Pembalasan Lebih Kejam Dari Pada Tidak Membalas

“Buaaach, bahh! Kopimu kok pahit asin Jum. Memangnya merek apa? Kok rasanya tidak seperti biasanya.”

“Eh, jangan gitu Mas. Itu kopi mahal lho, oleh-oleh Maktri dari jalan-jalan ke pulau komodo. Katanya sih asli kopi luwak yang terkenal itu, harganya pasti mahal.”

“Kopi mahal kok rasanya koyok nyeplus garam himalaya, memangnya bener-bener asli opo palsu? Jangan-jangan kopinya sudah kedaluawarsa, Jum.”

“Ya asli Mas, wong katanya Maktri, asli tanpa campuran dan langsung ngambil sendiri dari kandang luwaknya kok. Kopi asli keluar dari kotoran luwak tanpa dicuci langsung diblender, maka jadilah kopi luwaknya.”

“Hoekkk, byorrr …!”
Mas Parno suami Juminten blokekan muntah-muntah, tapi malah diselingi tawa kemenangan istrinya.
‘Wah, aku dikerjain ini pikir Parno, awas ya.’
Padahal sebenarnya Juminten hanya bercanda godain suaminya saja.
.
.

Sore hari di teras rumah tampak duduk sepasang suami istri yang sedang saling berdiplomasi tentang poligami. Entah apa yang dibicarakannya, tapi yang jelas pembicaraan itu membuat Juminten marah.

“Gak mas, aku gak setuju kalau dimadu. Pulangkan saja kerumah orangtuaku, kamu tega mas! Hik, hik, dulu katanya mau setia sehidup semati sama aku, tapi sekarang mana buktinya?”

“Wis, pokoknya kamu suka atau gak suka aku tetap mau jemput Cintya di rumah mas Sarman besok pagi. Sekalian rencananya mau ku buatkan istana di belakang rumah ini, biar aku bisa memandang dan ketemu setiap hari, menungguinya sambil ngopi.”

“Ya Allah Mas, kamu memang benar-benar tega sama aku. Pokoknya aku gak mau dimadu, titik!”

Keesokan harinya.

“Jum, Mas mau pergi dulu. Tolong kamu persiapkan kedatangan Cintiya dengan meriah. Jangan cemberut dan uring-uringan, nanti dia gak betah di sini lho.”

“Bodo amat, males aku ngomong sama kamu. Memang lelaki gak punya perasaan!”

Tanpa menghiraukan omelan Juminten yang masih terus nyerocos sambil menari india dengan latar semprotan air pompa yang bocor, membuat dirinya semakin sendu berderai air mata. Dengan penuh amarah, segera ia membuntuti suaminya dengan menyewa adiknya sebagai ojeg bayaran sekaligus mata-mata.

Perjalanan menuju rumah mas Sarno tidak terlalu jauh. Setelah cukup jarak untuk mengintai gerak gerik suaminya yang saat itu sedang asik ngobrol dengan perempuan muda yang cantik. Hati Juminten jadi kebat kebit cenat cenut gak karuan. Menahan emosi sampai dadanya membusung seperti ban truk gandengan.

Jederrr! Hatinya semakin panas ketika dilihatnya, sang suami menyodorkan sejumlah tumpukan uang merah kepada wanita muda itu. Tanpa basa basi disudahinya pengintaian playboy kabel, dengan tergesa-gesa ia turun dari mobil sewaan tersebut.

Mungkin karena sudah terlanjur dibakar api cemburu buta sampai-sampai Juminten tidak sadar sewaktu keluar rumah tadi kalau alas kaki yang dipakainya tidak sepasang alias sandal selingkuh. Yang sebelah kiri sandal jepit swallow dan yang sebelah kanan sandal kerlap-kerlip hak 5 cm yang biasa dipakainya untuk pergi kondangan. Otomatis jalannya seperti orang pincang. Tapi meski demikian ia tetap belum sadar dengan kondisi alas kakinya. Ia pikir memang jalanannya yang rusak, berlubang tidak rata.

Amarah Juminten langsung meledak di depan suami dan perempuan muda tadi. Sempat diumpatnya sebagai pelakor tukang ganggu suami orang dan sebagainya. Perempuan muda itu hanya bengong melengong seperti pus meong yang dielus-elus Bagong.

Melihat kekisruhan yang terjadi semakin memanas, sedangkan Parno sendiri tidak punya wewenang menembakan gas air mata untuk menghalau terjadinya aksi protes Juminten dan kerumunan orang-orang yang mengitari mereka. Akhirnya ia pun segera bertindak tegas memadamkan aksi kerusuhan istrinya dengan cara klarifikasi.

“Juminten bojoku sing ayu mulus koyok santen! Mbok jangan begini. Bikin malu saja, apa-apa kok langsung sudzon, gak mau tanya-tanya dulu, memangnya kamu tahu dia ini siapa? Kok tiba-tiba dilabrak tanpa salah dan dosa!”

“Walah Mas, gak usah berdalih! Inikan yang namanya Cyntia, yang mau kamu bangunkan istana di belakang rumah kita? Pantesan saja kamu bakalan nungguin dan memandangnya setiap hari sambil ngopi. Kamu anggap aku ini siapa Mas?”

Degup jantung Juminten semakin kuat menahan amarah, nafasnya tersengal dan dadanya naik turun seperti pompa ban sepeda gunung yang sedang digunakan. Bak petir di siang bolong yang menyambar jemuran. Banyak kata yang keluar dari mulutnya sambil terisak sesegukan.

“Sik, sabar. Istighfar tenangkan dirimu. Mbak ini namanya Wilujeng istrinya mas Sarman, kebetulan kemarin aku sudah janjian dengan suaminya untuk ambil kambingnya yang bernama Cyntia hari ini buat dipelihara di belakang rumah kita. Semenjak kena PHK lebih baik ku putuskan utuk berternak kambing saja, daripada aku gak ada kerja, kan mendingan ngurusin kambing to Jum! Kita kan juga butuh biaya hidup.
Dan kebetualan mas Sarman ada keperluan saat aku datang, jadi ia pesan kalau uangnya disuruh menitipkan ke istrinya saja. Paham!”

“Oalah gitu to Mas, tiwas aku cemburu gak taunya Cyntia itu nama kambingnya.”

Sambil meminta maaf kepada perempuan muda tadi Juminten cengar cengir sendiri. Ternyata suaminya cukup bertanggungjawab juga ya. Karena terlupa Parno tidak membawa keranjang tempat kambing maka terpaksa kambing diikat dan digendong belakang punggungnya.

“Ayo Jum, cepat naik. Kita pulang sekarang, aku kadung malu gara-gara ulahmu kita jadi tontonan orang banyak!”

“Iyo yo Mas, aku minta maaf, kamu juga sih, gak mau jelasin dari awal.”

Brum, brummm….

“Lho Mas tunggu, Massss! Aku kok ditinggal, Ya Alloh padahal aku belum naik motor lha kok sudah menghilang to … hu, hu …hu.”

Mungkin parno terlupa bahwa yang dibelakangnya adalah Cyntia bukan Juminten. Oalah, nasib Juminten.
Inten jemerut, hati Juminten perih seperti kena parut. Sabar deh. Sambil berjalan pincang karena sandal yang tidak sepasang ia berusaha cari tumpangan.

-Lelly Hapsari-
(Belajar nulis fiksi)

#NulisBareng
#NubarRumahMediaGrup

#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan