Orangtua Terbaik, Dirindukan Sepanjang Masa

Orangtua Terbaik, Dirindukan Sepanjang Masa

Salah satu tujuan menikah adalah agar bisa memiliki keturunan sebagai penyejuk mata.

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh dan keturunan sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”
(QS. Al-Furqan: 74)

Orangtua harus mempunyai pandangan yang sama dalam hal pengasuhan anak. Jangan sampai apa yang dilarang oleh ayah, akan dilakukan oleh ibu di hadapan anak-anak mereka, begitu juga sebaliknya.

Kompaknya ayah dan ibu dalam proses pengasuhan anak, akan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter mereka.

Saat menjadi orang tua, secara tidak langsung, kita akan mengingat bagaimana masa kecil kita masing-masing.

Bagi orang tua yang masa kecilnya dihiasai dengan kenangan-kenangan indah, Insyaa Allah akan lebih siap dalam mendidik anak-anaknya. Mereka akan mengadopsi secara utuh bagaimana cara orang tuanya dulu mendidiknya.

Tetapi bagi yang masa kecilnya lebih banyak dihiasi dengan kenangan buruk, maka ketakutan masa kecil itu akan terbawa hingga dewasa. Bahkan sampai mereka menjadi orang tua kelak. Tentu saja hal ini akan menghambat proses perkembangan emosional anak-anaknya.

Orang tua yang masih menyimpan kenangan buruk masa kecil, harus mau belajar memutus mata rantai yang terjadi dalam kehidupannya. Berani berkawan dengan masa lalunya. Bersahabat dengan rasa sakit untuk melawan kenangan-kenangan buruk itu. Kemudian menyiapkan diri untuk menjadi orangtua yang lebih baik.

Contoh sederhananya, seperti ini:

Saat kecil, si ibu merasa tidak mendapatkan perlakuan adil oleh orang tuanya. Dia merasa dibedakan dengan kakaknya. Dan perasaan ini terbawa hingga dewasa, bahkan sampai si ibu ini menjadi orang tua. Nah, perasaan tidak terima ini dinamakan “luka masa kecil”.

Kalau luka ini tidak segera ditangani dengan baik, maka dia pun tanpa sadar akan mengadopsi cara yang sama seperti orang tuanya dulu. Yaitu akan memperlakukan salah satu anaknya dengan tidak adil. Setelah itu timbul rasa penyesalan. Menyalahkan diri sendiri karena ketidakmampuannya mengatasi “luka masa kecil”.

Oleh karena itu, perlu proses penerimaan diri, pengertian dari pasangan, dan komunikasi yang baik agar bisa sejalan dalam mengasuh anak.

Kalau mungkin orang tua kita memiliki beberapa kekurangan dalam mendidik dan membesarkan kita, mari belajar berbesar hati. Yang sudah terjadi, ya sudah. Yang terpenting untuk masa kini, kita mau belajar dan berproses menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kita.

Jadi benar ya, kalau ada ungkapan,

Being parent is never ending learning

Menjadi orang tua artinya harus siap belajar mendidik anak-anak menjadi generasi yang mandiri. Menanamkan pemahaman tauhid yang benar dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat.

Agar kelak saat sudah menjadi orang tua, akan tercipta rasa suka cita, bahwa mereka memiliki orang tua terbaik, yang telah mencintainya sepanjang masa.

Semoga Allah mampukan kita untuk menjadi orang tua yang kehadirannya selalu dirindukan.

*Menulis untuk menebar manfaat dan sebagai pengingat diri sendiri.

Klaten, 5 November 2019

rumahmediagrup/siskahamira