P.E.S.A.N

P.E.S.A.N

Endah Sulistiowati

Mawar merah yang dibeli Santi sudah tidak memancarkan keindahan lagi, satu persatu mahkotanya berguguran, berserak di meja pojok kamar kosnya. Tahun ini Santi tinggal menyelesaikan skripsi saja, harapannya bisa ikut wisuda gelombang dua, semester ganjil tahun ajaran baru. Tinggal beberapa poin pembahasan yang membutuhkan literasi.

Sayang, harapan tinggal harapan. Serangan virus Covid-19 atau yang lebih familiar disebut Corona telah membuyarkan semua rencananya. Kekeluasaannya membenamkan diri di perpustakaan kampus tidak bisa dilakukannya lagi apalagi memburu buku-buku di perpustakaan daerah, ataupun toko-toko buku, semua akses ditutup. Malang kota tempat dia menuntut ilmu, adalah kota yang telah terpapar Virus Covid-19 dan dinyatakan sebagai daerah zona merah. Akses masuk dan keluar dari kota tersebut sudah ditutup sejak isu lockdown bergulir pesat pertama kali.

Santi duduk terpekur, Al-Qur’annya yang diderasnya basah dengan air mata. Dadanya terasa sesak, dia ingat dengan janjinya pada Bapak. Hari Raya dia pulang dengan sudah merampungkan skripsinya. Adiknya yang lulus SMA diterima kuliah di Semarang dengan jalur prestasi. Ibunya kena serangan stroke sejak dua tahun yang lalu. Sedang Bapak, beliau hanya seorang perawat di Pustu Kecamatan yang tidak mungkin menggaji orang untuk mengurus Ibu.

“Yaa Allah, apakah ini teguran untuk hambamu ini, hamba terlalu percaya diri bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu, dengan modal kecerdasan ini. Hamba terlalu menyepelekan Engkau Yaa Robbi, ampunilah hamba, hanya dengan sedikit ujian saja hamba sudah rapuh, ampuni hamba-Mu Yaa Allah” dilangitkannya untaian doa-doa di sepertiga malam.


Notif pesan dari aplikasi Whatshap bertubi-tubi membuyarkan konsentrasinya di depan laptop.

[Assalamu’alaikum. Mbak, Ibu masuk RS tekanan darah naik drastis]

[Bapak diperbantukan ke Puskesmas Pusat Kecamatan]

[Tegal zona merah juga mbak]

[Akses keluar dan masuk Tegal ditutup]

[Kita saling mendoakan ya Mbak]

Pesan dari Zaki adiknya meluruhkan kristal-kristal bening dari netranya. Wajahnya yang putih semakin pucat membaca kabar dari adiknya.

[Wa’alaikumsalm. Astagfirrulah]

[Gimana kondisi ibu sekarang]

[Masih di UGD mbak, semoga segera membaik, Mbak doa yang banyak yaa..]

[Iya Ki, semoga Ibu segera pulih, kamu jaga kesehatan ya, jangan lupa pakai APD kalau ke RS minimal pakai masker]

[Iya, Mbak]

[Bapak gimana?]

[Bapak dalam perjalanan kesini]

[Salam buat Bapak, ya Ki, semoga Allah selalu melindungi keluarga kita, aamiin]

[Aamiin, iya, Mbak]

Dengan berat diseretnya langkah ke kamar mandi di ujung lorong kosan Avicena lantai dua. Santi untuk yang kesekian kalinya mencurahkan segala kesedihan dan ratapan kepada Sang Mudabbir, Dialah yang mengatur segala-galanya yang ada di bumi ini.


Hampir sehari tiga kali sehari Santi mengecek kondisi Ibu nya lewat Zaki ataupun Bapak. Bapaknya Nampak lelah sekali ketika Santi menghubungi beliau dengan video call, sudah lima hari ini beliau pulang-pergi dari rumahnya ke pusat kecamatan lanjut ke RSUD, jarak yang harus ditempuh sekitar 40 Km tiap hari, jadi pantas kalau Bapak lelah. Apalagi ditengah bencana corona saat ini, sebagai perawat senior keahlian beliau sudah tidak diragukan lagi, para dokter lebih-lebih dokter muda sangat menghormati beliau, praktis tenaga beliau sangat terkuras.


[Mbak, Bapak sesak napas, saat ini Bapak masuk ruang isolasi (emoticon nangis)]

Pesan dari Zaki membuat Santi terlonjak dari tempat tidur, diliriknya jam di meja belajar pukul 23.00.

[Astagfirrulahal’adziim]

[Gimana kondisi Bapak, Ki, Apakah Bapak terpapar corona]

Lama, chat yang Santi kirim tidak ada balasan. Diteleponnya adik semata wayang itu. Tidak diangkat. Santi semakin gusar.

