Pejuang Subuh

Pejuang Subuh

(Andi Vica)

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup, oleh Andi Vica.

Kring … kring! Alarm gawaiku berbunyi, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 5:20 pagi, penanda aku harus segera bangun walaupun hari masih gelap dan sunyi. Mencuci wajah, menggosok gigi, lalu cepat-cepat membangunkan anakku, Danish, yang masih terlelap mimpi.

“Nish, bangun, dong. Langsung mandi, ya,” bisikku.

Danish membuka matanya sedikit dan beranjak bangun dari tempat tidurnya sambil mengangguk.

“Bunda, hari ini Danish pakai baju PE, ya.”

Sementara ia sedang membersihkan diri, aku mulai bergerilya menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk dibawa ke sekolah nanti. Pilihan makanan utama haruslah yang dapat mengenyangkan perut, ditambah beberapa pencuci mulut.

Menu harian pun harus berbeda, agar tiada bosan yang berganda. Hari ini nasi goreng telur dadar, esok kentang goreng keju, dan hotdog sebagai penahan lapar. Lima belas menit telah berlalu dan sang anak pun sudah harum, bersih dari peluh.

“Bunda siapkan dua bento hari ini, ya. Kamu ada extra class, kan?” tanyaku. Belum sempat dia menjawab, aku bertanya kembali, “Recess makan nasi goreng, sebelum extra class makan sandwich, ok, enggak?”.

Dia lalu menjawab dengan santai, “Apa saja yang Bunda buat, Danish ok saja”.

Setelah menghabiskan makan paginya, ia bergegas melaksanakan solat Subuh untuk menyerahkan perlindungan hari ini kepada-Nya. Lalu memakai sepatu, membetulkan peci, memakai kain penutup hidung dan mulut, serta mencium punggung tangan kananku.

Kusimak kembali dengan teliti penampilannya dari mulai kaos kaki, baju seragam, hingga ke peci. Layaknya seorang guru yang memeriksa kelengkapan seragam siswa siswi. “Ah, sudah handsome kamu. You’re good to go!

Dari lantai empat, kuawasi sosok tubuh gempalnya berjalan menuju halte bis dengan cermat, ia lalu menoleh ke atas dan melambaikan tangannya dengan cepat. Tidak lupa menuliskan kalimat I love you, melalui pesan singkat saat sudah berada dalam perjalanan. Setiap degup jantungku berdoa semoga Allah melindungi dan mempermudah urusannya hari ini, esok, dan nanti.

Aku bukan ibu yang memaksakan kehendak untuk sang anak bersekolah di madrasah, karena kutahu madrasah di negeri yang kutinggali saat ini hanya ada segelintir saja. Sedangkan peminatnya melimpah ruah, hingga ada banyak proses penyaringan untuk dapat diterima. Tapi kami kembalikan lagi semua kepada Allah, karena kami percaya skenario-Nya pasti indah.

Seandainya ia tidak diterima di madrasah tersebut, ada banyak cara untuk bisa menekuni agama. Seperti kata pepatah yang sering kuulang untuknya, banyak jalan menuju Roma.

Pejuang subuhku tanpa terasa kini sudah memasuki tahun kelima, sebagai murid sekolah dasar di madrasah pilihannya, dengan pelajaran yang semakin susah, dan butuh tanggung jawab semakin besar. Harus bersiap untuk sekolah sebelum matahari terbit untuk mencari ilmu, dan kembali ke rumah saat matahari hampir berlalu. Seringkali menatap iba wajahnya yang sedang terlelap di malam hari.

Anak kecilku, semoga engkau tumbuh menjadi anak yang berbudi. Kutahu dia sudah belajar dengan sungguh-sungguh untuk meraih ilmu, karena dia adalah calon pemuda tangguh, sang pejuang subuh.

(Tamat)

(Foto: Koleksi pribadi)