Pejuang Sahur di Awal Puasa

Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Pejuang Sahur di Awal Puasa

Sahur mungkin bisa menjadi sederhana kalau dipandang sederhana, mau dipandang rumit ya rumit. Karena tidak sesederhana seperti apa yang kita bilang, “Sahur itu gampang, tinggal pasang alarm, bunyi keras, bangun dech, lalu makan.” Ah, itu teorinya. Tapi prakteknya?

Ini sahur di hari pertama. “Ntar pasang alarm di gawai ya,” kata kakak, anakku yang paling besar.

“Ok, jam 03.00 bangun ya,” jawab si adik dengan semangat

***

Saya terbangun jam 02.30. Masih 30 menit lagi alarmnya bunyi. Baiklah, bangun dulu, tanpa membangunkan anak-anak dan suami. Lalu, saya pastikan anak-anak masih tertidur pulas. “Nggak tega untuk membangunkan mereka.”

Dan saya bergerak ke dapur, menyiapkan ini itu, menghangatkan sayur, dan tak lupa membuat teh manis. Tak terasa selama hampir 30 menit saya menyiapkan semuanya. Wah, lelah juga ya, waktunya membangunkan mereka. Terlihat suami sudah bangun juga.

“Kakak, adik, ayo bangun nak,” ujar saya perlahan. Saya matikan alarm yang begitu kencangnya.

Anak-anak bangun dengan berat. Ekspresi kaget bercampur aduk terlihat. Antara mau nangis, malas bangun juga. Saya peluk mereka pelan, berbisiklah saya pelan ke telinga mereka:

”Bangun yuk, berjalanlah dengan penuh taqwa. Menghitung rasa syukur atas apa-apa yang kita terima. Bergeraklah, buka matamu nak, agar kalian bisa menemui hikmah apa-apa yang kau jumpai,”

Mereka mulai membuka mata. Menguap, tersenyum kecil dan malas. Lalu, mereka berjalan dengan berat ke ruang makan. Duduk dengan tenang. Suami memandang mereka dengan bangganya.

Sahur pertama yang berat buat mereka. Berat bukan hanya membuka mata, dan bergerak. Namun, juga berat harus nahan lamanya waktu untuk makan segera. Karena ternyata magiccomnya belum nyala. He..he..he..lupa menanak nasi..

Ah, baru sadar. Menjadi pejuang sahur bukan hanya soal bangun dan makan, tapi juga kesiapan menerima keadaan,”Seenak mungkin lauk sayur, apalah artinya tanpa nasi.”

Dan tambah berat lagi, mereka tertidur lagi di meja makan sambil nungguin nasi. Hadech……

***

Hanya dengan keikhlasan, sahur bisa membawa naik taqwa. Meninggikan derajat sedalam-dalamnya. Dalam diam..tak bersuara. Berbisik melalui bangunmu, terbukanya matamu, bergeraknya langkahmu. Temui sahur dengan senyuman, apapun yang terjadi…..bersyukurlah…

rumahmediagrup/Anita Kristina