Pencongkel Jendela Kamar Indekos

Pencongkel Jendela Kamar Indekos

Oleh : Ribka ImaRi

Sore itu, setelah lelah bekarja seharian, seperti biasa Era pulang ke rumah indekosnya. Sebuah rumah indekos yang terbilang elit. Karena letaknya yang di tengah kota. Berada tak jauh dari kantor-kantor pusat pemerintahan Kota Padang. Baru sekitar satu minggu Era pindah ke rumah indekos barunya itu.

Semilir angin senja seakan mengerti tugasnya membawa pergi penatnya di sore menjelang magrib. Era melaju motor matic-nya yang keluaran terbaru, perlahan memasuki halaman indekos. Semarak bunga Euforbia yang sedang bermekaran milik Bapak indekos, seakan menari bersama menyambut kepulangan Era.

Lalu diparkirnya si matic putih di tempat biasanya. Setelah memastikan motornya sudah terkunci dengan baik, Era menuju kamar indekosnya yang berada di lantai dua, paling ujung. Era suka kamar itu. Karena letaknya paling ujung, Era merasa lebih privasi. Karena tak akan ada orang lain yang melewati depan kamarnya sebab memang paling ujung jadi tak ada lagi ruang selain kamar Era.

Pada tembok sebelah kiri kamar Era berbatasan langsung dengan tanah kosong di kavling sebelah rumah Bapak indekos. Sempat ada sedikit rasa was-was.

Tapi Era segera tenang saat melihat sisi luar balkonnya dilindungi kawat besi berduri sehingga tidak memungkin jika ada orang yang nekad naik ke atas dan loncat ke balkon itu. Karena pasti harus meloncati kawar berduri dan berkarat yang sudah lama terpasang.

Pertimbangan itulah yang membuat Era akhirnya mengiyakan penawaran calon bapak indekosnya. Seminggu yang lalu saat memberitahu bahwa benar ada kamar kosong tapi hanya tinggal kamar indekos lantai atas dan paling ujung.

Di lantai bagian bawah, juga berderet lima kamar yang di tempati oleh penghuni kamar indekos lainnya. Jadi berjumlah lima di lantai bawah dan lima di lantai atas. Terlihat sebuah bangunan rumah tambahan tapi permanen yang dipersiapkan sedemikian baiknya untuk kenyamanan penghuni indekos.

Dengan fasilitas lengkap kamar mandi di dalam. Dan juga sudah terpasang meteran listrik di luar setiap kamar. Sehingga memudahkan perhitungan pemakaian masing-masing penghuni. Jadi tak ada lagi keributan kecil akibat tidak jelasnya pemakaian penghuni indekos, seperti rumah indekos lain pada umumnya.

Total ada sepuluh penghuni indekos di sini. Karena setiap kamar hanya di huni oleh satu orang saja. Dan Era adalah penghuni terakhir yang masuk ke rumah indekos di Jalan Padang Pasir ini.

Pada sebuah kamar persis di bawah kamar Era, di huni oleh seorang teman indekos yang baru dikenalnya beberapa hari lalu. Sementara dengan yang lainnya Era belum sempat bertemu dan berkenalan. Mungkin akhir pekan nanti, pikirnya.

Sejak awal Era merasa nyaman tinggal di rumah indekos ini. Karena rumah indekos ini terpisah atap dengan rumah induk tempat Bapak indekos dan keluarganya tinggal.

Namun, ada satu kekurangannya. Penghuni indekos harus tetap masuk melalui pintu samping menuju ruang tengah yang langsung terhubung dengan pintu belakang rumah Bapak indekos yang berdekaran dengan anak tangga menuju lantai dua. Jadi semacam jalan zig-zag saja.

Mau tidak mau, setiap akan keluar atau masuk area kost, akan tetap bertemu dengan Bapak Kost di sudut ruangan, yang sejauh mata memandang, sedang asyik duduk di ruang TV. Mungkin memang sudah di setting seperti ini supaya lebih mudah mengawasi keluar masuk semua penghuni kost dibelakang rumah induk.

“Entah apa pekerjaan Bapak indekosku ini, perasaan cuma duduk-duduk di depan TV. Apa ini cuma perasaanku saja” gerutu Era saat berpapasan tatap mata tajam milik Bapak indekos. Karena sudah empat hari sejak Era tinggal di rumah indekos ini, saat sepulang kerja hampir selalu bertemu tatap mata dengan Bapak indekosnya dalam keadaan seperti orang yang tidak ada pekerjaan lain selain duduk di ruang TV.

Tak ada senyum tersungging. Bahkan anggukan kepala tanda sapa hormat dari Era kepada Bapak indekos pun tak mampu membuat beliau mengeluarkan sepatah kata dari bibir tipisnya yang terkesan ketus. Dingin. Membuat bulu kuduk Era seperti mulai bergidik. Takut. Karena tatapan mata tajam itu seperti menyiratkan suatu makna yang Era belum bisa memahaminya sore itu.

