Mengikis OCD Perfeksionis (1)

Mengikis OCD Perfeksionis (1)

Oleh: Ribka ImaRi

Ini bukan tentang hebatnya aku mencuci baju sebanyak yang terpampang di foto. Akan tetapi tentang gangguan yang aku idap. Cucian bisa sebanyak itu bukan karena rasa malas. Melainkan karena sedang tidak sempat mencuci baju setiap hari.

Biasanya karena sehabis anak sakit atau beberapa hari pergi keluar rumah mengikuti acara atau mengerjakan pesanan makanan atau kesibukanku yang terakhir yaitu, mengejar deadline tulisan.

Seingatku, dulu semasa SMP sampai kuliah, kalau aku melipat kertas, itu HARUS ujung ketemu ujung. Kalau belum pas, maka aku akan mengulanginya melipat sampai sempurna. Hal ini benar-benar mengganggu pikiranku.

Dulu aku belum tahu, apalagi sampai memahami yang terjadi pada diriku. Sampai di tahun 1999, ketika aku mulai menjadi anak indekos di jenjang kuliah lalu lanjut saat sudah bekerja di tahun 2005, aku terlihat berbeda dengan teman indekos kebanyakan yang bisa cuek saat merendam baju. Sementara aku? Jika merendam baju itu HARUS dipisahkan berdasarkan kategori: warna putih murni, warna cerah, warna pekat, warna hitam. Terlihat berbeda karena aku punya ember banyak. Hahaha.

Jika hal di atas tidak aku lakukan, aku akan merasa bersalah dan kepikiran terus menerus. Jadi aku melakukan pekerjaan mencuci baju ini dengan sangat rinci. Dimulai dengan mengeluarkan baju-baju dari keranjang baju kotor. Lalu memisah-misahkan berdasarkan kategori warna seperti yang terlihat pada foto di bawah ini.

Kemudian terlebih dulu mencuci ember-ember yang akan digunakan sebagai tempat merendam. Jika ember tidak dicuci lebih dulu, aku akan merasa bersalah pada diri sendiri. Padahal tidak ada seorang pun yang menyalahkan aku. Namun, pikiranku yang akan terus menyalahkanku. Ini aneh memang.

Setelah semua ember dicuci bersih, barulah aku bisa tenang untuk merendam baju. Lelah? Sangat. Namun, apa daya … semua kulakukan agar pikiranku merasa tenang karena sudah melakukan pekerjaan dengan rinci, bersih dan sempurna.

Hasil pekerjaanku yang sempurna pernah membuatku bangga. Ketika melihat baju seragam kerjaku berwarna merah muda dan hijau muda terlihat paling cerah di meeting nasional perusahaan tempat aku bekerja.

Mereka yang melihatnya bajuku banyak yang menjadi takjub. Tanpa mereka tahu seperti apa perjuanganku mencuci baju dengan banyak aturan pelaksaan mencuci. Namun, tetap aku jalani asalkan aku bisa puas atas hasil kerjaku.

Hingga suatu hari setelah menikah, ada dua orang kakak ipar yang tinggal bareng aku dan suami. Setiap hari minggu kami libur bekerja dan bersama menikmati hari minggu. Ada hal yang membuat aku kesal karena capek. Yaitu, membereskan sandal punya kakak ipar. Karena setiap kali mereka selesai memakainya, itu selalu saja dalam keadaan berserak dan tidak berbaris rapih.

(Bersambung)

Sokaraja, 18 Desember 2019
-Ribka ImaRi-
Penyintas OCD selama 39 tahun usiaku saat ini.