Pedoman Penelitian Fenomenologi

sumber gambar :http://www.google.com

Pedoman Penelitian Fenomenologi

Setiap paradigma dalam penelitian kualitatif memiliki cara kerja sendiri. Ada pedoman atau metode analisis yang berbeda-beda. Begitu juga pada penelitian kualitatif fenomenologi. Tujuan dari penelitian kualitatif fenomenologi adalah untuk menggambarkan “pengalaman yang dialami” dari suatu fenomena. Karena ini adalah analisis kualitatif data naratif, maka metode untuk menganalisis datanya harus sangat berbeda dari metode penelitian kuantitatif.

Bagaimana dengan metode pengumpulan data? Dengan cara apa pun informan dapat menggambarkan pengalaman fenomenal yang mereka alami? Pengalaman yang diceritakan ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data. Anda dapat menggunakan wawancara untuk mengumpulkan deskripsi informan tentang pengalaman mereka, atau laporan diri tertulis atau data lisan, atau juga bahkan ekspresi estetika mereka (misal hasil seni, narasi, atau puisi). Observasi atas apa yang terjadi dan data dokumentasi lainnya jika dibutuhkan. Gambar juga akan menjadi data.

Namun, usahakan untuk tidak mengarahkan pada sebuah instruksi tertentu pada informan pilihan Anda. Hal ini tidak dapat dilakukan seperti pada saat kita melakukan survei atau menggunakan kuesioner. Karena dalam studi fenomenologi, Anda akan meminta informan untuk menggambarkan pengalaman mereka, misalnya pengalaman mereka mendapatkan layanan publik, tanpa mengarahkan atau menyarankan deskripsi mereka dengan cara apa pun agar menceritakan pengalaman tersebut. Selanjutnya, bagaimana sebaiknya cara kerja fenomenologi memandang data? Data yang terkumpul melalu wawancara dan observasi serta dokumentasi, maka dorong informan untuk memberikan deskripsi lengkap tentang pengalaman mereka, termasuk pikiran, perasaan, gambar, sensasi, kenangan (aliran kesadaran mereka) bersama dengan deskripsi situasi di mana pengalaman itu terjadi. Anda mungkin perlu meminta klarifikasi detail tentang laporan diri atau wawancara yang sudah dilakukan. Jika demikian, pertanyaan tindak lanjut diperlukan tetapi biarkan pertanyaan tersebut mengalir begitu saja.

Setelah data terkumpul, pertanyaan selanjutnya bagaimana teknik analisis data pada penelitian kualitatif fenomenologi? Prinsip pertama pada analisis data fenomenologi adalah dengan menggunakan strategi yang memungkinkan metode analisis tertentu untuk mengikuti sifat data itu sendiri. Misalnya, penggambaran pengalaman artistik harus didekati secara berbeda dari narasi atau data wawancara. Namun, dalam semua kasus, fokusnya adalah pada pemahaman tentang makna deskripsi. Untuk mendapatkan makna penting dari pengalaman itu, pendekatan yang umum adalah mengabstraksi tema. Ini adalah aspek penting “tanpanya pengalaman tidak akan sama”. Dalam narasi, pertimbangkan aspek-aspek seperti lingkungan fisik, objek, karakter atau aspek karakter (misalnya hubungan mereka), interaksi sosial antara karakter yang berbeda (atau kelompok), jenis kegiatan, hasil, deskriptif elemen, atau referensi waktu. Jika narasi akan mempertahankan makna esensialnya bahkan ketika berbagai aspek ini diubah, maka aspek-aspek itu bukan bagian dari tema esensial. Hanya elemen-elemen yang tidak dapat diubah tanpa kehilangan makna naratif yang berkontribusi pada tema.

Misalnya, dalam deskripsi pengalaman mengendarai kapal feri, beberapa tema penting (yang tanpanya pengalaman tidak akan sama) mungkin termasuk tema bersama yaitu tema pemandangan spektakuler, kopi yang sangat enak, makanan feri yang hambar tapi mahal dan kebosanan singkat tapi cukup kuat. Anda tidak dapat mengganti feri tersebut dalam pemandangan danau, atau naik kapal pesiar melalui kapal lainnya. Penggambaran perairan (dengan makanan yang disajikan prasmanan kapal pesiar) atau bahkan perjalanan pesawat yang masih mempertahankan esensi atau makna dari pengalaman hidup “naik feri”. Setelah Anda sepenuhnya mengabstraksikan dan mempresentasikan tema yang Anda lihat penting untuk pengalaman ini (seperti yang dijelaskan oleh informan), Anda akan dapat menyajikan pengalaman unik dengan cara yang dapat dimengerti (dikenali oleh siapa pun yang memiliki pengalaman pada kondisi yang sama). Juga akan jelas bagaimana pengalaman ini akan berbeda dari pengalaman serupa lainnya (misalnya, pada pertengahan tahun 70-an saya pernah naik feri publik Yunani yang tidak dimaksudkan untuk wisatawan. Pengalaman tersebut mencakup tema serupa pemandangan spektakuler, makanan enak & kebosanan, tetapi perbedaan mendalam antara fasilitas toilet. Hal ini membuat pengalaman naik kapal sangat berbeda. Oleh karena itu, perbedaan dengan pengalaman serupa lainnya perlu diperjelas dalam setiap analisis tema).