Hanya jawaban-jawaban singkat dari Bapak indekost yang Era pernah dengar seminggu lalu, awal menunjukkan kamar yang masih kosong. Setelahnya tak ada suara sama sekali. Walaupun sekedar berdehem.

Era mempercepat langkah kakinya melewati ruang tengah menuju pintu belakang yang letaknya tak jauh dari anak tangga menuju kamar indekos area atas. Melewati teras depan empat kamar indekos milik teman-temannya, akhirnya sampai juga Era di depan teras kamar indekosnya yang memang letaknya paling ujung.

Dengan tergesa-gesa diambilnya kunci kamar indekosnya dari dalam saku celana kerjanya. Yang Era satukan dengan kunci motor matic-nya. Era ingin segera masuk ke dalam kamar indekosnya. Ingin segera minum air putih yang sejuk untuk melegakan tenggorokannya yang tercekat akibat tatapan Bapak indekos barusan.

“Sial, pakai jatuh segala nih kunci” Gerutunya kembali saat itu.

Era menunduk mengambil kunci kamar indekosnya yang jatuh di samping sepatunya. Saat kembali mendongakkan kepalanya untuk ke posisi badan tegap seperti semula, betapa kaget jantungnya saat melihat sesosok pria di sebrang sana sedang memperhatikan diri Era secara seksama.

Ya, pria berbadan tegap, berkulit sawo matang, yang menyilangkan kedua tangannya di dada, berada di balkon samping rumah setelah tanah kosong, sebelah rumah Bapak indekos. Sosok itu masih tampak jelas terlihat meski hari menjelang magrib. Bukan sekedar klebatan bayangan belaka pikir Era. Karena di Kota Padang, matahari terbenam lebih lambat. Jadi masih belum terlalu gelap, meskipun sudah lewat jam enam sore waktu adzan salat magrib berkumandang.

Entah sudah berapa lama pria itu memperhatikan Era. Tak ada eskpresi. Datar. Asing. Menghadirkan perasaan sedikit takut. Merinding. Bergidik lagi. Persis saat berpapasan yang tak di sengaja bertatapan mata dengan Bapak indekos tadi di ruang TV di lantai bawah.

Demi membuang rasa takutnya, Era segera membuka pintu kamar indekosnya, mencabut anak kunci dari lubang kunci di bagian luar, langsung menguncinya kembali dari bagian dalam.

“Fiuuuhh… Alhamdulillah sampai juga di kamar” hela napas panjang pertanda lega. Merasa aman karena semua sudah terkunci rapat. Era berusaha menghentikan pikiran anehnya untuk membayangkan kejadian yang bukan-bukan. Lalu Era segera mengambil air minum yang sejak tadi sudah dibayangkan kesegarannya. Diteguknya dengan segera. Bismillahirrahmanirrahim… Luruh semua rasa takut bersamaan dengan luruhnya dahaga yang meraja sedari keluar kantor tadi.

Era melanjutkan beberes dan bebersih diri, lalu salat magrib. Tak lama Era duduk santai sebentar sambil membaca dan membalas beberapa pesan di handphone-nya. Tak terasa waktu salat isya pun tiba. Segera Era salat isya agar bisa langsung tidur malam sesaat setelah tunai semua kewajiban salat lima waktunya hari ini. Lalu direbahkan tubuh penatnya di tempat tidur kamar indekosnya.

Malam itu, cuaca terasa sangat panas. Sepertinya mau hujan. Gumamnya. Biasanya kalau cuaca panas begini, Era terbiasa tidur hanya menggenakan pakaian tidur dengan celana pendek di atas lutut dan kaos tanpa lengan. Namun entah mengapa malam itu, dirinya terpikir untuk mengenakan kaos lengan panjang dan celana panjang juga.

Benar saja… Hujan turun sangat derasnya mulai dini hari. Era terbangun waktu jam menunjukkan pukul 2.30 pagi di handphone-nya.

Di saat yang bersamaan, dirinya mendengar suara mencurigakan dari balik jendela.

Dengan memberanikan diri, Era bangun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah jendela dan menyibak gorden jendela kamar indekosnya. Lalu berteriak sekencang-kencangnya.

Jantung Era seperti mau lepas menahan kaget mendapati sesosok laki-laki sedang dalam posisi berjongjok dan tengah berusaha mencongkel jendela kamarnya. Era sudah berusaha teriak sekeras-kerasnya. Tapi karena hujan sedang turun sangat deras bak air yang tumpah dari langit, sepertinya tak ada seorangpun yang mendengar teriakan Era kecuali si pencongel jendela kamar kost-nya.

Seketika tubuh Era jatuh lemas terkulai bagai tak bertulang demi mendapati ada sesosok laki-laki di depan jendela kamar indekosnya ketahuan sedang berniat berbuat jahat pada dirinya di pagi buta.

*Kisah nyata temen indekosku yang bernama Era. Entah dimana ia berada sekarang.

#NubarSumatera
#ChallengeMenulis
#Day30
#TemaThriller
#22Febuari2019

Sumber gambar : Google

rumahmediagroup/ribkaimari