Pekerjaan Layak Bagi Pekerja Asisten Rumah Tangga

Sumber gambar : www.google.com

Pekerjaan Layak Bagi Pekerja Asisten Rumah Tangga

Pekerja asisten rumah tangga sebagian besar dilakukan oleh perempuan. Pekerja tersebut biasanya  melakukan urusan domestik rumah tangga. Pekerjaan ini cenderung belum memiliki hubungan kerja dan sistem pekerjaan yang standar. Mekanisme kerja hanya dibentuk oleh kesepakatan saja, antara majikan dan si pekerja. Begitu juga kesepakatan upah hanya menjadi keputusan majikan. Pekerja asisten rumah tangga melakukan pekerjaannya dengan waktu kerja yang lama, upah kecil dan kondisi kerja tidak nyaman (karena bekerja di rumah majikan).

Konsekuensi para perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga adalah melakukan tugas rumah tangga sang majikan sekaligus melakukan pekerjaan yang sejenis di rumah mereka sendiri. Banyak diantara mereka memiliki anak dan seringkali dijumpai persoalan pembagian tugas domestik dengan suami mereka. Pendidikan rendah yang mereka miliki menjadi alasan posisi mereka kurang menguntungkan. Namun, pekerjaan tersebut menawarkan jam kerja lebih fleksibel,  terkadang jumlah jam kerja mereka tidak terbatas pada jam kerja selama di rumah majikan. Dengan demikian, mereka kurang bisa mengimbangi beban ganda dan peran sosial mereka di masyarakat. Ketidakmampuan mereka dalam menghadapi segala persoalan tersebut diindikasikan telah terjadi defisit nilai, atau bisa juga bahwa pekerjaan tersebut dimaknai sebagai pekerjaan defisit layak.

Kelayakan kerja (better work) terbentuk oleh lingkungan dan mekanisme pekerjaan. Mereka para pekerja ini seringkali bekerja di dalam rumah (bukan bentuk perusahaan), pekerjaannya dianggap remeh sama lingkungan sekitar, dan berkontribusi sedikit pada perekonomian negara walaupun berkontribusi pada pendapatan keluarga. Jika dihubungkan dengan mata rantai pekerjaan di dunia, pekerjaan ini dikategorikan sebagai pekerjaan yang kurang beruntung. Bahkan di Indonesia, pekerja asisten rumah tangga tidak dijelaskan dalam aturan formal yang jelas. Artinya perlindungan hukum dan sosial belum ada, sehingga sangat rentan terhadap upaya-upaya eksploitasi.

Meskipun demikian, banyak pekerja asisten rumah tangga yang menggunakan agen perusahaan tertentu dan ada juga yang tanpa perantara. Situasi ini menunjukkan bahwa pekerjaan ini masih diminati oleh sebagian besar perempuan di Indonesia, terutama perempuan yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Hubungan kerja yang mengatur pekerjaan asisten rumah tangga sudah seharusnya menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan bagi pekerja itu sendiri agar kejelasan atas upah, jam kerja, mekanisme hubungan kerja dilindungi secara hukum. Pada akhirnya, tidak terdapat upaya eksploitasi dan memaknai pekerjaan asisten rumah tangga sebagai pekerjaan yang layak (better work).

rumahmediagrup/Anita Kristina