PACARAN SEPERTI KORUPSI, MENIKMATI YANG BUKAN HAKNYA

Pacaran Seperti Korupsi, Menikmati yang Bukan Haknya

Cinta itu suci, murni, fitrah, berasal dari Allah, yang Allah tanamkan dalam setiap manusia. Jika cinta merusak, membunuh, dekat dengan zina, tidak dalam kehalalan itu bukan cinta dari Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang” (TQS. Maryam: 96)

Namun hari ini banyak pergaulan atas nama cinta yang justru menodai kesucian cinta. Membuat hubungan yang dikelilingi iblis dengan alasan untuk saling kenal. Tidak ada korelasi antara lama pacaran dengan langgengnya pernikahan. Jika ada korelasinya tentu tidak ada perceraian karena rata-rata, orang berpacaran entah itu pacaran kekinian atau yang dibalut menjadi syar’i. Nyatanya  hampi setengah juga orang bercerai sepanjang tahun 2018 (detikNews.com/3 April 2019)

Meskipun tidak semua pacaran berujung perzinahan, namun tetap akan menghantarkan pada perbuatan zina.

 “Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagianya dari zina. Dia akan mendapatkanya, tidak bisa tidak. Maka zinanya lisan adalah dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakanya” (HR. Al-Bukhari no.6243 dan Muslim no. 2657 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Dampak lainya adalah maraknya penggunaan narkoba Suntik, ada 43.000 Terinveksi HIV (Suara Pembaharuan, 26 April 2003), 2 Juta Kasus Aborsi Setiap Tahun di Indonesia (Majalah Gemari, Juli 2003), Tercatat angka persalinan usia remaja melonjak 470%, dari 50 kasus pada 2010 menjadi 235 kasus (KPAI 2011), semua ini terjadi atas nama cinta.

Bayangkan, data ini di ambil sekitar tahun 2003-2011, lebih kurang 17 dan 9 tahun silam, hari ini tentu mereka telah tumbuh menjadi manusia dewasa yang menjalankan kehidupan mereka, kita tidak tau apakah meraka berada disekitar kita, atau berada diantara orang-orang yang tidak mengetahui masa lalunya. Masa depan yang mereka rusak dan dirusak dengan masa lalu yang kelam.

Mereka salah, tapi apakah ini sepenuhnya salah mereka? TIDAK, mereka juga korban betapa bebasnya sistem ini menyediakan tontonan yang bebas, tempat hiburan maksiat yang legal, pergaulan tanpa batas. Mereka seperti itu karena fasilitas lengkap untuk menunjang perilaku tak pantas. Hukum yang ada hanya bersifat kuratif, yang tak memberi efek jera pada pelaku dan pemberi fasilitas.

Lalu bagaimana bila jatuh cinta?

Aturan dalam Islam sederhana, hanya ada dua pilihan, datangi walinya dan menikahlah, jika belum siap maka persiapkan diri dalam ketaatan.

Islam memiliki hukum yang bersifat preventif dengan menutup semua pintu yang menghantarkan pada perzinahan

1. Ketaqwaan individu

Membentuk keimanan dalam diri dengan terus belajar Islam, menyadari bahwa setiap aktivitas kita tak luput dari pantauan Allah.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (TQS. Al-Isra’: 32).

“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaknya tidak berkhalwat dengan perempuan yang bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan” (HR. Tirmidzi).

2. Kontrol masyarakat

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS. Al-Imran: 104).

3. Negara sebagai penerap hukum Allah, mengatur interaksi laki-laki dan perempuan dengan sistem pergaulan dalam Islam. Penerapan hukum Islam hanya dapat dilakukan dengan adanya Daulah Islam.

“Bahwa kaum wanita pada masa Rasulullah SAW jika telah mengucapkan salam dari shalat wajib, mereka berdiri. Rasulullah SAW dan kaum pria diam di tempat selama waktu yang dikehendaki Allah. Maka jika Rasulullah SAW berdiri, berdirilah kaum pria” (HR. Al Bukhori).

Negara juga perperan menerapkan sanksi terhadap pelanggaran hukum syara.

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”  (TQS. An-Nur: 2).

Karena yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim adalah:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”(TQS Al-Baqarah: 208)

rumahmediagrup/firafaradillah