Pena Tua

Pena Tua
(sebuah prosa liris)

Tinta hitam, kadang biru, mengisi relung batangku. Bulu angsa serupa mahkota menjulang anggun di puncakku. Aku, tak sekadar piranti penggores aksara. Aku, pengubah peta, penggugah angkara, penabuh genderang murka!

“Lekaslah kau toreh lembar pakta ini! Jika perlu dengan tetes darahmu.”

Sang raja mendengus. Jarinya gemetar, separuh jiwanya telah tergadai. Aku tertawa melihat kebusukannya. Akulah saksi pengkhianatan terhadap tanah air yang sangat dia cintai.

Rakyatnya menangis pilu, bahkan darah tak lagi merah terperah penderitaan yang tak kunjung usai. Negeri mereka telah terjual. Murah. Entah kemana mereka akan mengadu. Semua diam membisu.

Tumpukan kitab menggunung hingga atap. Suram maktab terpendar lilin sang ulama. Ribuan ilmu termaktub di lembaran kulit domba. Aku, saksi kunci dari cahaya yang menguar dari jemari kurusnya.

“Hai, Sang Pemuka Agama! Kenapa kau boroskan tinta? Sedang mereka sibuk berpesta. Tak inginkah kau ikut serta?”
Setan mulai menebar jeratnya.

Aku lelah. Terperangah resah. Manusia saleh itu tak lagi istiqomah. Merah biru lembaran pemikat hasrat telah dikorah.

Aku, saksi bisu berpindahnya kecintaan. Ilahi, mohon tunggu, jangan Kau azab manusia ini. Aku tergugu, menangis pilu. Taubatlah di akhir usia, wahai Sang Tetua!

Kursi beludru dan meja mahoni. Bertahta megah di ruang direksi. Laba musti membumbung tinggi. Apa daya pemasukan kian sepi.

“Jangan kotori tintaku untuk manipulasi! Kau jahanam pengabdi materi!”

Aku berjenggit ngeri, sekali lagi jadi saksi korupsi. Moral dan harga diri? Sudahlah tak peduli. Gelimang porsekot dan suap begitu menggoda hati. Usah ingat ada azab menanti.

Sejarah dan aljabar diajarkan di sini. Ruang segiempat nan gerah penuh bangku dan meja. Tiga puluh anak mengernyitkan dahi. Tak lebih separo yang mengerti.

“Aku lebih suka meliukkan kuas menangkap bayang kuning pepohonan.” Kata siswa berambut poni.

“Aku bahagia saat bertasbih aksara, menulis roman ala remaja.” Siswi berkepang dua menyela.

Namun, apa daya. Mereka harus berjibaku dengan sesuatu yang tak mereka suka. Aku, lagi-lagi jadi saksi mata dan telinga, kekalutan anak bangsa. Korban carut marut sistem pendidikan yang tak bijaksana.

Kalimat tanpa makna tercipta dari orang yang mengaku pujangga. Aku muak melihatnya berbangga dengan kehebatan karyanya.

“Tak layak baca! Tulisanmu tak ada ujung pangkalnya! Hanya permainan kata!”

Tapi herannya, kitab itu terjual jutaan banyaknya. Orang-orang tertawa saat melahapnya. Ah, sebegitu murahkah selera sastra? Atau aku, pena tua yang tak paham perubahan era?

Namun, yang pasti ….

Dosa dan pahala kucatat silih berganti. Dua malaikat teliti merangkum semua hari. Tak sadarkah kalian, wahai makhluk penghuni bumi? Segala polah tak luput dari goresan tinta sejatiku.

Aku, pena tua dengan catatan yang abadi. Jangan sampai kau menyesal saat nanti kitabmu dari sebelah kiri.

rumediagrup/meikurnia