Paket Pengikat

Aku menantimu di derasnya hujan. Perlahan kusibak tirai yang menghalangi pandanganku. Tampak hujan semakin lebat. Aku termenung sendiri di sini. Ada apa dengan diri ini ? Mengapa tak kurasakan lagi teguran hangatmu yang biasa kudengar ? Ke manakah dirimu bersembunyi ? Adakah yang salah denganku ? Apakah aku…”Teet, teeet, teet” tiba-tiba terdengar suara klakson membuyarkan lamunanku.

            “Maaf Neng, apa betul ini rumahnya Pak Edo ?” Kata tamu yang membunyikan klakson motornya itu.  Ternyata dia adalah seorang kurir yang membawa titipan paket buat ayah. “ Betul Pak.” Jawabku. “Ini ada paket buat Pak Edo.” Katanya lagi. Cepat kuterima paket itu dan kutanda tangani bukti penerimaannya. Setelah kuterima paket itu, kurir itu pun segera pamit pulang. Aku perhatikan paket itu pingin tau apa isinya. Kucoba baca siapa pengirimnya. Ya Tuhan, aku terperanjat setelah tau siapa yang mengirim paket itu.

            Ingin sekali kubuka paket itu. Namun aku sadar itu tidak baik karena itu bukan untukku. Rasa penasaran semakin menggodaku. Tapi biar sajalah nanti aku tanya langsung pada ayah.

  Cuaca mendung masih menyelimuti walaupun hujannya tak sederas tadi. Ingatanku kembali padanya. Mengapa aku masih saja memikirkannya padahal sudah jelas dia tak mau lagi kenal denganku walaupun niatku tulus. Entahlah, apa yang sebenarnya aku pikirkan. Aku hanya ingin berbuat baik dengan siapapun.

            Hujan pun mulai mereda. Langit mulai terang. Aku masih sendiri di rumah ini. Adik-adikku belum pulang. Sedangkan ibu sedang pergi bersama ayah. Tiba-tiba aku teringat kembali paket yang tadi kuterima buat ayah. Mengapa nama pengirimnya seperti sudah kukenal ? Ada hubungan apa antara ayah dengannya. Ah, semuanya masih misteri. Seperti halnya perasaanku padanya yang tak pernah kumengerti.

            Tiba-tiba terdengar seperti suara pintu pagar dibuka. Ternyata Ayah dan Ibu baru datang. Segera kubukakan pintu rumah dan mereka pun masuk. Setelah mereka duduk di kursi, aku mulai bicara pada ayah.

“ Yah, tadi ada kiriman paket buat ayah”. Kataku sambil menyerahkan paket itu.

 “Dari siapa?” tanya ayah padaku. “Baca aja Yah ! “ Jawabku seolah tak mau tau . Padahal dalam hatiku yang sebenarnya aku sangat penasaran tentang isi paket itu.

 “Oooo, dari Rendi.” Ayah berkata.

“Emang Rendi siapa Yah ?” Tanyaku pura-pura tak tahu.

“Itu, Rendi anaknya Om Dirga yang pernah datang ke sini yang waktu itu pernah ketemu kamu”.

Deg, benar saja dugaanku. Ternyata pengirim paket itu laki-laki yang pernah kukenal. Rendi, anaknya Om Dirga sahabat ayah. Aku mulai mencemaskan ada maksud apa Rendi sama ayah. Sehingga dia begitu dekatnya sampai-sampai rela mengirim sesuatu buat ayah. Ada maksud apakah dibalik semua ini ? Hatiku mulai menduga-duga.

            Tiba-tiba ayah berkata lagi, “Nanda, Rendi itu baru pulang dari luar kota, dia telpon ayah bahwa dia  mau mengirim oleh-oleh buat keluarga kita. Mungkin paket itu oleh-oleh darinya.”

            “Oh begitu, Yah. Baik banget ya dia.” Jawabku agak heran.

            “ Ya begitulah. Tapi ayah ga minta lho. Itu benar-benar pemberian dia.” Jawab ayah lagi.

Kemudian ayah berkata lagi. “ Nak, Maafkan ayah dan ibu. Sebenarnya ayah dan ibu tak akan memaksamu untuk menerimanya. Ayah dan ibu sudah sepakat dengan orang tua Rendi untuk menjodohkan kalian. “ Kata ayah kepadaku.

