Obrolan Petang – Bagian 4

Obrolan Petang – Bagian 4

Aki Rahmat baru saja tiba di rumah. Setelah membersihkan diri dan bergati pakaian, Aki segera mengambil gembor. Rutinitas petang yang kini seolah menjadi kebutuhan, mengurusi tanaman merupakan hiburan tersendiri baginya. Ada kebahagiaan tersendiri saat apa yang dia tanam tumbuh subur. Setiap kali melihat ada geliat pucuk dari tanamannya, hati Aki dipenuhi bahagiia. Apalagi saat tanamannya mulai berbung, kemudian berbuah lebat. Tak henti-hentinya Aki berucap syukur sambil mengelus lembut tanamannya

“Banyak yang ikut ke pemakaman, Ki?” Tiba-tiba Ambu Rahmi berdiri di samping suaminya.

“Alhamdulillah … banyak, Ambu,” jawab Aki Rahmat. Menoleh sekilas, lalu kembali mengamati tanaman di hadapannya.

“Syukurlah! Almarhum memang orang baik. Pantas saja banyak yang mengantar hingga peristirahatannya yang terakhir,” kata Ambu sambil beranjak menuju samping rumah. Diambilnya sapu lidi yang biasa dia gunakan untuk menyapu halaman.

Sementara itu, setelah puas bercengkerama dengan satu tanaman, Aki Rahmat menyiramnya sambil berkata, “Minumlah, beri Aki buah yang lebat, ya!” Setelah itu, Aki beralih pada tumbuhan lain hingga semua tersirami.

“Masih ada jahe, Ambu?” Tanyanya sambil beranjak menuju teras. Lalu duduk di kursi yang biasa ia duduki setiap petang.

“Masih, Ki. Kopi apa teh?” Ambu balik bertanya.

“Apa saja deh. Semua minuman yang Ambu buat pasti ueeenak!” canda Aki sambil mengacungkan jempol.

“Sebentar ya Ki, Ambu buatkan dulu minumannya,” beranjak ke dapur. Kembali ke teras dengan membawa dua cangkir teh jahe. “Ini, Ki. Teh jahe spesial penangkal covid-19 buatan Ambu Rahmi. Dijamin ces pleng!” Ambu meletakkan cangkir the jahe di atas meja dekat Aki Rahmat.

“Terima kasih istriku. Urusan minuman sehat, Ambu memang jagonya!” Puji Aki sambil meraih cangkirnya, lalu menyeruput sedikit demi sedikit teh jahe yang masih mengepul. “Hemmmm … Aromanya juga muantap! bikin hidung Aki makin plong,” lanjutnya.

“Iya atuh, Ki. Siapa dulu dong yang bikin,”  kata Ambu sambil meraih cangkirnya.

Hening sejenak. Keduanya asyik menyeruput teh jahe panas buatan Ambu.

“Kita harus banyak-banyak bersyukur, ya Ambu,” membuka kembali percakapan.

“Maksudnya, Ki?” Ambu mngernyitkan dahi.

“Sekarang kita hidup di desa. Udaranya masih bersih, penduduknya ramah-ramah dan rasa kekeluargaannya kuat,” diselang menyeruput teh jahenya lagi. “Tadi saja, Aki perhatikan sejak jenazah masih di rumahnya, pelayat terus berdatangan. Yang turut mengiring jenazah dan menghadiri pemakamannya juga lumayan banyak.  Sama sekali tidak tergambar adanya kepanikan. Masyarakat di sini yakin betul bahwa almarhum meninggal karena sakit jantung. Bukan karena corona. Lagi pula, di desa kita belum terkabarkan ada yang positif tertular corona.”

“Tidak seperti di kota ya,Ki. Dulu saja saat ada tetangga kita yang meninggal, hanya tetangga dekat, saudara, serta teman sejawat yang datang melayat. Itu pun hanya melayat sesaat. Yang mengiring ke pemakaman sih hanya dari pihak keluarganya saja. Apalagi sekarang, saat terjadi wabah,” Ambu turut menjelaskan.

 “Iya, Ambu. Beberapa waktu lalu, kan ada tuh jenazah perawat yang ditolak warga saat mau dikuburkan di wilayahnya,” wajah Aki berubah sendu.

“Iya, tuh. Sampai hati ya, mereka. Apa mereka tidak berfikir bahwa perawat itu bisa saja tertulari saat merawat pasiennya? Apa mereka juga tidak berpikir, bagaimana itu terjadi pada mereka atau keluarga dekat mereka? Coba kalau mereka di posisi perawat itu!” Ambu terlihat begitu geram.      

“Itulah gambaran betapa belum cerdasnya warga seperti mereka. Coba saja pikir, jenazah itu kan sudah diurus sesuai prosedur kesehatan, orang yang cerdas akalnya, tidak akan tuh keberatan jika jenazah itu dikuburkan di wilayah mereka.”

Hening lagi.

“Mereka pun  tidak cerdas secara emosional. Mereka tidak bisa berempati agar bisa merasakan bagaimana perasaan dari keluarga korban. Pasti dukanya bertambah-tambah kan? Sudah mah berduka karena ditinggalkan orang yang mereka sayang, mendapat perlakuan tidak manusiawi pula.”

“Iya, Aki. Orang-orang kayak gitu sih tidak berperasaan,” sela Ambu.

“Iya, Ambu. Satu lagi, menurut Aki, orang-orang seperti mereka itu tidak memiliki kecerdasan spiritual. Mereka lupa, bahwa yang namanya manusia hidup pastilah akan mati. Bagaimana caranya ia mati, itu adalah rahasia Illahi. Orang-orang seperti mereka itu seperti yakin akan hidup selama-lamanya. Atau mungkin karena sangat takut mati, makanya jadi paranoid begitu. Dikiranya, setelah ditimbun tanah, virus-virus itu akan merayap keluar dari kuburan dan menyerang warga yang masih hidup. Sungguh … ter-la-lu!” Aki pun terlihat geram. Suaranya sampai tersenggal-senggal terbawa emosi.

“Ki, lucu juga ya?” tanya Ambu tiba-tiba.

“Lucu apanya?” Aki mengernyitkan dahi.

“Tadi Ambu membayangkan, tuh penghuni-penghuni kuburan di sekitarnya pada menyingkir karena takut tertular covid-19,” Ambu mesem-mesem.

“Hus! Jangan berpikir seperti itu, Ambu! Pamali! Kita diajari untuk tetap menghormati jenazah. Tidak boleh menjadikan bahan candaan, apalagi mengolok-olok,” Aki Rahmat mengingatkan.

“Iya deh, Ki. Maaf!” Menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.

“Kita berdoa saja semoga kondisi negara kita segera membaik sehingga kita pun bisa menjalani hidup secara normal seperti sedia kala. Aamiin.”

“Aamiin!” Ambu turut mengaminkan.

“Sebentar lagi magrib, Ambu. Ayo kita bersiap-siap!” ajak Aki Rahmat.

“Ayo Ki,” sahut Ambu.

Keduanya beranjak dari teras, bersiap-siap untuk menghadap Sang Kholik.***

#RMG_obrolanpetang4_sinur

Rumahmediagrup/sinur