Obrolan Petang – Bagian 1

Obrolan Petang – Bagian 1

Seperti biasa, selepas asar, Aki Rahmat sibuk bercengkerama dengan tanaman-tanaman peliharaannya yang tumbuh dalam polybag. Dia sirami satu per satu tanamannya itu dengan gembor. Cerek plastik dengan ujung pancurannya yang ditutup corong berlubang kecil-kecil itu menjadi teman setia Aki Rahmat dalam mengurusi tanamannya.

“Ayo minum dulu  biar kamu cepat besar,” tutur Aki Rahmat saat menyirami pohon cabai yang baru seminggu dia pindahkan ke dalam polybag. “Biar kamu kelihatan lebih oke, daun kuningmu aku buang, ya,” lanjutnya.

“Rajin,Ki!” Mang Kardin menyapa dari luar pagar.

“Eh, Mang Kardin. Sini, Mang!” Aki Rahmat mempersilakan Mang Kardin masuk ke halaman rumahnya. “Sebentar ya, Mang. Saya selesaikan dulu nyirami dan nyiangi tanaman. Sedikit lagi, kok,” lanjut Aki Rahmat.

“Lanjutkan, Ki,” Mang Kardin mendekat. Dia memperhatikan apa yang dilakukan Aki Rahmat. “Kok, tanamannya diajak ngobrol, Ki?” Tanyanya kemudian.

“Seperti halnya kita, tumbuhan pun suka jika kita beri perlakukan positif. Coba saja Mamang perhatikan tanaman saya. Subur-subur, kan? Itu karena selain diberi pupuk dan disirami,  tanaman-tanaman ini saya ajak mengobrol juga,” paparnya panjang lebar.

“Ooh, begitu ya, Ki?” Mang Kardin manggut-manggut.

“Iya, seperti kita kan Mang? Kita juga senang jika mengobrol. Saat hati kita merasa senang, maka tubuh kita pun mereaksi positif. Makanya, orang yang hatinya senantiasa senang dan bahagia, maka tubuhnya pun akan sehat. Virus pun tidak akan mudah masuk. Kita ngobrolnya sambil duduk di teras yuk, Mang,” ajak Aki Rahmat. Dia segera merapikan perlengkapan yang tadi digunakan mengurus tanamannya, lalu mencuri tangannaya di keran yang ada di sudut halaman.

Keduanya duduk berseberangan di kursi teras terhalang meja menghadap ke halaman rumah yang sarat dengan aneka tumbuhan.

“Ada kabar baru apa, Mang?” Tanya Aki Rahmat sambil mengambil gawainya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.

“Pemerintahan desa semakin gencar mengimbau masyarakat agar tinggal di rumah saja. Jumat besok, kita diimbau untuk tidak berjamaah di masjid. Kita salat zuhur di rumah masing-masing saja,” papar Mang Kardin.

“Penutup jalan desa masih dipasang, Mang?”

“Masih, malah sekarang semakin ketat. Yang menjaga juga dijadwal. Pokoknya, jika ada pendatang, atau orang luar daerah yang mau masuk, diperiksa dulu. Yang keperluannya tidak mendesak, diminta untuk kembali pulang. Oh ya, tadi pagi mamang ada keperluan ke bank. Sebelum masuk, satpam di situ meletakkan benda putih yang sering mamang lihat di televsi dan menyemprotkan, apa tuh namanya …?”

“Disinfektan, Mang?”

“Bukan. Itu yang bening di botol kecil tuh. Yang disemprotkan ke tangan,”

“Ooh… hand sanitizer, Mang?”

“Iya itu. Dan alat yang disebut pengukur suhu badan ya? Bangku tempat para nasabah menunggu giliran dipanggil pun sekarang diatur, selang satu. Satu kursi boleh digunakan, sedangkan satu kursi di sebelahnya disilang sebagai tanda tidak boleh diduduki,” Mang Kardin menceritakan apa yang dialaminya saat di bank.

“Jaga jarak, ya Mang,” timpal Aki Rahmat.

“Iya,’ jawab Mang Kardin singkat.

“Bukan hanya di bank, hal semacam itu diberlakukan juga di tempat-tempat umum lainnya, Mang. Selain dianjurkan senantiasa memakai masker dan menjaga jarak, kita juga harus lebih  menjaga kebersihan tangan kita karena tangan merupakan salah satu jalan masuknya virus ke dalam tubuh kita. Bahkan saat ini, kita juga menjaga jarak kan, Mang. Di antara kita ada meja yang menghalang.” Aki Rahmat mulai mengutak-atik gawainya.

“Ada kabar baru apa, Ki?” Mang Kardin turut memandangi layar gawai Aki Rahmat. Begitulah, ketika bersama, kedua orang tua itu selalu saja saling bertukar informasi.

“Banyak kabar baru nih, Mang. Tentang semakin banyaknya masyarakat yang dinyatakan positif terkena corona. Ini juga nih, makin banyak pemerintah daerah yang mengambil kebijakan untuk menerapkan lockdown di daerahnya. Banyak warga yang gagal menggelar resepsi pernikahan karena larangan mengadakan kumpul-kumpul, bahkan ada juga kabar tentang warga yang menolak penguburan jenazah korban corona di wilayahnya.” Aki Rahmat menghela nafas panjang.

            “Miris ya, Ki. Kasihan sekali jenazah yang ditolak di sana-sini. Bagaimana jika itu menimpa kita atau keluarga kita,” gumam Mang Kardin seolah bertanya pada dirinya sendiri.

            “Begitulah, Mang. Corona yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang saking kecilnya itu telah menebar kepanikan yang luar biasa pada dunia. Tak ubahnya seperti hantu yang tidak terlihat tapi begitu menakutkan. Ditambah lagi oleh informasi yang simpang-siur di media sosial, menambah kepanikan di masyarakat kita. Ketika kepanikan memuncak, maka ada kalanya logika kita tidak lagi jalan. Akhirnya, tindakan yang dilakukan pun sudah di luar daya nalar, bahkan seolah tidak menggunakan akal sehat lagi.”

            Matahari mulai tenggelam meninggalkan semburat kemerahan di ufuk barat. Menjadi komando bagi yang sedang mengobrol untuk segera mengakhiri obrolannya. Saatnya manusia meninggalkan urusan keduniawian dan tenggelam dalam khusyuk ibadah, memasrahkan diri pada kuasa Sang Pencipta. Menafakuri apa yang sedang menimpa dan akhirnya memohon perlindungan dari segala marabahaya.***

#RMG_obrolanpetang01_sinur

rumahmediagrup/sinur