Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Membicarakan kondisi bangsa saat ini. Serta harapan terhadap masa depan bangsa ke depannya. Rasanya tak pernah ada habisnya.

Sebagai seorang ibu yang aktivitas sehari-harinya banyak berselancar di dunia maya. Berita-berita yang beredar di internet seringkali terasa meresahkan. Membuatku membayangkan betapa beratnya peran sebagai orang tua menjaga buah hati di masa sekarang.

Media kerap menampilkan fenomena perilaku remaja yang patut dikhawatirkan. Sebut saja kebebasan pergaulan yang tak bertanggungjawab hingga kebablasan. Tren berlomba-lomba membuat konten viral di media sosial tanpa mempedulikan adab.

Seringkali pula mengesampingkan akal. Belum lagi remaja-remaja galau yang kehilangan haluan. Menjadikan artis-artis dadakan di instagram sebagai panutan.

Agaknya hal ini ada kaitannya dengan penggunaan istilah ‘remaja’ di tengah masyarakat kita. Dimana teori psikologi Barat menitikberatkan remaja sebagai fase pemberontakan dan ketegangan. Sementara istilah ‘remaja’ sendiri menurut ilmu psikologi, secara singkat adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, dengan ciri perubahan-perubahan cepat dan menyeluruh pada diri seseorang.

Sedangkan dalam Islam tidak dikenal istilah remaja (murahiq) yang identik dengan kegoncangan dan krisis jati diri. Yang ada, istilah pemuda (syabab) yang lekat dengan semangat maju dan masa depan cerah. Semua kata yang terdiri dari huruf sya-ba-ba bermakna kuat, muda, baru, indah, dan berkembang.

Syab artinya orang yang menjumpai usia baligh namun belum mencapai usia dewasa. Dengan demikian, ada fase sebelum menginjak usia dewasa yang disebut fase ‘pemuda’, yang dimulai dari masa baligh. Masa ini memiliki ciri indah, kuat, dan tumbuh dengan cepat.

Kepribadian pemuda yang positif tidak terlepas dari peran keluarga, terutama pola didik yang tepat dari orang tua. Interaksi di dalam keluarga yang penuh pengertian, saling menghormati, memberikan kepercayaan pada anak, komunikasi terbuka dengan orang tua, serta senantiasa dekat dan taat dengan agama, akan melahirkan pemuda yang sanggup menjadi sandaran umat, perisai kokoh, dan pondasi kuat sebagai unsur pembangunan masyarakat.

Masa depan bangsa kelak ada di tangan para pemuda. Tunas harapan bangsa. Namun tanggung jawab untuk mengokohkan tangan-tangan mereka terletak di pundak kita, para orang tua.

Laa hawla walaa quwwata illa billah. Allah mudahkan jalan kita mengemban amanah. Mendidik sebaik-baiknya generasi muda calon pemimpin bangsa. Aamiin.

Daftar Pustaka :
Asy-Syantut, Khalid Ahmad. (2013). Mendidik Anak Laki-laki. Solo: Aqwam.

Ditulis ulang dan disunting seperlunya dari :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157947796397847&id=748347846

rumahmediagrup/arsdiani