Obrolan Petang – Bagian 9

Obrolan Petang – Bagian 9

Cuaca begitu cerah. Sepertinya alam pun mendukung aktivitas Aki Rahmat petang ini. Sinar surya lembut menerpa punggung Aki yang sedang asyik bercengkerama dengan tanaman-tanaman kesayangannya. Meskipun hampir setiap waktu dilihat, tetapi Aki Rahmat selalu saja takjub dengan perkembangan tanaman-tanamannya itu. Dari hari ke hari, seakan-akan tanaman-tanaman dalam polybag saling berlomba untuk tumbuh lebih subur dari yang lainnya.

“Aih … kamu mulai berbunga ya?” sapanya pada pohon tomat yang terlihat tumbuh paling subur. Disingkapnya perlahan daun yang menutupi bakal bunga yang mencuat keluar dari lengan dahan. “Segeralah mekar bungamu, lalu beri Aki buahmu yang lebat ya,” lanjutnya. Karena senangnya, aki bersenandung sambil terus mengurusi satu demi satu tanamannya itu.

Deueuh … Ada yang lagi bahagia nih,” tegur Ambu mengagetkan Aki.

“Iya Ambu. Aki lagi seneng banget,” jawab Aki sumringah.

“Dapat apa sih Aki? Bagi-bagi, dong!” canda Ambu.

“Sini, Ambu! Ambu lihat nih!” Aki menyibak pelan daun tomat yang menghalangi bakal bunganya.

 “Alhamdulillah, … sebentar lagi bisa panenya, Ki?” Ambu menghampiri, lalu jongkok memperhatikan apa yang diperlihatkan Aki.

“Iya, Ambu. Mudah-mudahan yang lainnya menyusul,” jawab Aki sambil beranjak ke arah jajaran pohon cabai. “Ambu, coba lihat! Pohon cabai pun mulai ada bakal bunganya. Kuncup kecil-kecil,” teriaknya kemudian.

Ambu segera menghampiri Aki. “Ambu turut bahagia, Ki. Tanaman-tanaman Aki sebentar lagi akan memberikan imbalan pada Aki,” wajahnya juga sumringah.

“Iya, Ambu. Jika kita perlakukan dengan baik, tumbuhan pun akan berterima kasih dengan memberi kita buahnya. Mudah-mudahan tidak ada hama ya, Ambu,”  menoleh ke Arah Ambu Rahmi yang sedang memperhatikan pohon cabai yang tadi ditunjukkan Aki.

“Amin. Iya, Ki. Semoga tidak ada hama yang menyerang tanaman-tanaman ini.” Ambu menimpali.

Keduanya asyik memperhatikan satu demi satu tumbuhan Aki sambil terus mengobrol.

Menjelang magrib, semua tanaman Aki selesai diurus. Setelah mencuci tangan, keduanya beranjak masuk rumah.

“Ambu juga jadi kepengen punya tanaman peliharaan,” kata Ambu sambil menutup pintu.

“Lho, ada angin apa kok tiba-tiba Ambu tertarik untuk bercocok tanam?” Aki menatap heran.

Selama ini, Ambu memang tidak terlalu suka berkotor-kotor dengan pupuk dan tanah. Tidak seperti ibu-ibu lain yang suka dengan tanaman, khususnya tanaman bunga, Ambu lebih suka membeli bunga plastik. Baik untuk hiasan meja ataupun untuk diletakkan di  beberapa bagian rumahnya. Menurutnya, bunga plastik lebih praktis juga lebih awet. Tidak perlu repot-repot mengurusi.  Makanya, Aki keheranan saat Ambu Rahmi mengutarakan keinginannya.

“He … he … he …. Iya Ki. Ternyata asyik juga ya bercocok tanam,” jawabnya sambil tersipu.

“Pastinya atuh Ambu. Makanya Aki merasa ada yang kurang jikasehari saja tidak mengurusi tanaman-tanaman itu. Ada kebahagiaan tersendiri saat tanaman kita tumbuh subur. Apa lagi jika mulai berbunga, wuih … luar biasa bahagianya. Nanti Ambu juga bisa merasakan,” papar Aki sambil duduk di kursi ruang TV.  Lalu diraihnya mug besarnya. Diseruputnya teh jahe yang masih hangat. “Alhamdulillah, nikmat sekali Ambu,” pujinya. Ambu hanya tersenyum. Meskipun hatinya selalu bersorak saat dipuji Aki.

“Oh ya, Ki. Baiknya apa yang Ambu tanam?” Tanya Ambu.

“Ambu tanam bunga saja. Biar Aki yang tanam bumbu-bumbu dapur dan toga,” jawab Aki.

“Baiklah kalau begitu. Tapi dari mana bibitnya, Ki?” tanya Ambu lagi.

“Ambu bisa minta ke tetangga. Bunga mereka bagus-bagus, kan? Atau beli saja di pedagang tanaman hias di pinggir kecamatan,” jawab Aki.

“Malu ah kalau harus minta ke tetangga. Beli saja ya, Ki?”

“Kenapa mesti malu, Ambu? Di kampung kita ini, hal biasa berbagi dengan tetangga. Mereka justru akan merasa senang jika kita mintai sebagian bunga yang mereka miliki untuk kita tanam di sini,” Aki meyakinkan.

Ambu memang tidak terbiasa untuk meminta ini itu kepada orang lain. “Khawatir merepotkan atau membebani orang,” begitu katanya suatu ketika. Dia lebih suka membeli dari pada meminta. Makanya, ketika Aki menyarankan untuk meminta bibit bunga pada tetangganya, Ambu langsung menolaknya.

“Begini saja, Ambu. Kita beli bibit bunganya yang banyak. Biar nanti bisa bagi-bagi tetangga. Nah, mungkin dengan begitu tetangga juga akan menawari Ambu untuk menanam juga bunga yang mereka miliki,” saran Aki.

“Boleh juga tuh. Kita coba nanti ya, Ki. Azan tuh, Ki. Salat yu!” ajaknya.

“Ayu,” jawab Aki sambil bangkit.

Keduanya bersiap untuk melaksanakan kewajibannya pada Sang Khalik.***

#RMG_obrolanpetang9_sinur

rumahmediagrup/sinur