih bisa dimanfaatkan bila tahu caranya. Sampah sebagai barang kotor, sekarang tampak cantik dan menggiurkan. 

Mengatasi sampah itu seperti menghadirkan aroma parfum yang mewakili kebersihan hingga terasa sensasi segarnya, memberi ketenangan dan bahkan kemewahan, bila pada tempatnya.

#Nubar #NulisBareng #rumahmediagrup #BerkreasiLewatAksara #menulismengabadikankebaikan #Level4 #Week2 #day4

rumahmediagrup/hadiyatitriono