Obrolan Petang – Bagian 7

Obrolan Petang – Bagian 7

Petang ini cuaca cerah. Hal itu tentu tidak dilewatkan begitu saja  oleh Aki Rahmat. Selepas salat asar, dia segera menyingsingkan lengan baju. Diambilnya gembor lalu diisinya dengan air dari keran di sudut halaman.

“Hai, apa kabar kalian? Karena kemarin kalian cukup lama disiram hujan, kali ini kalian Aki beri minum sedikit saja ya,” sapanya. Satu per satu tanaman disiramnya dengan penuh kasih sayang. “Wah, dua hari tidak Aki urus, daunmu mulai ada yang kuning,” katanya lagi sambil memetik daun cabai yang mulai menguning. Begitulah yang dilakukan Aki Rahmat hingga seluruh tanamannya selesai ia siram dan siangi.

Selesai mengurusi tanamannya. Aki Rahmat bergegas mencuci tangannya, lalu segera masuk rumah. Didapatinya Ambu Rahmi sedang memegang gawainya sambil terisak.

“Ada apa, Ambu?”  Tanya Aki Rahmat dengan nada cemas.

“Ini, Ki. Coba Aki lihat sendiri,” Ambu menyodorkan gawainya pada Aki.

“Video? Video apa ini?” Tanyanya penasaran.

“Aki lihat saja sendiri,” suruh Ambu lagi.

Aki Rahmat pun segera memutar video dalam layar gawai  Ambu hingga selesai. Video itu berisi wawancara Nazwa Sihab dengan seorang sopir mobil jenazah. Pak sopir menyampaikan bagaimana dia harus bekerja keras mengantar jenazah korban covid – 19 ke pemakaman. Ada kalanya, dalam satu hari, lebih dari sepuluh jenazah yang harus dia antarkan.

Di video itu pula, sang sopir mengeluhkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti program pemerintah dalam memutus siklus penyebaran virus corona. Di sepanjang perjalanan mengantarkan jenazah, ia mendapati masih banyaknya masyarakat yang berkeliaran.

Ketika ditanya Nana tentang apa yang ingin disampaikan pada masyarakat di wilayah tempatnya bertugas, dengan suara bergetar menahan emosi, sang sopir berkata, “Satu yang ingin saya sampaikan pada masyarakat, tolong bantu kami … tinggalah di rumah!”

“Pantes, Ambu sampai terisak begitu,” kata Aki sambil mengembalikan gawai kepada Ambu.

“Aki bisa merasakan betapa geramnya sopir mobil jenazah itu, Ki?” Tanya Ambu.

“Iya Ambu. Jika Aki ada pada posisi sopir jenazah yang curhat dalam video tadi, Aki pun akan seperti itu. Yaaaah … mudah-mudahan video itu banyak ditonton masyarakat yang masih bebas berkeliaran. Semoga hati mereka tersentuh dan sadar betapa pentingnya mereka mengikuti imbauan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah.” Jawab Aki panjang lebar.

“Aamiin,” Ambu mengaminkan.

“Sopir mobil jenazah itu tidak meminta yang aneh-aneh dari masyarakat. Tidak juga menuntut bayaran mahal untuk mengantarkan orang yang meninggal karena serangan virus corona. Yang dia minta itu hanya satu hal saja. Dia minta agar masyarakat berdiam di rumah. Tidak wara-wiri ke sana ke mari. Dengan tinggal di rumah, itu akan sangat membantu pemutusan penyebaran virus corona. Itu saja, kan Ambu?” Aki balik bertanya pada Ambu.

“Iya, Ki. Jika siklus penyebaran corona bisa kita putus, besar kemungkinan situasi akan segera membaik. Jika itu terjadi, maka kita semua pun akan dapat beraktivitas dengan leluasa seperti sedia kala. Iya kan, Ki?” tanya Ambu lagi.

“Iya. Betul sekali, Ambu,” Menghela nafas berat. “Oh ya, Ambu. Sebelum mengalami sendiri, ada kalanya orang tidak mempercayai betapa pentingnya mereka tinggal di rumah. Siapa bisa menjamin jika mereka tidak akan tertular. Jika tanpa sadar mereka telah tertular, maka dengan berkeliaran, besar kemungkinannya virus corona yang ada pada tubuh mereka akan terbawa ke mana-mana. Itu berarti, semakin besar pula peluang akan banyak orang yang juga tertulari.”

“Iya, Ki,” Ambu menimpali.

“Dalam kondisi seperti ini, memang sangatlah bijak jika kita semua bahu membahu, saling dukung dan saling bantu agar wabah virus ini segera mereda.” Kata Aki penuh harap.

“Karena masyarakat kita masih banyak yang bandel, makanya pantas saja jika pihak pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah memberlakukan aturan yang lebih ketat.” Ambu menambahi.

“Benar, Ki. Ambu simak dari berita di televisi, kini semakin banyak wilayah yang menerapkan PSBB. PSBB ya Ki, bukan PSPB … he he he,” Ambu terkekeh saat teringat kesalahan menyebutkan istilah itu.

“Iya, Pembatasan  Sosial Berskala Besar. Bukan Pendidika Sejarah Perjuangan Bangsa, ha ha ha …, ” Aki juga tertawa.

“Banyak juga sih yang mengeluhkan dampak dari PSBB ini. Banyaknya karyawan yang di PHK, ojol yang tidak boleh bawa penumpang, angkot hanya boleh mengangkut penumpang dengan jumlah tertentu saja, bahkan banyak juga yang berjualan makanan atau jajanan terutama yang berjualan di tempat umum atau pinggir jalan, mengeluh karena harus tutup. Kadang Ambu merasa kasihan juga pada mereka yang terdampak karena wabah corona ini Ki. Apalagi bagi para perantau. Banyak yang sekarang kebingungan. Mau mudik, takut ditolak penduduk kampung, tidak mudik juga di situ mereka menganggur. Kasihan juga ya, Ki,”

“Iya, Ambu. Aki juga kasihan pada mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Ini ujian bagi kita semua. Bukan hanya rakyat yang menderita, pemerintah kita juga tentu sangat kerepotan mengatasi dampak dari aturan agar tetap tinggal di rumah. Syukurlah, pemerintah kita gerak cepat. Pemerintah telah meluncurkan program bantuan untuk masyarakat yang terdampak. Kita bantu upaya pemerintah itu dengan mematuhinya. Kita juga harus banyak-banyak berdoa agar wabah ini segera reda.”

“Iya, Ki. Kita ambil hikmahnya saja. Sekarang kita harus banyak-banyak bersabar. Mungkin dengan musibah ini, Tuhan menghendaki kita untuk semakin mendekat kepada-Nya.”

“Iya, Ambu. Sebentar lagi magrib. Kita bersiap-siap, yu!” Ajak Aki.

“Ayo, Ki,” jawab Ambu sambil bangkit dari duduknya.

Keduanya beranjak menuju tempat wudu. Bersiap untuk menghadap Sang Pencipta.***

#RMG_obrolanpetang7_sinur

Rumahmediagrup/sinur