Paradigma Penelitian

Sumber gambar : http://www.google.com

Paradigma Penelitian

Setiap penelitian memiliki paradigma yang berbeda. Tidak banyak peneliti yang masih bingung menentukan paradigma yang digunakan. Memilih paradigma haruslah ada alasannya. Pemilihan paradigma menjadi penting, dikarenakan menjadi fokus arah penyelesaian penelitian. Nah, berikut ini saya akan mencoba menguraikan tentang paradigma penelitian. Semoga bermanfaat.

Thomas Khun (2002) menggunakan paradigma sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota masyarakat. Sementara itu, paradigma juga menunjukkan pada sejenis unsur pada konstelasi itu. Yakni pemecahan teka-teki yang konkret, dapat digunakan sebagai model, dapat pula menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka-teki sains. Perubahan paradigma menyebabkan perbedaan dalam memandang realitas alam semesta.

Sedangkan realitas dikonstruksikan oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu. Sehingga pemikiran dan temuan ini akan menjadikan sebuah pengetahuan yang spesifik. Perbedaan prinsip pokok dalam pengetahuan spesifik inilah akan menggambarkan alam semesta (atas temuan-temuan yang spesifik).

Denzin dan Lincoln (1994) memandang paradigma sebagai seperangkat keyakinan dasar yang berhubungan dengan pokok-pokok prinsip. Paradigma yang diartikan sebagai representasi yang menggambarkan alam semesta. Dalam alam semesta itu terdapat individu-individu berada di dalamnya, beraktivitas, dan ada jarak hubungan yang mungkin pada alam semesta dengan nagian-bagiannya. Kemudian, Denzin dan Linclon ini membagi paradigma pada tiga elemen, yaitu ontologi, epistemologi, dan metodologi.

Dasar memahami paradigma yaitu dari realitas sosial,  bagaimana obyek dipandang, hakikat manusia, bagaimana manusia memahami dirinya, ilmu pengetahuan dan tujuan penelitian. Realitas/empiri melihat dari sudut pandang  fisik, psikologis, mental, sifat Tuhan, Tuhan, sensual (indrawi), logik (ketajaman fikir) dan etik (ketajaman akal budi). Dengan demikian, paradigma didasarkan pada ontologi yaitu berkaitan dengan pertanyaan mendasar tentang realitas. Epistemologimempertanyakan bagaimana cara kita untuk memeroleh sesuatu, dan hubungan apa antara peneliti dengan pengetahuan. Sedangkan metodologi memfokuskan pada bagaimana cara untuk memeroleh pengetahuan. Guba dan Lincoln (dalam Denzim & Lincoln, 1994) membagi paradigma penelitian menjadi : positivism, post positivism, critical, dan constructivism.

Paradigma positivisme/fungsionalis memandang realitas sosial sebagai obyektif, ‘di luar sana’, indrawi dan berlaku hukum universal. Hakikat manusia sebagai makhluk rasional, taat pada hukum eksternal dan tanpa free will. Ilmu Pengetahuan memandang bahwa prosedur ketat, deduktif, nomothetik dan bebas nilai. Tujuan Penelitian yaitu menerangkan, memprediksi, menekankan fakta dan prediksi.

Paradigma Interpretivisme (post postivism) memandang realitas sosial yaitu subyektif, diciptakan, ditafsirkan. Hakikat manusia sebagai pencipta dunianya, memberikan makna pada dunia, menciptakan sistem makna. Ilmu pengetahuan sebagai induktif, ideographic (lokal), menemukan pada makna, tidak bebas nilai. Tujuan penelitian yaitu menafsirkan dunia, memahami kehidupan sosial, menekankan makna dan pemahaman.

Paradigma kritikal memandang realitas social yaitu antara objektivisme dan subjektivisme, kompleks, diciptakan manusia, dalam ketegangan & kontradiksi, tekanan & eksploitasi. Hakikat manusia yaitu dinamik, pencipta nasibnya, di tekan, di eksploitasi, di asingkan, di batasi, di cuci otak, di arahkan, di kondisikan, tersembunyi dari aktualisasi potensi diri. Ilmu Pengetahuan yaitu antara positivisme & interpretative (dapat membentuk hidup, tapi dapat berubah), membebaskan & memberdayakan, tidak bebas nilai. Tujuan Penelitian yaitu mengungkap hubungan nyata yang ada di bawah ‘permukaan’, mengungkap mitos dan ilusi, menghilangkan kepercayaan/ ide yangsalah, membebaskan dan memberdayakan.

Paradigma posmodernisme bahwa realitas sosial itu  bertingkat, ‘menembus batas’, sinergi pemikiran 2 kutub yang berbeda, dikonstruksi, hasil dari proses agreement, tidak ada pemisahan antara obyek subyek. Hakikat manusia memandang makhluk yangsangat bebas, dinamis, berfikir holistik, dapat mengkonstruk ilmu pengetahuan dengan unsur akal mental dan spiritual, intuitif, menggunakan perasaan, bersifat spiritual. Ilmu pengetahuan memandang bahwa tidak sistematis, meterogical, decentered, ever changing, bersifat local. Tujuan penelitian yaitu melihat dan mengungkapkan realitas sosial sebagaimana ‘adanya’.

Dengan demikian, pemilihan paradigma yang tepat pada penelitian kita. Lihat kembali pada ontologi, epistemologi, dan metodologi. Paradigma mana yang sesuai untuk menyelesaikan persoalan penelitian kita? Paradigma utama dalam penelitian sosial terbagi pada beberapa bagian, yaitu : positivistik (positivism, neo positivism, methodologial positivism, logical positivism), intepretif (symbolic interactionism, phenomenology, ethnomethodology, hermeneutics, psychoanalysis, ethnology, ethnography), kritik (cricial sociology, conflict school of thought, marxism, feminism),dan  posmodernisme.

Semoga bermanfaat. Selamat meneliti!.

Referensi

Denzim, Norman K., and Lincoln, Yvonna S.(Editor). 1994. Handbook of qualitative research. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage.

Denzim, Norman K., and Lincoln, Yvonna S. 2009. Handbook of qualitative research (terjemahan). Yogyakara Pustaka Pelajar.

Kuhn, Thomas. 2005. The structure of scientific revolutions. (terjemahan). Jakarta: remaja Rosdakarya Lincoln, Y. S. & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills, CA: Sage.

Lincoln. Yvonna S. and Guba, Egon G. 1985. Naturalistic Inquiri. Sage Publications, Inc.

Sarantokos, Sotirios. 1995. Social Research. Macmillan Education Australia. (hal 33-39)

rumahmediagrup/Anita Kristina