Pascabanjir (2)

Pascabanjir (2)

Dua minggu sudah, menjalani hari-hari setelah banjir besar menerjang perumahan kami. Masih ada nyeri ketika sendirian dan mengingat terkepung air. Masih tersisa jejak lumpur ketika melangkah. Masih ada pakaian dan kain-kain bergelantungan berburu matahari. Masih ada perabotan yang belum tertata di dalam rumah. Pastinya belum hilang penat di tubuh.

Bagi saya yang terbiasa nyaman dengan bersih, dan teratur harus tinggal di tempat yang berantakan terlalu lama jadi sedikit tersiksa. Padahal saya sudah menurunkan standar kerapihan dari perfeksionis menjadi ‘cuekin sajalah’. Pada akhirnya harus sadar kekuatan fisik berkurang karena nyeri sendi. Tetapi bukan berarti rapih asal-asalan. Masih tetap teratur, hanya tidak terlalu sempurna menurut ukuran saya.

Saya mulai berpikir, apa yang harus menjadi prioritas untuk dimiliki lagi ketika barang elektonik untuk meringankan pekerjaan rumah rusak. Harus mengutamakan beli kasur atau mesin cuci? Membeli lemari pakaian atau rak perabotan dapur? Membetulkan kulkas atau service kompor?

Selagi berpikir tentang isi rumah, ada yang dengan lugas mempertanyakan, “Kenapa tidak pindah rumah saja, sih?”

Saya hanya diam sambil tertawa dalam hati. Dulu, setiap nonton berita banjir yang dialami oleh warga daerah rawan banjir, mereka acapkali kebanjiran ketika Ciliwung meluap. Saya menggumam pertanyaan yang sama. Kenapa tidak pindah?

Sekarang, saya merasakannya, walau banjir lima tahunan. Terakhir banjir April tahun 2012. Tidak tiap tahun, dan tidak setiap saat hujan lantas banjir.

Apa yang membuat saya berpikir keras untuk pindah rumah? Pertama, ini rumah milik sendiri, bukan kontrak. Jadi, tidak bisa begitu saja saya tinggalkan. Menjualnya pun tidak akan semudah membalik telapak tangan. Coba perhatikan, rumah yang banyak dijual saat ini di lokasi strategis, luas tanah tidak lebih dari 100m dengan harga fantastis. Dari hasil menjual rumah pun belum tentu bisa langsung mendapatkan rumah baru.

Kedua, lingkungan di sekitar sudah terbangun sejak rumah ini menjadi hak milik tahun 1990. Bisa dibayangkan keakraban yang terjalin. Saling mengenal ketika masih masa sekolah hingga beranak pinak. Ketika lingkungan RT kami bekerja sama membersihkan lumpur, warga lain menilai RT kami paling kompak dan guyub. Saling mendukung dan menyemangati ketika bersih-bersih.

Ketiga, lokasi perumahan kami ini strategis. Dekat dengan pusat perbelanjaan, pasar sehat, pasar jatiasih, beberapa rumah sakit besar, klinik kesehatan dan bidan, sekolah negeri atau swasta favorit dan beberapa tempat kuliner.

Akses tol juga cukup dekat. Mau ke Bandung bisa lewat tol JORR masuk dari pintu Jatiasih lanjut ke tol Layang Cikampek. Alternatif lain lewat tol Bekasi Barat. Agak lebih jauh sedikit menuju kalimalang ada tol Layang Becakayu.

Alasan lain adalah, rumah saya tepat di tengah-tengah rumah kakak-kakak dan adik. Sehingga rumah saya biasa jadi pusat kumpul keluarga.

Maka, sementara ini saya masih menikmati tinggal di sini. Dengan segala resikonya. Jikapun akan pindah, banyak hal yang perlu dipertimbangkan lebih dari tiga alasan yang saya utarakan.

rumahmediagrup/gitalaksmi