Obrolan Petang – Bagian 10

Obrolan Petang – Bagian 10

Kali ini, cuaca begitu cerah. Seusai bercengkerama dengan tanaman-tanamannya yang kini mulai berbunga, Aki Rahmat menikmati indahnya suasana petang. Dia duduk di kursi teras sambil terus memperhatikan tanaman peliharaannya. Ekor matanya menangkap sosok yang bergerak mendekat. Ternyata itu Mang Kardin, tetangga sebelah yang beberapa hari ini tidak menampakkan batang hidungnya. Dia menghampiri Aki dengan wajah berseri-seri.

Bagea, Mang. Lawas ti lawas baru nongol lagi,” sambut Aki Rahmat dengan hangat.

“Iya nih, Ki. Gara-gara kabar ada yang positif corona di desa sebelah, Mamang jadi ketakutan keluar rumah,” balas Mang Kardin.

“Betul-betul positif, Mang? Saat itu kan hasil swab-nya belum keluar,” tanya Aki.

“Ternyata hasilnya negatif, Ki,” jelas Mang Kardin.

“Alhamdulillah …. Ini kabar bagus, Mang,” Aki menarik nafas lega. “Mamang tahu informasi ini dari siapa?” Tanya Aki lagi.

“Iya, Ki. Alhamdulillah. Mamang juga lega sekarang mah. Mamang tahu dari anak mamang yang bungsu. Dia mendapat kiriman video  dari temannya yang tinggal di desa sebelah. Kata anak mamang sih dia tuh masih kerabat almarhum yang beberapa hari lalu meninggal dan dinyatakan positif terjangkit corona,” Mang Kardin menjelaskan.

“Video tentang apa, Mang?” Aki terlihat penasaran.

“Video dari pihak puskesmas kecamatan mengenai kabar korban corona, Ki. Di video itu dijelaskan bahwa wilayah kecamatan kita dinyatakan bersih corona. Adapun kabar tentang positifnya pasien yang meninggal itu, itu baru hasil tes … apa itu namanya? Mamang lupa,” mengernyitkan dahi.

“Rapid test Mang,” Aki mengingatkan.

“Oh iya … ya itu. Rapid test. Menurut penjelasan dari pihak puskes, tes rapid itu sih bukan hanya mendeteksi terjangkit virus corona, tapi untuk semua virus yang menjangkiti. Syukurlah, wilayah kita masih aman,” Mang Kardin terlihat sumringah. “Mamang jadi bisa keluar rumah lagi. Bosan tinggal terus di rumah,” lanjutnya.

Ambu Rahmi muncul dari pintu membawa dua gelas minuman yang masih mengepul. Diletakannya masing-masing gelas itu di atas meja di dekat Aki dan Mang Kardin. “Cobain bajigurnya, Mang,” Ambu mempersilakan.

“Iya, Mang. Coba cicipi bajigur buatan Ambu,” Aki juga mempersilakan Mang Kardun untuk mencicipi baigur buatan Ambu Rahmi. Dia sendiri lantas meraih gelas bagiannya. Sebelum diseruput, dia hirup dulu aroma bajigurnya itu. “Hemmmm … dari baunya saja Aki tahu. Ini pasti enak,” kata Aki lagi.

Ditampi, Ambu,” Mang Kardin meraih gelas bagiannya. Dia mengikuti yang dilakukan Aki. Sebelum diseruput, dia hirup dulu uap bajigurnya.

“Iya, mangga, Mang. Cuma minumnya doang. Tidak ada camilannya,” jawab Ambu.

Cekap, Ambu,” jawab Mang Kardin.

“Bagaimana, Mang? Enak tidak bajigurnya?” Tanya Aki.

“Wuih… mantap surantap ini mah. Enak pisan, Ki,” Mang Kardin mengacungkan jempol. “Ambu tiasaan pisan buat bajigurnya,” lanjutnya sambil menoleh ke arah Ambu. Ambu hanya menjawab dengan senyum.