Bagai mendengar petir di siang bolong ketika ayah menjelaskan semuanya. Bagaimana tidak kaget selama ini ayah tak pernah mengungkit-ungkit bahwa dia akan menjodohkan aku dengan siapa pun. Tapi sekarang semuanya sudah jelas.

            “Nanda, sebenarnya tempo hari saat keluarga Om Dirga berkunjung ke rumah kita, pada awalnya mereka hanya berkunjung biasa saja. Namun begitu mereka ayah perkenalkan denganmu, Om Dirga malah mempunyai ide untuk menjodohkan anaknya, Rendi denganmu.” Ayah menjelaskan awal mula pertemuan kami.

Lalu ayah berkata lagi “ Ternyata Rendi juga sudah terpikat denganmu. Kalau ayah sih terserah kamu saja. Karena kamu yang akan menjalaninya. Lagi pula sepertinya dia orangnya baik, penuh perhatian. Walaupun hanya karyawan biasa tapi setidaknya dia sudah punya penghasilan tetap.”

Aku bingung menghadapi keadaan seperti ini. Bagaimana memberi jawaban kepada ayah. Selama ini ayah tak pernah memaksaku untuk segera menikah. Walau mungkin sebenarnya di hatinya sudah ingin melihat anak gadisnya berumah tangga seperti perempuan-perempuan lain yang sebaya denganku. Mereka semua sudah pada punya anak. Tapi aku masih tetap dengan kesendirianku dan tak punya calon untuk aku kenalkan kepada keluargaku.

            Jika ayah sudah memberikan pendapatnya seperti itu, aku rasanya tak bisa menolak. Karena begitu besar harapan ayah padaku agar aku bisa menjadi calon istri Rendi. Lagi pula aku tak punya alasan untuk menolaknya karena orang yang sepertinya aku harapkan belum pernah menjanjikan apapun. Apalagi sekarang dia malah menjauh. Bagiku ayah adalah seorang yang bijak. Ga mungkin dia memberikan penilaian seperti itu kepada Rendi kalau dia ga benar-benar suka. Rendi sudah menyimpan penilain yang baik di mata ayah.

            “Bagaimana Nan ?”tiba-tiba ayah bertanya membuyarkan lamunanku.

            “Ya Yah.” Aku menjawab singkat.

            “Bagaimana denganmu? Ayah rasa sudah waktunya bagimu untuk menentukan pilihan. Kamu sudah berumur mau nyari yang bagaimana lagi. Ayah rasa Rendi cukup baik padamu. Bahkan hanya bertemu denganmu satu kali saja ia langsung jatuh hati padamu.” Ayah menjelaskan lagi pertimbangannya yang cukup meyakinkanku.

            “Nanda terserah ayah saja. Jika memang itu yang terbaik bagi ayah, ibu , dan juga semuanya. Nanda terima.” Jawabku

            “Syukurlah Nak, kalau pikiranmu sudah terbuka. Ibu juga bahagia.” Ibu yang sedari tadi hanya menyimak saja tiba-tiba ikut berbicara. Dan dialah sebenarnya yang paling berharap agar aku segera menikah. Namun alasan ibu bagiku kurang berkenan. Ibu hanya menilai dari satu sisi saja. Biasa ibu-ibu hanya lebih bangga jika anak gadisnya sudah ada yang meminang pastilah dia yang paling bangga. Berbeda dengan ayah setiap langkah dan tindakannya selalu dipertimbangkan dengan baik. Ayah di mataku adalah orang yang paling bijak tak pernah mengambil keputusan seenaknya.

            “Kalau ayah sudah dapat jawaban darimu seperti itu. Ayah akan segera menghubungi mereka. Karena sudah lama mereka menunggu keputusan ayah. Sedangkan ayah baru bisa bicara denganmu sekarang. Sekarang marilah kita sholat ashar dulu biar semuanya lebih tenang !” akhirnya ayah mengakhiri obrolan kami.

            Di luar tampak langit mulai cerah kembali walaupun senja mulai membayang. Ada terselip ketenangan di hatiku karena aku telah memberikan kebahagiaan bagi mereka. Bagi kedua orang tuaku.