Obrolan Petang – Bagian 8

Obrolan Petang – Bagian 8

Aki Rahmat sedang asyik mengurusi tanamannya saat Ambu Rahmi datang tergopoh-gopoh.

“Aki, gawat … Ki!” seru Ambu.

“Gawat apanya, Ambu? Biasa Ambu mah suka heboh sendiri,” Aki menunda pekerjaannya, berbalik menghadap Ambu.

“Barusan, Ambu dapat kiriman video dari Satria,” Ambu memperlihatkan video kiriman Satria di gawainya.

“Video apa sih Ambu?” Aki penasaran. “Sebentar, Aki ccuci tangan dulu,” Aki mencuci tangannya dengan air dari kran di sudut halaman. Setelah mengelap tangannya yang basah pada celananya, diraihnya gawai dari Ambu lalu dikliknya tanda segitiga di bawah video itu. “Sambil duduk yu, Ambu,” ajaknya sambil beranjak menuju kursi teras diikuti Ambu.

Ambu Rahmi turut memperhatikan video yang diputar Aki hingga selesai.

“Apa ini, Ambu? Pemakaman siapa?” Aki mengembalikan gawai pada Ambu.

“Itu pemakaman salah seorang warga desa sebelah, Ki. Coba Aki baca berita yang ini,” Ambu menyodorkan kembali gawainya.

Aki menerima gawai itu kembali. Dikliknya alamat link yang ada pada tautan yang dikirim itu. Dibacanya baik-baik tulisan yang muncul. Sebuah berita tentang prosessi pemakaman meninggalnya seorang pasien yang hasil rapid test-nya dinyatakan positif. Sebelumnya, pasien dirawat di rumah sakit terdekat. milik pemerintah daerah. Terhadap pasien juga sempat dilakukan pemeriksaan swab untuk menentukan hasil apakah positif corona atau negatif. Sayangnya, hasil swab belum keluar, pasien keburu meninggal dunia. Jenazahnya langsung dibawa pulang dan dikuburkan dengan proses protokoler yang berlaku untuk pasien positif corona hasil rapid tes.

“Innalillahi wainnailaihi rooji’uun,’ gumam Aki setelah selesai membaca berita itu.

“Aki kenal orangnya?” Tanya Ambu.

“Kayaknya Aki tahu orangnya, tidak begitu kenal sih. Tapi kalau benar orang itu, sejauh yang Aki tahu mah dia tuh orangnya baik.

“Berarti corona sudah menyerang sampai desa sebelah ya Ki? Ambu jadi ketar-ketir nih,” Ambu agak meringis.

“Jangan panik Ambu. Kita berdoa saja agar hasil swabnya negatif. Mungkin saja beliau meninggal karena komplikasi penyakitnya. Kan dalam berita itu dinyatakan bahwa pasien menderita sakit liver, diabet, paru-paru, dan kolestrol.” Aki menenangkan.

“Kasihan keluarga yang ditinggalkannya ya, Ki. Menurut berita itu keluarganya diisolasi meskipun positifnya baru hasil rapid test.” Kata Ambu lagi.

“Iya, Ambu. Istilahnya ibarat orang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah mah kepala keluarga mereka meninggal, mereka harus menjalani isolasi pula,” kata Aki.

“Biasanya jika ada yang meninggal, orang-orang sekitar datang melayat. Kalau yang dinyatakan positif corona mah katanya tidak boleh dilayat ya, Ki?” tanya Ambu.

“Iya, Ambu. Jenazahnya kan tidak diantar dulu ke rumahnya. Dari rumah sakit, jenazah langsung dibawa ke pemakaman. Untungnya tidak ada insiden penolakan jenazah oleh warga desa ya, Ambu?” Aki yang kini bertanya.

“Iya, Ki. Alhamdulillah. Tidak ada provokator di kita mah, Ki. Lagi  pula, kalau di desa, sepertinya hubungan kekerabatannya masih terbilang dekat. Ambu pernah dengar dari Bi Emah, istri Mang Kardin, di desa kita ini saja jika ditelusuri silsilahnya ke atas, bisa ketemu di satu titik. Itu artinya, sebagian besar penduduk desa merupakan satu keturunan, Ki. Karena banyak yang merantau dan kurangnya silaturahmi antar mereka, maka ada kalanya satu sama lain tidak paham jika mereka masih bersaudara,” tutur Ambu.

“Betul itu, Ambu. Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Aki dengan Mang Kardin saja jika ditelusuri silsilah keturunan mah, kami teh masih satu buyut. Hanya karena lama berjauhan dan kurangnya silaturahmi, makanya antara keluarga kita dengan keluarga Mang Kardin tidak saling kenal. Untungnya kita kembali ke sini. Jadi hubungan yang nyaris putus, kini bisa tersambung lagi.”

“Iya, Ki. Alhamdulillah. Tapi, Ambu mah turut merasakan bagaimana sedihnya keluarganya itu. Semoga saja mereka diberi kekuatan dan kelapangan hati dalam menerima ujian ini. Semoga juga hasil swab menyatakan almarhum negatif terkena corona. Agar keluarganya bisa menjalani kehidupan secara normal kembali, tidak harus diisolasi. Selain itu, masyarakat juga tentu akan merasa lega.”

“Aamiin,” Aki mengaminkan. “Dengan adanya kabar bahwa almarhum positif terjangkit corona, keluarganya juga pasti dijauhi orang sekitar. Masyarakat sekitar bisa juga  akan merasa panik. Jika itu terjadi, kemungkinan terjadi akan saling mencurigai. Tentunya hal itu akan menimbulkan keresahan di lingkungan masyarakat itu sendiri,” papar Aki.

Matahari telah tenggelam. Kedua suami istri itu pun bergegas masuk ke rumah. Seraya mempersiapkan diri menyambut datangnya malam. Malam yang diciptakan Tuhan untuk menutupi siang. Saat Tuhan memberikan keleluasaan pada setiap hamba untuk menyampaikan semua keluh kesahnya. Juga untuk mengistirahatkan raganya setelah seharian bergelut dengan urusan dunia. ***

#RMG_obrolanPetang8_sinur

rumahmediagrup/sinur