Pelangi di Matamu (Bagian 4)

“Hasan, Hasan Maling!” Seru seseorang dari kejauhan. Kembali langkah Hasan terhenti. Ia menoleh ke belakang, samping kiri, dan kanan tetapi ia belum bisa menentukan siapakah yang memanggil itu. Sungguh berat ujian ketika ingin berhijrah. Lirih Hasan dalam hati.

Kembali Hasan teringat nasihat ibunya, lalu ia mantapkan langkah melanjutkan perjalanan pulang. Tidak lama kemudian terdengar suara memanggilnya kembali, “Hey, Hasan si maling kotak amal! Tunggu, jangan jadi pengecut begitu.”

Dada Hasan terbakar, ia menoleh dengan cepat secara kebetulan ia mengetahui orang yang meneriakinya dari tadi. Hasan langsung menyerbu dan menarik kerah baju anak muda seusianya. Bogem mendarat di wajah anak muda itu beberapa kali. Ia menjerit dan berteriak minta tolong. Hasan kalap, ia tak memerhatikan sekeliling, kerumunan orang telah mengelilingi bak semut mengerubungi makanan.

Tidak ada yang berani memisahkan perkelahian yang tak seimbang itu, anak muda yang mengejek sudah babak belur. Wajahnya penuh darah, tiba-tiba ada suara teriakan memanggil Hasan. Ia paham sekali warna suara itu. Ibu, lirihnya. Seketika Hasan menghentikan tinjunya. Ia menghempaskan anak muda itu ke tanah tanpa ampun.

Tak berpikir panjang Hasan berlalu dari kerumunan itu, warga yang melihat tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menyaksikan perlakuan Hasan yang kejam terhadap anak muda itu. Inem memburu dan membangunkannya sambil meminta maaf, “Maafkan anak ibu ya, Nak.”

Anak muda itu tidak mampu menjawab, darah mengucur di tepi bibir dan pelipisnya. Ia mendorong Inem hingga terjatuh sambil mengumpat, “Sialan, tunggu saja pembalasan Gua. Gua akan perpanjangan masalah ini!”

Inem merasakan kekhawatiran yang mendalam, secepatnya ia berlalu dan pulang. Rumah begitu sepi, matanya berkeliaran mencari keberadaan Hasan. Ia langsung menuju kamar anaknya, dan memastikan Hasan baik-baik saja.

“Nak, bagaimana keadaanmu?” Tanya Inem dengan pelan. Ia tak mau membangunkan macam tidur.
“Aku baik-baik saja Bu, maafkan aku tidak mampu menjaga amanahmu,” jawab Hasan tertunduk lemah. Ia tidak kuasa menahan hinaan dan ejekan anak muda itu.  Sebagai anak berdarah muda, ia tak mampu menahan  dan membiarkan dirinya diperlakukan semena-mena.

***
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Hasan terlihat lebih pendiam. Namun, ia tetap sekolah seperti biasa. Tak ingin mengecewakan bu Rahmi dan kepala sekolah. Ia telah berjanji akan tetap sekolah, ujian tinggal selangkah lagi. Namanya sudah tercantum di daftar nama tetap ujian nasional. Ia bersyukur bisa melalui hari-hari di sekolah dengan baik. Walaupun tidak sedikit orang mencibir dan mencemooh.

Tujuan hidup sudah di depan matanya, Hasan akan bekerja setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan. Kini ia sudah mempunyai cita-cita hidup. Satu citanya ingin membahagiakan keluarga dan kedua orang tuanya, terutama ibu.

Sepekan sebelum ujian nasional, tanpa angin tanpa hujan, bahkan tanpa undangan. Tiba-tiba hadir di kediaman Inem, tiga orang berseragam rapi. Mereka mencari Hasan, ternyata belum usai perkara perkelahian tempo itu. Anak muda yang babak belur kena bogem Hasan, ia membalas dendam dengan melaporkan Hasan kepada pamannya secara kebetulan sebagai anggota kepolisian.

Hasan dengan pasrah tidak melawan atas penangkapan itu. Ia mengikuti perintah untuk turut ke kantor dalam pemeriksaan. Berbeda dengan Hasan, Inem tergopoh dan mencoba menahan kepergian anaknya. Namun, semua sia-sia saja.

Anak muda itu mempunyai alasan dan kekuasaan. Tanpa bersusah payah Hasan bisa ditangkap dengan mudah. Ia tersenyum puas, mulutnya tersungging dan mencibir, “Makanya jangan macam-macam dengan Gua!”

Inem tidak memedulikan apa yang dikatakan anak muda itu. Terpenting keadaan Hasan baik-baik saja. Ia berdoa semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik untuk anaknya. Butiran bening kembali mengalir deras di pipinya. Baru saja ia merasakan kebahagiaan karena Hasan sudah mulai bertobat, dan patuh kepadanya. Kini Allah mengujinya dengan cobaan kembali.

Inem melepaskan kepergian Hasan dengan cucuran air mata. Nanar memandang langkah terakhir Hasan yang terhalang belokan. Sejenak Inem bersimpuh dan meratap. Apa yang harus kulakukan, Mas Paijo belum pulang, Lirihnya. Andaikan tahu keberadaannya akan segera menyusul. Ia hanya berdoa, tak putus-putus dan berzikir.

Warga yang melihat kejadian itu merasakan prihatin. Mereka telah merasakan perubahan Hasan. Dulu ia sebagai anak tidak berakhlak, kini 180°  berubah menjadi anak sholih dan sebagai remaja musala. Beberapa warga menenangkan Inem, dan mencoba mencari keberadaan Paijo.

Tak lama kemudian, Paijo tiba di rumah dan langsung menuju ke kantor polisi. Ia memandang anak semata wayangnya penuh iba. Namun, ia tak mau menampakkan kesedihan di depan anak lelakinya. “Bersabar ya Nak, bapak akan berusaha membebaskanmu dari jeruji besi ini,” ujar Paijo dengan penuh kasih.

Hasan tersenyum, lalu ia memeluk erat ayahnya seolah tak mau berpisah. “Bapak, jaga ibu ya. Maafkan selama ini aku kerap merepotkanmu,” pinta Hasan sambil melepas pelukan terakhir kepada Ayahnya. Paijo baru merasakan pelukan hangat itu kembali setelah beberapa tahun telah menghilang.

Sepeninggal Hasan yang dijemput oleh polisi, Inem menjadi pemurung. Ia tidak mau berbicara, bahkan sudah tidak pernah memerhatikan kondisi rumah. “Bu, sudahlah. Jangan melamun terus, kita berdoa saja semoga ada keajaiban berpihak kepada kita,” ucap Paijo sambil menyentuh pundak Inem.

Inem tersadarkan dengan sentuhan dan suara suaminya, ia bergegas mengambil wudu. Ya Allah, maafkan hamba yang telah lalai dari-Mu. Gumam Inem. Ia lakukan salat bermunajat kepada Sang Maha Rahman dan Rahim. Tiada daya dan upaya semua adalah atas pertolongan-Mu ya Allah. Engkaulah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Inem resah memikirkan Hasan yang sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional. Sedangkan Hasan sendiri masih dalam jeruji besi. Tatapan Inem kosong, ia menerawang jauh andaikan aku orang yang berlimpah akan ditebus anaknya dengan mudah. Pupus harapan, tubuhnya lemah duduk di kursi kayu depan rumah. Paijo sudah dari pagi mengais rezeki, walaupun keadaan sedang tidak baik tetapi ia harus tetap semangat mencari rezeki.

“Assalamualaikum Bu Inem,” ucap salam terlontar dari Bu Marni tetangga Jnem.

“Waalaikumussalam,” sahut Inem tersadarkan dari lamunannya. Ia bangkit dari duduknya karena kedatangan Marni.

“Bu Marni, ada yang bisa saya bantu? Padahal tak perlu repot-repot ibu datang ke sini. Biarkan saya ke rumah atau ibu bisa menyuruh Karim untuk memanggil saya,” jelas Inem sambil mempersilakan Bu Marni duduk.

Marni ini merupakan tetangga yang sering meminta Inem mencucikan pakaian. Inem beranggapan kedatangan Marni karena menyusulnya untuk mencuci. Sebab, selama Hasan tidak di rumah, ia terpukul dan tidak segesit kemarin-kemarin. Ia akan ke tempat Marni setelah Hasan berangkat sekolah. Namun, hingga siang belum berangkat makanya disusullah oleh Marni.

Ternyata kedatangan Marni bukan untuk meminta Inem mencuci, Tetangganya itu menjelaskan bahwa ketika peristiwa perkelahian tempo lalu. Rahmat anak Bu Marni menyaksikan kejadian itu, secara kebetulan ia baru pulang dari musala juga. Namun, waktu itu Rahmat tak bisa melerainya karena posisinya terburu-buru. Akan tetapi ketika Hasan dipanggil dengan sebutan maling beberapa kali ia mendengarnya, jadi pemicu perkelahian itu sebenarnya bukan dimulai dari Hasan.

“Saya siap menjadi saksi Bu,” ucap Rahmat sambil tersenyum ramah.

“Alhamdulillah Mas, terima kasih atas bantuannya. Entah bagaimana saya membalas semua kebaikan keluarga Bu Marni.

Tak sabar Inem ingin segera ke kantor polisi, menjemput pulang anaknya. Namun, Paijo belum tiba di rumah. Ia bingung, khawatir suaminya pulang dan kedapatan rumah kosong malah akan menjadi keresahan Paijo. Akhirnya diputuskan, bahwa Rahmat dan Bu Marni akan menemani ke kantor polisi esok hari.

Kebahagiaan Inem tak dapat dideskripsikan, ada pelangi di matanya. Laksana langit setelah mencurahkan hujan muncullah pelangi menghiasi angkasa. Tak lepas bibir Inem mengucapkan terima kasih dan bersyukur kepada Allah. Tak sabar ia kembali memeluk Hasan, anak semata wayangnya. “Rabbi habli minash shalihin” berulang kali ia mengucap kalimat itu.

Esok harinya, selepas salat tahajud Inem tidak tidur lagi, ia berzikir terus dan memunajat kepada Sang Khalik. Agar diberikan kemudahan dan kelancaran ketika menjemput Hasan. Ia lanjutkan Subuh dan tilawah. Sesibuk apa pun dengan kehidupan yang penuh kesederhanaan Inem tak lepas dari ibadahnya. Segalanya ia serahkan kepada Allah swt. Ia yakin dalam kesulitan pasti ada kemudahan.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Al Qur’an Surat Al-Insyirah Ayat 5-6

Bersambung

rumahmediagrup/suratmihamasah