[Zaki, apa aku pulang saja?]

[Mbak, maaf lama, Ibu tiba-tiba anfal, (emoticon nangis)]

[Mbak nggak usah pulang, bahaya, disini rawan banget]

[Aku harus gimana, Ki?]

[Mbak bantu doa saja]

[Ki, aku ingin ketemu bapak dan ibu]

Gawai Zaki sudah tidak aktif lagi. Kristal bening pun berlompatan membasahi pipi Santi tanpa bisa dibendung lagi. Kembali Santi hanya bisa menyungkurkan diri disajadah mengadu pada Tuhannya.


Hati Santi semakin pilu ketika video call dengan Zaki melihat Ibunya masih di ICU, Bapaknya harus meringkuk di ruang isolasi, dan adiknya yang harus sendirian berjuang menunggu Bapak dan Ibunya disana. Apalagi Santi hanya bisa berdoa, menatap dari jauh ratusan kilometer. Seakan-akan dialah yang paling menderita saat ini. Namun dia sadar, keadaan ini tidak menimpa dirinya sendiri, rakyat Indonesia sedang berduka. Santi tidak mau dianggap egois. Rekan-rekan bapaknya para tenaga kesehatan Indonesia satu per satu gugur digarda terdepan perjuangan melawan virus mematikan ini.

Santi terpekur, antara sedih dan gemas, ingin rasanya menghujat pemimpin negeri ini, kenapa begitu santai bahkan cenderung abai dengan kondisi rakyat. Mereka hanya berpikir kerugian ekonomi dan politik jika benar-benar melakukan lockdown. Melindungi dan menyelamatkan rakyat masih berhitung rugi-laba. Lihat saja, Bank Indonesia rela mengucurkan dana 300 Trilyun untuk menyelamatkan rupiah, tapi untuk menyelamatkan rakyat, semua dikembalikan ke kepala daerah masing-masing. Bahkan semakin membuat gemas, ketika pemerintah dengan sengaja mengundang para influencer untuk menyelamatkan nama mereka ditengah goncangan corona. Na’udzubillah. Santi terus beristgfar, dan memohon kepada Allah agar bencana ini segera berakhir. Santi tidak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk.


“San, Santi, bangun Nak” Santi menggeliat perlahan, dia merasakan seseorang mengelus kepalanya.

“Santi, ayo bangun, bentar lagi adzan subuh” suara lembut itu memaksa Santi membukan mata, suara yang sangat dirindukannya.

“Ibu, Bapak!” Santi terpekik melihat siapa yang ada dihadapannya, dipeluknya dua orang yang sangat dirindukannya itu.

“Ibu Sehat?” Tanyanya setelah memuaskan kerinduannya.

“Kamu bisa lihat sendiri kan?” Sahut Ibu lembut.

“Bapak?” Dipandangnya Bapak, yang terlihat bersinar wajahnya, tidak seperti kalau sedang sakit.

“Kenapa, kamu takut kalau tertular corona?” Tanya Bapak, sambil mengacak rambut Santi. Membuat mereka bertiga tergelak bersama.

“Ayo, kita sholat sunnah bersama, sana wudhu!” Ajak Bapak sambil menggelar sajadah. Mereka pun sholat sunnah tahajud bersama.

“Santi, Bapak dan Ibu tidak mungkin terus membersamai kamu dan Zaki. Kalian berdua yang rukun ya, saling menjaga. Setelah kamu lulus, Bapak titip Zaki yaa…” Pak Harno, Bapaknya Santi memeluk Santi usai sholat. Demikian Bu Harno, Ibunya.

“Bapak dan Ibu mau kemana?” Tanya Santi bingung

“Bapak dan Ibu sudah ada janji”

“Pak Harno, Bu Harno, mari!” Sebuah suara mengejutkan Santi.

“Tuh, udah datang, Bapak dan Ibu pamit dulu.” Dipeluknya Bapak dan Ibu seakan-akan mau berpisah selamanya.


Suara dering telepon menyadarkan Santi.

“Halo, assalamu’alaikum”

“Waalaikumsalam. Mbak, bapak dan ibu sudah dipanggil sama Allah”

“Nggak mungkin, barusan Mbak sholat jamaah sama beliau, nih Mbak masih pakai mukena, Mbak cuma tertidur bentar setelah beliau pamitan tadi” Sahut Santi tidak percaya.

“Mbak, demi Allah, Mbak mimpi paling”

“Mbak, semua prosesi pemakaman dilakukan pihak RS mbak”

“Mbak, Mbak Santi, Mbak Santi…”

Kaki Santi seperti tidak menginjak bumi. Tubuhnya seringan kapas, dia tidak mendengar lagi suara Zaki dari seberang telepon.

Kediri, 3 April 2020

.

.

One comment

Comments are closed.