Obrolan Petang – Bagian 2

Obrolan Petang – Bagian 2

Seperti biasa, setelah mengurusi tanaman di halaman rumahnya, Aki Rahmat duduk santai di teras rumah sambil menikmati segarnya udara sore. Berkali-kali dia menoleh ke arah  rumah Mang Kardin. Rumah mereka memang bersebelahan. Rumah Mang Kardin berada di samping kanan rumah Aki Rahmat. Kedua bertetangga itu biasa saling mengunjungi. Sebetulnya, belum genap setahun Aki Rahmat menetap di kampung itu. Dia dulu seorang pejabat teras salah satu BUMN di ibu kota. Setelah pensiun, dia kembali ke kampung halamannya dan menetap di rumah yang sengaja dia bangun di atas tanah warisan dari ayahnya.

 Aki Rahmat adalah sosok pria tua bersahaja. Meskipun jarang keluar rumah, tapi di kampung barunya itu, dia dikenal warga sebagai dermawan. Begitu juga dengan istrinya, yang dikenal dengan panggilan Ambu. Kedua suami istri itu disukai para tetangganya. Di antara semua tetangganya itu, Mang Kardinlah yang paling sering mengobrol dengan Aki Rahmat. Selain karena rumahnya yang memang bersebelahan, kedua laki-laki itu sama-sama suka mengobrol.

“Ke mana ya Mang Kardin? Tumben sore begini tidak terlihat batang hidungnya?” Batin Aki Rahmat. Diambilnya gawai yang selalu berada di dekatnya. “Untung ada benda kecil ini, jadi aku bisa lihat kabar terkini. Jika  tidak ada ini, aku harus terus nongkrong di depan televisi,” gumamnya. Di kampung itu memang sulit mengakses surat kabar. Makanya, Aki Rahmat selalu mencari berita terkini di gawainya. Dia tidak terlalu suka berada lama-lama di depan televisi.  “TVRI sulit diakses di sini,” keluhnya suatu ketika. Memang ada juga beberapa chanel televisi swasta yang suka dia tonton. Tetapi itu pada acara tertentu saja yang memang dia suka. Acara-acara yang membuka wawasan tentunya. Selain alasan itu, karena televisi di rumahnya hanya ada satu, sementara Ambu lebih mendominasi untuk memegang kendali remot, maka Aki Rahmat memilih mengalah. “Biarlah, si Ambu dapat hiburan gratis dengan sinetron atau film-film impor kesukaannya,” kilahnya suatu ketika.

Hampir setengah enam petang saat Mang Kardin menghampiri Aki Rahmat. Seperti biasanya, kedua sahabat itu langsung larut dalam obrolan tentang berita terkini, masih sekitar corona.

“Dari mana saja, Mang? Baru kelihatan,” tanya Aki Rahmat.

“Bantu-bantu di rumah Jana, adik bungsu saya di desa sebelah,” jawab Mang Kardin.

“Memangnya Mamang bantu apa di Mang Jana?” Tanya Aki Rahmat penasaran.

“Besok, Jana mau menikahkan anaknya. Jadi tadi saya bantu siap-siap. Meskipun tidak digelar seperti rencana semula, tetap saja perlu persiapan.” Mang Kardin menarik nafas panjang.

“Ijab kabulnya di rumah atau di KUA, Mang?”

“Di KUA, Ki. Yang hadirnya juga dibatasi. Paling banyak sepuluh orang. Perlu waktu lama untuk menentukan siapa saja yang akan hadir. Semua keluarga mau menghadiri akadnya. Akhirnya, diputuskan hanya ibu-bapak dan kakak-kaka pengantin saja yang ikut ke KUA,” suara Mang Kardin agak tercekat.

“Apa boleh  buat, Mang. Dalam kondisi  seperti sekarang ini, kita harus ikuti imbauan pemerintah. Semua aturan yang dibuat, tentunya untuk kebaikan kita juga. Yang penting, kedua calon pengantin bisa sah menjadi suami istri. Sah menurut agama maupun negara. Kalaupun mau menghelat pesta, nanti saja setelah kondisi membaik.” Aki Rahmat mencoba mengurangi rasa kecewa Mang Kardin.

“Iya, Ki. Yang mau nikah kan anak bungsu. Semula akan menggelar pesta meriah. Tapi kondisi sekarang tidak diperbolehkan untuk itu. Untungnya calon mempelai prianya sama-sama penduduk sini. Coba kalau orang jauh, mungkin masalahnya akan lebih pelik lagi.”

Hening sejenak.

“Tradisi di kampung kita ini, selain lebaran, sanak keluarga yang merantau akan mudik jika ada keluarga yang menggelar hajat perikahan. Jadi, saat-saat seperti itulah kami bisa berkumpul dengan semua keluarga besar. Sayangnya, kali ini kerabat yang merantau terhalang corona sehingga tidak bisa berkumpul di rumah hajat.” Mang Kardin masih terlihat kesal.  

“Kita harus berlapang dada menghadapi semua ini. Janganlah kita menyalahkan keadaan. Coba saja pikir, siapa coba yang mau ada dalam kondisi seperti sekarang. Masih beruntung kita berada di kampung yang masih bersih dari wabah corona. Di sini, kita berupaya agar jangan sampai tertular. Sementara untuk saudara-saudara kita yang dinyatakan positif terjangkit, Mamang bisa bayangkan betapa mnderitanya mereka. Bukan hanya karena harus diisolasi dan dirawat intensif, tapi juga karena masyarakat akan berpikir negatif tentang mereka. Belum lagi jika di antara pasien korban corona itu meninggal dunia. Mamang pernah dengar juga kan ada penolakan dari sebagian warga terhadap jenazah yang akan dimakamkan di wilayah mereka?” Aki Rahmat terdiam sejenak. Sementara itu Mang Kardin masih terlihat mengangguk-angguk.

“Mamang percaya kan, bahwa semua yang terjadi itu sudah digariskan yang Maha Kuasa?” Sambungnya.

“Iya, Mamang percaya.” Jawab Mang Kardin singkat.

“Sekaranglah saatnya kita bersabar sambil terus menelisik diri. Mengintrospeksi diri, jangan-jangan semua yang menimpa kita kali ini karena ulah manusia sendiri. Maksud saya, mungkin ini merupakan teguran dari Yang Mahakuasa. Atau setidaknya, Tuhan ingin melihat sebatas apa kita bisa bersabar terhadap kondisi yang tidak menyenangkan ini. Emm… azan magrib tuh Mang. Kita keasyikan mengobrol sampai tidak sadar waktu berlalu begitu cepat. Kita sambung lagi besok Mang.” Aki Rahmat menutup obrolannya.

Setelah mengucapkan terima kasih, Mang Kardin pamit pulang. ***

#RMG_obrolanpetang02_sinur

rumahmediagrup/sinur