Pascabanjir (1)

Pascabanjir (1)

Banyak yang harus kita lakukan pascabanjir. Bukan hanya menjaga rumah dan lingkungan tetap bersih. Tetapi juga bagimana kita siap kembali menata rumah dengan kondisi seadanya.

Jangan merasa rendah diri ketika di rumah kita masih ada aktivitas bersih-bersih dari dampak banjir, sementara tetangga lain tampak dari luar sudah bersih lebih dulu. Terus saja lakukan bersih-bersihnya, jangan lihat rumah di kanan, kiri, depan, belakang. Kita harus membuat tempat tinggal senyaman mungkin karena kita sendiri yang akan menempatinya (nggak numpang di rumah tetangga ….)

Mungkin beberapa kali, kita akan lihat truk besar milik mal perabotan bermerk tertentu yang lewat di depan rumah kita untuk antar barang ke tetangga. Sudah pasti isinya tempat tidur, kasur, lemari, meja atau perabotan baru lainnya. Sama seperti yang kita butuhkan. Ya, biarkan saja.

Jangan iri dengan kondisi orang lain lalu menjadi sedih dan menuntut suami minta dibelikan perabotan serba baru. Hei, sabar. Syukuri semua yang ada dan melekat pada diri sendiri. Jangan bandingkan kesanggupan orang lain dengan kemampuan diri. Bersyukur saja bahwa kita masih diberi kesehatan dan keselamatan.

Mulai saja menata hati agar tidak larut dalam sedih. Ikhlas dan mantapkan tekad untuk mulai lagi dari awal membangun mimpi. Perabotan itu hanya pelengkap kehidupan. Tanpa perabotan pun kita masih bisa melanjutkan hidup. Walau tidur beralas tikar, kita masih bisa bahagia. Paling hanya pegal-pegal di badan. Tetapi tubuh kita punya kemampuan untuk menyesuaikan. Lama-lama akan kebal juga.

Setelah elektronik yang sempat terendam sudah dibersihkan dan dikeringkan, bisa dicoba untuk dilihat masih berfungsi atau tidak. Tapi harus yakin dalam keadaan kering betul, ya. Kalau rusak dan sekiranya masih bisa diperbaiki, panggil jasa service yang dipercaya. Jika mati total tidak bisa diperbaiki, singkirkan. Jangan jadikan rumah kita museum barang elektronik. Nantinya rumah kita semakin sesak.

Saya mulai tega untuk menyingkirkan kenangan yang melekat pada suatu barang. Ketika menyisir isi rumah, saya sempat tersentil sendiri melihat banyaknya barang yang ada dalam rumah. Hanya karena, nilai historis bersama barang itu saya jadi menyimpannya. Padahal barang itu belum tentu saya pakai.

Saya belajar lagi satu hal lagi dari banjir. Banjir memberikan kita kesempatan untuk merombak rumah beserta isinya serta pikiran pemiliknya. Allah mau kita memiliki hidup baru agar kembali semangat. Allah ingin kita merangkak lagi membangun impian, bersama-Nya. Mungkin dulu kami masih terlalu jauh dari-Nya. Sekarang, semoga segalanya dilancarkan dan dimudahkan.

rumahmediagrup/gitalaksmi