Obrolan Petang – Bagian 3

Obrolan Petang – Bagian 3

Seperti biasanya, selepas mengurusi tanaman-tanamannya yang kian subur, Aki Rahmat duduk santai menikmati indahnya suasana petang. Kali ini, bukan Mang Kardin yang menemaninya mengobrol. Sudah dua hari ini, pemerintahan desa mengimbau agar warga tetap tinggal di rumah. Tidak boleh ada yang berkeliaran dan kumpul-kumpul. Karena itulah Mang Kardin tidak bertandang ke rumah Aki Rahmat. Kali ini, Aki Rahmat ditemani Ambu.

“Tidak ada Mang Kardin, sepi ya Ki,” Ambu memulai obrolan sambil meletakkan gelas berisi bajigur di atas meja. Lalu duduk di kursi seberang Aki.

“Iya, Ambu. Seperti ada yang hilang kalau Mang Kardin tidak bertandang,” menyeruput sedikit demi sedikit bajigur yang masih mengepul.

“Semakin ketar-ketir saja ya, Ki. Kabar mengenai corona masih saja menjadi berita utama di televisi.” Ambu membenahi duduknya. “Ambu kangen cucu-cucu di Jakarta. Apa boleh buat, kita tidak bisa ke sana, mereka pun tidak bisa ke sini menjumpai kita.” suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca. “Kita ngalami juga yang namanya lockdown ya, Ki,” menghela nafas panjang

Aki Rahmat dan Ambu memang memiliki anak tunggal, Satria namanya. Satria menikah dengan Rania, teman kuliahnya. Mereka menikah  sepuluh tahun yang lalu, tapi baru tahun ke enam setelah pernikahannya mereka dikaruniai momongan. Aina dan Aini lahir sebagai anak kembar.

“Baru juga kemarin video call-an, sudah kangen lagi, Ambu? Doakan saja agar mereka sehat wal’afiat,” suara Aki pun terdengar berat. Sejujurnya, Aki juga sangat meridukan  celoteh cucu-cucunya. “Kalau Ambu mau, lakukan panggilan video lagi saja,” lanjutnya.

“Iya, Ki. Nanti malam saja seusai magrib. Biasanya jam segini mereka sedang asyik bermain sepeda di taman depan komplek,” jawab Ambu.

“Ambu lupa ya?”

“Apa, Ki?”

“Sekarang mana boleh anak-anak main sepeda di taman depan komplek. Stay at home, kan Mbu. Apalagi sekarang sudah diterapkan PSBB, itu loh pembatasan sosial bersekala besar,” papar Aki.

“Oh iya! Ambu sampai lupa. Berarti mereka ada di rumah ya Ki?”

“Kemungkinan besar sih begitu,” jawab Aki singkat.

“Oh iya Ki, tadi tuh apa yang disebutkan Aki? PSPB atau apa tuh?” Ambu mengernyitkan dahi.

“PSPB … Itu sih pelajaran saat kita sekolah dulu. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa

Makanya … tonton berita! Jangan sinetron dan film seri melulu yang ditonton, ha … ha .. ha…,” tertawa terbahak-bahak.

“Hus! Awas muncrat!”

“Sekarang, tertawa lepas pun dilarang ya?” Tanya Aki sambil menahan tawa.

“Khawatir muncrat, Aki. Kalau mau tertawa lepas, pakai masker tuh, Ki!” Jawab Ambu mengulum senyum.

Kirain bersin dan batuk doang yang harus ditutup,” canda Aki.

“Itu sih wajib dari dulu, atuh Aki …. Kembali ke PSPB, eh … apa tuh?” Ambu mengernyitkan dahi.

“PSBB, Ambu, Pembatasan Sosial Bersekala Besar. Intinya mah jangan dekat-dekat, harus jaga jarak,” jawab Aki.

Ambu melakukan panggilan video pada anaknya di Jakarta. Selain untuk mengobati rasa kangen, juga supaya hati Ambu merasa tenang jika anak-cucunya baik-baik saja.

“Aki … nih si kembar Ki!” Ambu mengarahkan layar gawainya ke hadapan Aki. Aki melambaikan tangan, menyapa cucu-cucu kesayangannya. Ambu asyik mendengarkan ocehan kedua cucunya. Sesekali dia menimpali.

Azan magrib berkumandang. Aki dan Ambu pun segera bersiap untuk menghadap sang Mahakuasa. Dalam kondisi seperti sekarang ini. Mendekat pada Sang Kholik merupakan kebutuhan para hamba. ***

#RMG_obrolanpetang3_sinur

rumahmediagrup/sinur