Selanjutnya, menerjemahkan elemen-elemen spesifik yang pada dasarnya berkontribusi pada makna menjadi bentuk abstrak dari konsep (misalnya, terjemahkan makna dari naik kapal feri). Cobalah untuk tetap sebangun dengan makna deskripsi informan (misalnya, feri dari Vancouver ke Pulau Vancouver akan berbeda dari feri ke Pulau Bowen atau Pantai Sunshine, terutama dalam jangka waktu lama, jadi Anda harus membuatnya jelas. jika pengalaman itu adalah salah satu yang akan dimiliki di salah saru kapal feri).

Dalam mengabstraksikan tema-tema dari produk artistik, proses refleksi yang serupa akan digunakan untuk menentukan apa makna seni itu, dan unsur-unsur seni apa, atau pernyataan atau perilaku informan yang sangat signifikan, secara kualitatif. Demikian pula, kategori abstrak yang unsur-unsur konkretnya adalah contoh-contoh khusus dan kemudian akan ditentukan proses refleksinya. (misalnya, penggambaran gunung berapi yang meletus, ledakan, tokoh-tokoh kekerasan, senjata, warna merah, dll. Semuanya bisa menjadi contoh nyata dari tema kemarahan), dengan mempertimbangkan pembuatan makna informan. Semua tergantung pada pemaknaan pengalaman dari informan.

Dalam analisis tema, maknanya bergantung pada konteks sosial budaya, linguistik atau artistik. Seringkali Anda harus mengartikan kata/konteks dalam bentuk narasi. Namun, jangan menafsirkan secara berlebihan. Jika artinya tidak jelas, Anda sebaiknya tidak membaca deskripsi pengalaman di luar makna yang jelas. Hindari, misalnya, interpretasi psikodinamik simbolisme (misalnya, bahwa perjalanan feri mewakili “keadaan kesadaran transisi, perjalanan melintasi permukaan bawah sadar”), kecuali jika informan secara eksplisit mengatakan kepada Anda bahwa ini adalah bagian dari makna mereka atau memahami pengalaman.

Biasanya, ada dua jenis tema, tema kolektif yang terjadi di seluruh kelompok informan, seperti dalam contoh naik Ferry di atas, dan tema individu yang unik untuk satu atau beberapa individu informan. Misalnya, masing-masing tema naik feri dapat dilihat dari beberapa kunjungan informan Anda ke bagian anak-anak, toko suvenir, atau video game. Beberapa orang mungkin menikmati makanan feri, atau menganggap perjalanan itu seperti pesiar. Jika demikian, perhatikan perbedaan individual ini.  Selain analisis tema, Anda juga bisa melakukan analisis konten naratif atau seni. Yaitu menarasikan semua pemaknaan pengalaman yang dialami informan.

Di bagian diskusi hasil, presentasikan temuan Anda melalui tema deskripsi pengalaman informan. Beri label dan tentukan tema, dengan contoh narasi yang menggambarkan tema. Anda mungkin bisa  mengutip langsung dari narasi untuk setiap tema untuk menggambarkan tema tersebut. Lalu diskusikan dengan teori. Kaitkan dengan teori yang disajikan dalam Pendahuluan, atau kembangkan diskusi dari tema yang telah ditemukan. Karena tujuan dalam penelitian fenomenologi adalah untuk menggambarkan pengalaman hidup informan, maka di bagian ini diskusi/pembahasan hasil, Anda dapat memperluas tema-tema dan menghubungkannya dengan pengalaman serupa yang ditemukan atau dibahas atau dijelaskan oleh sumber teoritis maupun empiris lainnya. Tentu saja, data fenomenologi dan analisis tema bersifat subjektif, sehingga kemampuan Anda untuk menggeneralisasikannya terbatas.

Demikian penjelasan kerangka kerja atau aturan main dalam penelitian kualitatif fenomenologi. Ikuti saja aturan mainnya ya, sehingga penelitian kita dapat dikatakan sebagai karya ilmiah. Karena dikerjakan sesuai kaidah ilmiah cara kerja fenomenologi. Semua yang saya jelaskan sebelumnya adalah hasil pemikiran dari Janet Waters. Semoga bermanfaat.

Referensi

https://www.capilanou.ca/psychology/student-resources/researchguidelines/Phenomenological-Research-Guidelines/

rumahmediagrup/Anita Kristina