Pak Menteri, Anda Dimana?Woooi!

Pak Menteri, Anda Dimana? Woooi!

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Duh, Januari 2019 terasa belum satu tahun ya, saat memperindag memutuskan akan impor beras again. Kemudian pembahasan impor beras masih bergulir dipertengahan 2019. Kemudian Kabulog menyatakan tidak akan impor beras. Btw finally, Perum Bulog memastikan bahwa 20.000 ton beras yang mengalami penurunan mutu karena terlalu lama mengendap di gudang dan akan tetap dijual melalui lelang terbuka. Astagfirullah!

Padahal, sebelumnya program sertifikasi perkawinan atau sertifikat nikah itu dicanangkan Kementerian Kordinator bidang Pemberdayaan Manusia Kebudayaan atau Kemenko PMK, salah satunya dikarenakan tingginya angka stunting di Indonesia.

WHO menetapkan batas toleransi stunting (bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Sementara, di Indonesia tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita adalah penderita stunting atau sekitar 35,6 persen. Sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek. Ini juga yang mengakibatkan WHO menetapkan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk.
(https://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/01/24/p30s85396-who-78-juta-balita-di-indonesia-penderita-stunting)

Pertanyaannya, kemana para bapak-bapak menteri itu, kenapa informasi bisa tumpang tindih? Disisi lain banyak balita Indonesia yang mengalami gizi buruk, disisi lain beras mencapai 20.000 ton hampir busuk. Apakah kebijakan pak menteri sudah tersandra kepentingan? Kepentingan siapa sih pak, kok bisa sampai segitunya?

Mengapa tidak ada pengecekan ulang secara berkala, mengapa ketahuan segitu banyak ketika hampir busuk? Mengapa dan mengapa? Seharusnya kalaupun tidak semua ada satu saja yang memahami makna kemubadziran diantara para Pak Menteri dan jajarannya. Sehingga beras bisa didistribusikan tepat pada waktunya.

Buruknya distribusi barang dan jasa di sistem ekonomi kapitalis sudah tidak tertolong lagi harus segera dihapus dari Indonesia tercinta ini. Tumpukan masalah serta kerugian yang dihasil cukup signifikan. Ini baru permasalahan beras, belum masalah cabai, bawang, bahkan masalah BBM. Harusnya ini menjadi catatan merah agar tidak terulang lagi.

RumahMediaGrup/endahsulis1234

One comment

Comments are closed.