Pemutus Kesombongan Manusia

Pemutus Kesombongan Manusia

“Saat butuh bantuan, saya bantu. Kasihan melihatnya sampai tidak mampu membeli beras untuk makan keluarganya. Tapi baru maju sedikit, malah berbalik menjelek-jelekkan saya. Pamer ini itu. Manusia tidak tahu bersyukur …. “

Seorang teman bercerita panjang lebar dengan nada berapi-api. Menceritakan salah seorang kerabatnya yang konon menurutnya mendadak menjadi sombong setelah usahanya baru saja mulai menunjukkan kemajuan.

“Padahal dia dulu datang dengan memelas. Sampai tidak tega melihatnya. Tapi sekarang, kenapa dia malah membuat cerita buruk tentang saya?” Lanjutnya.

Sejenak, mendengar cerita teman tersebut –terlepas dari benar atau tidaknya– mendadak saya teringat pada kisah Qarun yang hidup di zaman Nabi Musa alaihissalam.

Qarun diceritakan semula adalah seorang lelaki miskin yang taat beribadah. Suatu ketika ia meminta bantuan pada Nabi Musa agar hidupnya lebih baik. Setelah diberi bantuan dan usahanya maju pesat, Qarun berhasil menjadi orang yang kaya raya.

Sayangnya harta kekayaan yang melimpah bukannya membuat Qarun menjadi lebih banyak bersyukur dengan rajin beribadah kepada-Nya. Yang terjadi adalah Qarun malah menjadi sombong dan senang memamerkan harta kekayaannya tanpa pernah mau berbagi dengan kaum fakir miskin. Menurutnya, harta yang dimilikinya adalah murni dari hasil jerih payahnya sendiri. Ia melupakan bahwa ada campur tangan Allah SWT.

Singkat cerita, untuk menghentikan kesombongan dan kezaliman Qarun, Allah SWT akhirnya mendatangkan azab baginya. Semua hartanya musnah ditelan bumi, termasuk Qarun yang terkubur hidup-hidup ke dalam tanah. Naudzubillah min dzalik.

Dari kisah tersebut, mari kita merenung sejenak. Siapalah kita? Hanya manusia yang terbuat dari tanah liat keras berwarna hitam. Terbentuk dari air mani yang hina. Tak sepantasnya menyombongkan diri di hadapan siapa pun.

Tiada daya upaya kita selain pertolongan dari-Nya. Tiada yang bisa kita sombongkan, sebab semua yang ada pada diri dan yang ada di sekitar adalah titipan dari-Nya. Amanah yang harus dijaga dan dipergunakan sebaik-baiknya di jalan-Nya. Amanah yang berupa harta, pangkat, pasangan hidup, dan keturunan. Media yang dipinjamkan Allah, agar kita memanfaatkannya untuk menabung pahala sebanyak mungkin untuk bekal perjalanan menuju pengadilan tertinggi di akhirat kelak.

Yang berhak untuk sombong itu cuma Allah SWT, sebab Dialah pemilik semua yang ada di langit dan di bumi. Manusia hanya makhluk ciptaan-Nya yang sama sekali tak punya hak untuk sombong.

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah