Pelangi di Matamu (Bagian 1)

“Makanlah seadanya, kita patut bersyukur dengan rezeki yang Allah berikan kepada keluarga kita,” ujar Paijo kepada anak dan istrinya.

“Malas banget, sehari-hari makannya tempe, telur, dan tahu mulu,” rajuk Hasan sambil bersungut-sungut.

“Enggak boleh begitu, Nak. Bersyukur dengan makanan yang ada. Mari nikmati masakan ibu. Awali dengan membaca basmalah. Biar apa yang kamu makan menjadi berkah buatmu,” sahut Inem.

“Iya Bu, ini juga mau dimakan. Lagi pula enggak bosan apa kita tiap makan begini-begini saja,” balas Hasan dengan sedikit terpaksa makan yang ada di hadapannya.

Keluarga Paijo terbilang sangat sederhana. Hasil dari menjadi tukang cukur keliling bisa digunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Selebihnya ia sisihkan untuk membayar sewa rumah yang sebentar lagi jatuh tempo.

Belum untuk bayaran SPP Hasan yang sudah dua bulan menunggak. Walaupun hidup dalam kekurangan Paijo enggak mau anaknya putus sekolah. Ia harus memeras keringat dan memutar otak untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga.

Sayang sekali, Hasan tak pernah memahami kondisi keluarga. Ia masih saja senang berkumpul dan nongkrong dengan temannya. Padahal ia sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas tingkat akhir.

Paijo dan Inem menggantungkan harapan besar kepada Hasan, agar kehidupan keluarga kelak lebih mapan dibandingkan saat ini. Dengan modal kerja kasar dan keahlian mencukur, ia menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang sukses.

Namun, gayung tak bersambut. Semua keinginan Paijo dan Inem jauh dari harapan. Hasan yang diandalkan kelak menjadi tulang punggung keluarga, sama sekali masa bodo dengan keadaan ini.

Hari-hari Hasan hanya bermain dan nongkrong, ia pun sudah mengenal asap yang dapat membunuhnya. Inem sudah bosan untuk mengingatkan. Sering ia menangis sendiri kala sedang salat. Ia memohon agar anaknya bisa sadar.

Kerap Paijo mendatangi tempat tongkrongan anaknya itu, tak bosan ia meminta anaknya pulang. Namun, Hasan tak mengindahkan ucapan dan nasihat ayahnya.

***

Beberapa hari ini Paijo merasakan tubuhnya mulai melemah. Ia mudah lelah dan sesak dadanya. Mungkin karena terlalu keras ia dalam bekerja. Hingga tak memerhatikan keadaan kesehatan fisiknya. Dalam pikiran Paijo bagaimana menyekolahkan Hasan hingga lulus.

Semakin hari Paijo semakin lemah, ia sudah tidak berkeliling. Terbaring di dipan keras membuatnya semakin terlihat tersiksa. Badannya sudah menyurut, sisa kulit dan tulang tampak di sana. Istri Paijo melihat kondisi suaminya seperti itu ia hanya bisa meratap dan berdoa.

Melihat kondisi ayahnya, Hasan bukannya sadar tetapi malah semakin gila. Ia mengambil uang dari tangan ibu secara paksa. Padahal, uang hasil dari mencuci pakaian tetangga itu untuk berobat suaminya ke klinik.

“Hasan, kembalikan uangnya. Mau ibu pakai berobat, kasian ayahmu sakit dan perlu dirawat,” jerit Inem berusaha merebut uang yang dirampas Hasan. Namun, tenaganya tak sebanding dengan Hasan. Ia terjatuh, terhempas ke lantai. Kembali Inem menangis meratapi nasibnya.

Bersambung…

rumahmediagrup/suratmihamasah