“Mang Kardin membawa kabar bahagia nih, Ambu,” Aki memulai obrolan lagi.

“Kabar apa, Ki?” Ambu penasaran.

“Itu, infomasi tentang warga desa sebelah yang beberapa hari lalu dinyatakan positif corona,”  Aki menyeruput bajigurnya.

“Bagaimana katanya, Ki?” Ambu terlihat makin penasaran.

“Itu teh ternyata meninggalnya bukan karena corona,” Mang Kardin yang menjawab.

“Tahu dari mana, Mang?” tanya Ambu.

“Dari video yang disebarkan pihak puskesmas kecamatan, Ambu,” jawab Mang Kardin.

“Ooh yang di mobil ambulans itu, ya Mang?” tanya Ambu lagi.

“Iya, Ambu. Ambu dapat kiriman juga?” Mang Kardin terlihat penasaran.

“Iya, Mang. Cuma belum sempat Ambu buka. Jadi isinya klarifikasi tentang itu ya, Mang?” tanya Ambu. Mang Kardin menjawab dengan menganggukkan kepala. “Syukurlah jika memang hasilnya negatif. Kita bisa lebih tenang.” Ambu menghela nafas lega.

Hening sejenak.

 “Ambu kepikiran keluarga yang ditinggakannya. Waktu dinyatakan positif dari hasil rapid, keluarganya juga katanya dikarantina. Ambu bisa merasakan betapa duka mereka bertambah-tambah. Sudah mah kepala keluarga mereka meninggal. Dinyatakan positif corona pula. Dimakamkannya pun menggunakan protokoler untuk korban corona. Bagaimana bisa mereka mendekat, apalagi turut menguburkannya. Mereka sendiri dikarantina,”  sejenak Ambu berhenti bicara.kembali hening.

“Jangankan tetangga dan masyarakat sekitar. Karib kerabatnya saja kan tidak diizinkan mendekat, sekadar untuk memberikan dukungan. Kebayang … mereka menelan dukanya sendiri,” suara Ambu terdengar gemetar terdorong emosi yang muncul memenuhi perasaannya. Matanya terlihat berkaca-kaca.

“Iya Ambu. Corona benar-benar membuat tatanan hidup masyarakat kita amburadul,” Aki menimpali.

“Jadi, keluarga korban sekarang sudah tidak dikarantina lagi, Mang?” Ambu bertanya lagi pada Mang Kardin.

“Saya dengar sih begitu, Ambu. Masyarakat sudah berani mendekat,” Jawab Mang Kardin.

“Syukurlah,” Ambu menghela nafas. “Ambu juga ingin mengunjungi mereka. Ya … sekadar memberikan dukungan moral supaya mereka merasa banyak yang berempati. Mudah-mudahan bisa sedikit meringankan derita mereka,” lanjutnya.

“Bagus, Ambu. Aki juga setuju. Tapi, kita harus tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk menjaga jarak dan jangan lupa memakai masker,” Aki mengingatkan.

“Tentu, Ki,” Ambu menjawab singkat.

Di ufuk barat, malu-malu mentari sembunyi di balik punggung Ciremai. Semburat keemasan mulai menghias langitnya. Mang Kardin segera pamit pulang. Tinggallah Aki dan Ambu yang mulai beriap-siap menunggu azan magrib berkumandang. ***  

Catatan:

Bagea (Sunda): Kata yang digunakan untuk menyapa orang yang lama tidak bertemu.

Lawas ti lawas (Sunda): sudah lama sekali

Ditampi (Sunda): diterima (kata yang digunakan saat menerima tawaran untuk mencicipi makanan)

Mangga (Sunda): silakan

Pisan (Sunda): sangat; sekali

Tiasaan pisan (Sunda): sangat pandai

Cekap (Sunda): cukup

Teh, mah (Sunda): tidak mempunyai arti khusus, tapi digunakan untuk penekanan kalimat.

#RMG_obrolan petang10_sinur

Rumahmediagrup/sinur