Obrolan Petang – Bagian 6

Obrolan Petang – Bagian 6

Sudah dua hari ini Aki Rahmat tidak bisa bercengkerama dengan tanaman kesayangannya. Setiap zuhur, hujan mengguyur. Di lingkungan tempat tinggalnya, dikenal istilah dug cur  yang diambil dari kata bedug (dipukulnya beduk atau tabuh yang menandakan mulai masuk waktu salat zuhur tiba) dan ngucur istilah yang digunakan untuk air yang jatuh. Dengan demikian, akronim dug cur digunakan untuk menyatakan bahwa tiap tiba waktu zuhur, hujan turun. Biasanya hujan mengguyur hingga petang. Ada kalanya juga hujan terus mengguyur hingga malam tiba. Hari ini, hujan tidak begitu deras. Tetapi cukup menyurutkan niat Aki Rahmat untuk mengajak ngobrol tanaman-tanaman kesayangannya.

“Semoga hujan ini membawa berkah ya, Ki,” Ambu lagi-lagi mengagetkan Aki yang sedang fokus memperhatikan dari jauh setiap gerak tanaman-tanamannya.

“Ah, kebiasaan Ambu mah. Suka ngagetin aja,” Aki Rahmat membalikan badan, menghadap Ambu.

“Bukan Ambu yang mengagetkan, tapi Aki yang terlalu asyik memperhatikan tanaman-tanaman itu,” meletakkan mug berisi wedang jahe di atas meja. “Minumlah selagi hangat, Ki,”lanjutnya.

“Terima kasih banyak istriku,” mendekat, lalu duduk. Tangannya meraih mug wedang jahe lalu didekatkan ke wajahnya. Dihirupnya kepulan uap wedang jahe itu sambil merem-melek. “Dari aromanya saja, tercium ini pasti enak,” lanjutnya. Diseruputnya wedang jahe itu sedikit demi sedikit.

“Sebentar lagi Ramadan ya Ki,” Ambu duduk di kursi berseberangan dengan Aki.

“Iya, Ambu,” tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ramadan pertama semenjak kita tinggal di sini ya, Ambu,” meraih singkong rebus dari piring yang disodorkan istrinya.

“Bagaimana rasanya menjalani ibadah Ramadan tanpa anak dan cucu-cucu?” tatapannya menerawang ke luar melalui kaca jendela. “Pasti akan terasa ada yang kurang ya, Ki?” Lanjutnya.

“Pastinya, Ambu. Tidak akan ada  yang merecoki saat kita makan sahur atau berbuka,” timpal Aki Rahmat.

“Andai saja tidak ada musibah wabah corona, mungkin kita bisa menjalani ibadah saum bersama mereka.” gumam Ambu.

Aki Rahmat hanya merespon dengan menganggukkan kepala perlahan. Dalam benaknya berkelebat saat-saat berkumpul dengan  Satria dan keluarganya. Ada rasa rindu yang begitu saja muncul pada anak semata wayang dan keluarga kecilnya itu.

Saat di Jakarta, Aki dan Ambu menempati rumah yang dibeli dari hasil jerih payah Aki dan Ambu. Saat itu, Satria masih duduk di bangku SMP. Mereka bertiga hidup bahagia di rumah yang tidak begitu mewah, tetapi dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang. Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, Satria memutuskan untuk menikahi Rania, teman kuliahnya. Rania diboyongnya ke rumah orang tua Satria. Setelah satahun menikah, Satria   menyampaikan keinginannya untuk mengontrak rumah. Tetapi Ambu tidak setuju. Ambu menghendaki Satria dan istrinya  tetap tinggal bersama mereka. Akhirnya, Satria mengalah, demi bakti pada ibunya, ia mengurungkan niatnya untuk mengontrak rumah.

