P.U.L.A.N.G

P.U.L.A.N.G
.
Endah Sulistiowati
.

Plak! Plak! Tamparan bapak mengenai dua pipi kanan kiri, satu titik darah menetes dari sudut bibir mbak Ayu.

“Zi, masuk, tidur!” Bentak bapak keras menyurutkan langkahku menghampiri mbak Ayu.


“Zi, besok mbak balik ke Bogor, kalau kamu tetap mau berkerudung berjuanglah sendiri, mbak hanya bisa bantu doa.”

Kudekap erat mbak Ayu, aku tahu semua karena aku, yang ngotot pingin pakai kerudung seperti mbak Ayu. Liburan mbak Ayu masih satu bulan lagi. Tapi Bapak tidak mau melihat mbak Ayu dengan kerudung dan baju panjangnya.


Belum 5 lima menit kami masuk peron stasiun besar, kereta api Brantas Expres yang akan ditumpangi mbak Ayu sudah tiba, suara rem yang membuat roda bergesekan dengan rel menimbulkan suara berdecit memekak telinga. Sengaja mbak Ayu ambil tiket kelas ekonomi, Bapak tidak memberi mbak Ayu uang saku.

“Apa ini, Zi?” Tanya mbak Ayu heran.

“Uang tabungan, Zi, maaf uang receh semua.” Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mata, aku pun menghambur kepelukan mbak Ayu.

“Ya Allah, Zi jadi anak sholihah ya untuk bapak, tunjukkan bahwa Islam itu indah, Islam itu mulia, perbaiki akhlak Zi. Sehingga Allah dan bapak tahu, kalau Zi kelak pakai kerudung bukan karena siapa-siapa, tapi karena Zi paham bahwa menutup aurat bagi muslimah itu wajib.” Pelukanku semakin erat, air mataku pun semakin deras. Entah apa yang dipikirkan orang, aku tidak peduli.

“Zi tahu kan, bapak melakukan itu semua bukan karena bapak benci pada kita, tapi karena bapak belum paham saja.” Mbak Ayu menghapus air mataku, tidak ada kebencian di mata mbak Ayu pada bapak.


Buku diary merah marun ini berusia dua tahun, berarti tepat dua tahun pula mbak Ayu tidak pulang. Diary ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke 12 tahun. Kuelus pelan, dibagian depan aku tempeli foto kami berdua. Tiba-tiba, kristal-kristal bening berjatuhan dari netra ini.

Meskipun kami berjauhan mbak Ayu rajin mengirimi majalah remaja Islam dan buku-buku Islam lainnya. Uang mbak Ayu banyak? Tidak juga, mbak Ayu pingin aku paham tentang Islam, mbak Ayu janji nanti akan membantuku memahami Islam yang kaffah. Mbak Ayu ngajar les di Bogor untuk membayar kuliah dan hidup sehari-hari, lagipula mbak Ayu cukup cerdas sehingga dia juga jadi asisten dosen di kampusnya.

Mbak Ayu telah memilih jalannya, mbak Ayu memilih untuk mempertahankan pakaian muslimahnya meskipun konsekuensinya bapak tidak mau melihatnya dan tidak memberikan uang saku untuknya. Mbak Ayu bilang, suatu saat bapak akan paham pilihannya. Entah kapan itu, dia memintaku untuk terus berdoa.


“Zi, Ziya!” Teriakan bapak membuyarkan lamunanku.

“Iya, pak.” Sahutku sambil menghampiri bapak.

“Dua minggu lagi Bulik Heni menikah, mbah Uti minta anak dan cucunya bisa kumpul, sekalian reuni.” bapak mengambil nafas panjang. Aku masih menunggu bapak melanjutkan kalimatnya.

“Bilang mbak Ayu suruh pulang!”

“A-apa, pak?”

“Mbak Ayu, suruh pulang!”

“Tapi, mbak Ayu tidak mau melepaskan baju muslimahnya.” Sahutku ragu.

“Sudahlah, suruhlah pulang mbakmu itu, terserah dia mau pakai apa!” Kutatap wajah sendu bapak, aku tahu bapak juga merindukan putri kesayangannya itu.


Tidak sabar aku menunggu kereta yang membawa mbak Ayu pulang. Ingin kupeluk mbak tercintaku itu. Rindu sekali rasanya.

Pemberitahuan dari pengeras suara mengatakan 5 menit lagi kereta api Brantas akan datang. Aku bergegas ke pintu keluar sebelah selatan stasiun.

Mbak Ayu tampak celingak-celinguk, pasti dia tidak mengenaliku.

“Mbak Ayu, mbak!” Teriakku menghentikan langkahnya. Dia tampak ragu.

“Mbak, ini Ziya” Kurentangkan tanganku bersiap memeluknya.

“Subhanallah….” Serunya, dan kami berpelukan erat sekali.

“Kamu sudah tinggi, Zi?”

“Dan ini?” Mbak Ayu menyentuh kerudung dan gamisku, sinar matanya mengandung ribuan pertanyaan.

“Bapak sudah menyuruh mbak pulang, berarti sudah tidak masalah lagi kalau dua bidadarinya memakai pakaian muslimah.” Ucapku bahagia sekaligus haru.

Kami pun pulang dengan langkah ringan, meskipun sesekali air mata haru dan bahagia tiba-tiba mengalir.

“Bapak, bidadari bapak telah pulang” Bisikku lirih saat kami masuk halaman rumah.

.
.

EndahSulis1234

RUMAHMEDIAGRUP