Rania adalah menantu yang baik. Dia sangat menghormati Ambu dan Aki. Dia menganggap Aki dan Ambu layaknya orang tua kandungnya sendiri. Begitu pula dengan Aki dan Ambu. Mereka sangat menyayangi Rania. Meski setelah lebih dari lima tahun menikah, Rania tidak kunjung hamil, Aki dan Ambu tetap membesarkan hatinya untuk tetap optimis bahwa Tuhan akan memberinya anak pada saat yang tepat.

Akhirnya, menginjak tahun ke enam, Rania pun hamil. Lahirlah si kembar, Aina dan Aini. Sejak itu, lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga itu. Sejak itu pulalah panggilan Aki dan Ambu melekat pada kedua suami istri itu. Selama kurang lebih tiga tahun, Ambu menyertai tumbuh kembang si kembar. Sayangnya, saat itu Aki Rahmat memasuki masa pensiun dari pekerjaannya. Karena Aki memiliki tanah warisan orang tuanya di kampung, akhirnya Aki memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Dibangunnya kembali rumah di bekas rumahnya dulu. Rumah itulah yang kini ditempatinya bersama Ambu.

“Coba kalau tidak berlaku PSBB ya Ambu. Mungkin kita bisa bebas pulang pergi nengokin cucu,” Aki kembali memulai obrolan.

“Iya, Ki. Ambu juga sudah sangat kangen celoteh si kembar. Ambu kangen bau keringatnya setelah mereka seharian bermain. Kangen tingkah lucunya, ah … pokoknya kangen semua-muanya,” suara Ambu agak tercekat. Ada yang perih di dalam dadanya. Rasa perih itu perlahan naik melalui kerongkongannya, lalu tiba di matanya. Meninggalkan genangan bening di setiap sudutnya. Tangan Ambu gesit menyeka butiran bening yang mulai turun melalui lekuk pipinya.

Aki Rahmat hanya bisa menarik nafas berat.

“Menurut informasi, kondisi seperti ini akan berlangsung lama ya, Ki? Bahkan untuk salat Idul Fitri saja dianjurkan untuk dilaksanakan di rumah masing-masing. Sebegitu parahkah dampak virus untuk kehidupan kita, Ki?” tanyanya dengan suara mulai terdengar agak parau, terdorong emosi yang bergejolak dalam dadanya.

“Itu kan imbauan dari pihak berwenang, Ambu. Mereka menyampaikan itu tentu dengan perhitungan dan pertimbangan matang, tidak sembarangan.”

“Tapi, seharusnya kan mereka optimis bahwa keadaan akan segera membaik,. Jangan menambah kepanikan rakyat dengan memberitakan itu. seolah-olah corona ini akan terus mewabah sekian lama,” Ambu semakin emosi.

“Hus, jangan bicara begitu, diiciduk nanti kalau ketahuan aparat,” canda Aki.

“Habisnya, bukannya membesarkan hati rakyat agar segera bangkit. Ini malah melemahkan harapan. Bagaimana coba kalau lebaran nanti masih tidak boleh ke mana-mana? Kita tidak bisa ke Jakarta, Satria pun tidak bisa ke sini. Pasti lebarannya sepi.” Ambu mulai tersedu.

“Kita memang harus tetap optimis, Ambu. Salahnya rakyat juga sih, pada bandel. Diimbau di rumah saja, masih saja kelayapan. Diimbau jaga jarak, masih saja ngumpul-ngumpul. Jadinya ya begini ini, dampaknya memanjang. Jika kita semua patuh pada aturan, maka kondisi pun akan segera membaik.” Menghela nafas. “Sekarang memang bukan saatnya kita mencari kambing hitam, menyalahkan pihak lain. Kita perbaiki diri kita saja sambil banyak-banyak berdoa. Semoga corona segera mereda hingga kondisi negara kita segera membaik.

“Iya, Ki. Siap-siap magrib yu, Ki,” ajak Ambu.

“Yu.” Aki beranjak menuju tempat wudu.***

#RMG_obrolanpetang6_sinur

rumahmediagrup/sinur